Ketika Warga Bandung Bercerai dengan Sungai Citarum, Menelusuri Ingatan melalui Siasat Air
Masa lalu selalu memikat untuk mencari gema yang tersembunyi dalam lanskap Sungai Citarum. Dahulu hubungan warga Bandung dengan sungai ini ibarat dua sisi koin.
Penulis Bawana Helga Firmansyah19 Juni 2026
BandungBergerak - Jejak hubungan masyarakat dengan Sungai Citarum yang perlahan memudar akibat industrialisasi menjadi benang merah pameran Siasat Air di Gelanggang Olah Rasa, Bandung. Melalui arsip, instalasi, fotografi, dan dokumenter, dua seniman residensi, Arif Furqan dan Eko Agung Sutrisno, menelusuri perubahan lanskap Curug Jompong di Kabupaten Bandung, dari ruang hidup yang lekat dengan aktivitas warga menjadi wilayah yang identik dengan pencemaran dan ekspansi industri.
Salah satu titik pijak riset mereka adalah lukisan karya seniman Belgia A.J. Payen, guru Raden Saleh, yang merekam kehidupan masyarakat di sekitar Curug Jompong pada abad ke-19. Dalam lukisan tersebut, warga tampak menjala ikan nilem di antara derasnya aliran sungai dan bebatuan curam yang membentuk aliran Citarum.
"Dari lukisan A.J. Payen itu saya tertarik bagaimana dia juga menangkap aktivitas warga gitu, salah satunya menangkap ikan, ikannya jenis nilem, terus bagaimana dia menggambarkan warga bermain musik," ujar Eko Agung Sutrisno.
Namun pemandangan yang direkam Payen berbeda jauh dengan kondisi yang ditemui para seniman saat melakukan residensi selama tiga bulan. Curug Jompong yang berada di Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, kini menyimpan jejak panjang perubahan ekologis dan sosial yang berlangsung sejak kawasan tersebut berkembang menjadi wilayah industri.
Dari lokasi inilah muncul pertanyaan utama yang melandasi proyek Siasat Air: bagaimana masyarakat bisa terpisah dari sungai yang selama berabad-abad menjadi bagian penting kehidupan mereka?
Pameran yang berlangsung hingga 31 Mei 2026 itu menjadi ruang untuk menyampaikan hasil penelusuran tersebut. Menggunakan medium seni yang bertumpu pada arsip, artefak, ingatan warga, dan observasi lapangan, Arif Furqan dan Eko Agung Sutrisno berupaya mengangkat kembali memori kolektif yang perlahan menghilang.
Kurator pameran, Doni Ahmad, menjelaskan proyek ini tidak bertujuan menyusun sejarah yang utuh. Sebaliknya, para seniman mencoba merangkai kembali serpihan-serpihan yang tersisa untuk memahami perubahan hubungan manusia dengan sungai.
"Di titik inilah arsip dan artefak menjadi penting-bukan sebagai kebenaran yang final, tapi sebagai celah kemungkinan yang dapat disusun ulang,” jelas Doni Ahmad.
Menurut Doni, riset tersebut sekaligus membuka sisi lain Bandung yang kerap luput dari perhatian. Berbeda dengan kawasan utara yang identik dengan citra kota wisata dan ruang publik yang ramai, wilayah-wilayah di pinggiran Bandung justru menyimpan banyak jejak perubahan sosial dan ekologis yang jarang dibicarakan.
“Di pinggiran ini tuh bukan jadi bagian etalase pentingnya Kota Bandung - Bandung Raya, gitu. Ya etalasenya ya kita tahu, Bandung Raya sekitar tengah gitu Braga, Dago. Sedangkan kawasan yang dianggap belakang seperti kami, Cipatik, Soreang dan lain-lain tuh kerap dianggap minor,” tuturnya
Program residensi ini mempertemukan Arif Furqan, yang banyak mengeksplorasi isu ingatan, sejarah, dan identitas melalui fotografi serta instalasi, dengan Eko Agung Sutrisno yang selama ini bekerja melalui performance art, intervensi berbasis lokasi, arsip, dan spekulasi sejarah. Selama tiga bulan, keduanya mengembangkan riset artistik yang mencoba membaca kembali hubungan masyarakat dengan Sungai Citarum melalui pendekatan lintas disiplin.

Biru Tarum yang Memudar
Di salah satu ruang pamer, instalasi berjudul Yang Terlihat Mengalir Adalah Luka (2026) menyambut pengunjung dengan susunan kawat berduri, kain, dan besi yang membentuk aliran menyerupai sungai.
“Bahwa kelihatannya dia seperti aliran tapi dia sebenarnya ada luka - maksudnya aliran itu menjadi berbahaya gitu, menjadi dapat melukai, atau bahkan juga, ya aliran itu adalah luka yang diciptakan oleh manusia,” demikian kalimat yang disampaikan Arif Furqan, seniman kelahiran kota Malang, dalam menggambarkan realitas sungai Citarum.
Bagi Arif, pengalaman menyusuri Citarum menghadirkan kontras yang kuat dengan masa kecilnya di Malang. Tumbuh dekat dengan Sungai Brantas, ia terbiasa berinteraksi dengan sungai sebagai ruang bermain, menjelajah bendungan, hingga mencari sumber mata air.
Pengalaman itu membuat perjumpaannya dengan sungai Citarum terasa berbeda.
“Kalau kita mau menghindari cara pandang yang antroposentris, memang manusia tuh sebenarnya adalah perusak utamanya, yang menyebabkan polusi itu. Tetapi bagaimanapun juga, saya baru kali ini, karena saya adalah pendatang, saya memiliki pengalaman dengan sungai-sungai yang bukan Citarum, saya merasa baik-baik saja, nyaman-nyaman saja, tapi baru kali ini saya merasa sangat berjarak dengan sungai, sangat berhati-hati dan saya merasa bahwa sungai ini bisa melukai saya," jelas Arif.
Dalam karya tersebut, Arif menggunakan kain yang diwarnai secara alami menggunakan tarum atau indigofera. Kain-kain itu menjuntai membentuk gradasi biru yang perlahan memudar. Baginya, warna tersebut menjadi simbol identitas yang pernah melekat pada nama Citarum.
Di sisi lain, kawat berduri yang disusun sejajar dengan kain merepresentasikan berbagai zat pencemar yang membuat sungai berubah menjadi ruang yang berbahaya. Pertemuan kedua material itu menyiratkan hubungan masyarakat yang semakin menjauh dari aliran air yang dahulu menopang kehidupan mereka.
Gagasan serupa hadir dalam karya Spesimen Citarum I (2026). Menggunakan teknik cyanotype yang dipopulerkan Anna Atkins pada abad ke-19 untuk mendokumentasikan spesimen tumbuhan, Arif justru mencetak fragmen sampah dan limbah yang ia temukan sepanjang sungai.
Alih-alih menampilkan kekayaan hayati, karya tersebut menghadirkan potongan-potongan material yang kini mendominasi lanskap Citarum.
“Bagi saya adalah dia artefak penanda identitas masyarakatnya. Kalau dulu nama Citarum menandakan identitas karena ada banyak tanaman tarum, sekarang mungkin itu udah nggak lagi relevan. Karena kalau kita melihat identitas sungai dari apa yang ada di sungai, yang ada adalah sampah dan limbah industry,” paparnya.
Jika Arif membaca perubahan Citarum melalui material dan lanskap, Eko Agung Sutrisno menelusurinya melalui arsip, cerita warga, dan ingatan kolektif.
Salah satu temuan yang menarik perhatiannya adalah kisah Munding Dongkol, sosok mitologis yang dipercaya warga sebagai penjaga Sungai Citarum di kawasan Curug Jompong.
Dalam potongan surat kabar tahun 1970-an yang ditemukan selama riset, diceritakan puluhan pekerja sebuah pabrik tekstil mengalami kerasukan massal. Produksi pabrik berhenti. Sejumlah pekerja berteriak histeris, mengeluarkan suara-suara aneh, dan mengaku melihat sosok kerbau hitam di sekitar bangunan.
Dalam penafsiran masyarakat setempat, peristiwa tersebut dikaitkan dengan kemunculan Munding Dongkol sebagai respons atas gangguan terhadap wilayah yang dianggap sakral.
“Dalam cerita warga, Munding Dongkol adalah makhluk siluman ya, mitos di mana dia menjaga sungai Citarum di kawasan Curug Jompong. Siluman ini tuh muncul kalau si sungainya sudah kotor atau ada limbah yang masuk gitu. Dia akan muncul untuk memperingati kalau bakal ada bencana,” ungkap Eko.
Arsip lain yang ditemukan Eko di sebuah bangunan terbengkalai memperlihatkan ilustrasi karya seniman Sugandi tentang sosok tersebut. Digambarkan sebagai tubuh manusia berkepala kerbau dengan lidah menjulur, tanduk besar, dan gigi menyeringai.
Bagi Eko, kisah Munding Dongkol tidak berhenti sebagai mitos. Dalam berbagai penuturan warga, sosok itu pernah menjadi bahasa protes terhadap perubahan yang dibawa industrialisasi.
Beberapa warga bahkan mengingat adanya rencana pementasan kesenian bangbarongan saat Suharto, pemimpin Orde Baru, berkunjung untuk meninjau kawasan industri di sekitar Citarum. Namun pertunjukan tersebut disebut tidak pernah terlaksana.
"Beberapa ingatan warga bilangnya itu enggak pernah dipentaskan, karena pertunjukannya sempat dikritik, dicegat oleh Kodim," kenangnya.
Baca Juga: Lukisan-lukisan Menolak Kekerasan Seksual di Thee Huis Gallery
Memaknai Pameran Lukisan Mahasiswa Seni Asal Bandung dan Yogyakarta

Obituari Sugandi dan Lanskap yang Hilang
Perubahan lanskap yang berlangsung sejak 1970-an juga terekam dalam karya-karya Sugandi (1949–1996), seniman Seni Lingkung Jelegong yang banyak mendokumentasikan kehidupan masyarakat sekitar sungai.
Dalam berbagai arsip visualnya, Sugandi merekam masa ketika sawah masih mendominasi kawasan tersebut, ketika kerbau berkubang di sungai, dan ketika masyarakat merayakan panen melalui kesenian tradisional.
Namun seiring berkembangnya kawasan industri tekstil, lanskap itu berubah. Lahan pertanian dijual, jalan diperlebar, dan pabrik-pabrik berdiri di bekas area persawahan.
Migrasi tenaga kerja meningkat, termasuk keluarga Eko yang datang dari Cilacap untuk bekerja di kawasan tersebut.
Perubahan itu tampak jelas dalam karya-karya Sugandi.
“Kalau lihat di gambar-gambarnya, Sugandi itu menarik, ada satu part gambarnya, warga kalau di pertanian kalau moe nya atau menjemur padi sebelum dimasukkan ke karung itu di depan rumah pakai garuk gitu ya istilahnya. Nah, di gambarnya Sugandi menarik bahwa di tahun 80-an kalau enggak salah itu berubah. Menggaruknya tuh sudah bukan menggaruk padi tapi menggaruk sisa-sisa kain,” papar Eko.
Bagi Eko, arsip visual tersebut menjadi penanda bagaimana hubungan masyarakat dengan tanah, pertanian, dan sungai perlahan berubah mengikuti perkembangan industri.
Ironisnya, nama Sugandi sendiri nyaris tidak tercatat dalam sejarah seni rupa Indonesia. Padahal melalui karya-karyanya, ia meninggalkan catatan visual penting mengenai transformasi sosial dan ekologis di Jelegong.
Ingatan tentang dirinya kini tersisa dalam arsip-arsip yang mulai rapuh dimakan waktu.
Melalui dokumenter The Dance We Refused to Remember (2026), Eko bersama Yustinus Kristianto, Faisal Ramdhani, Rama Saputra, Arif Furqan, dan Asep Suteja mencoba merekonstruksi kembali tarian bangbarongan yang telah lama hilang dari ingatan kolektif warga.
Menurut Eko, upaya merawat tradisi tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan.
Namun ia menilai pelestarian budaya dan pemulihan ekologi membutuhkan komitmen yang lebih kuat dalam penegakan kebijakan lingkungan, terutama terkait pencemaran sungai dan perlindungan kawasan hulu.
“yang selalu luput adalah Penegasan dari peraturan tersebut, menjaga kawasan hulu, Citarum, atau menjaga kawasan hulu Utara, pepohonan, dan lain-lain,” katanya.
Pada akhirnya, arsip, artefak, dan cerita warga yang menjadi fondasi Siasat Air bukan sekadar upaya mengenang masa lalu. Semuanya menjadi cara untuk memahami bagaimana pembangunan mengubah hubungan manusia dengan sungai, sekaligus mempertanyakan masa depan yang sedang dibangun hari ini.
Cerita seperti apa yang akan mengalir di Citarum pada masa mendatang? Di tengah kebutuhan pembangunan dan pertumbuhan industri, pertanyaan itu terus mengemuka.
“Bukan berarti saya anti pembangunan. Tapi pembangunan seperti apa yang bisa merawat ekologinya, yang bisa selaras dengan ekologinya,” ujar Eko.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


