CERITA GURU: Beragam Cara Meneguhkan Tradisi Ilmiah di Sekolah
Konsep pembelajaran berbasis proyek menjadi peneguh tradisi ilmiah di sekolah. Tugas guru menjaga ekosistem akademik secara ilmiah di sekolah.

Hafidz Azhar
Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung
8 Juli 2026
BandungBergerak – Saya datang saat anak-anak sudah berkumpul di halaman sekolah. Wajah-wajah mereka tampak tegang. Ada yang murung, ada yang mulutnya terlihat berkomat-kamit seperti menghafal. Sebagian lagi duduk berjejer sambil berceloteh, sebagian yang lain memegang bundelan tipis seraya memerhatikan penuh tatapan. Semuanya mengenakan jas berwarna hitam dengan celana krem berbahan katun.
Tidak lama setelah saya tiba, Bu Kokom memberikan aba-aba dan mempersilakan kepada semua siswa-siswi untuk memasuki ruangan. Bu Kokom selalu gesit menyiapkan apa pun, dari urusan pelajaran sampai urusan setelan. Itu karena Bu Kokom membidangi bagian penting di sekolah kami: bidang kurikulum. Sementara ini tahun kedua saya di bawah arahannya.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Kala itu, hanya kelas 12 yang berada di sekolah. Tidak ada seorang pun yang merasa aman dari bayang-bayang. Mereka gusar untuk menghadapi ujian. Sekalipun gelisah, tampak momen haru setelah satu per satu dari mereka berhasil mencapai langkah pamungkasnya. Ada ucapan selamat dan foto bersama, usai sidang karya tulis hari itu dilalui.
Baca Juga: CERITA GURU: Rencana Mengajar seperti Persiapan Memasak, Profesionalisme Guru dalam Perspektif Praktis
CERITA GURU: Transformasi Peran Guru di Era Akal Imitasi
CERITA GURU: Kompetensi Digital Guru Bukan Sekadar bisa Pakai Aplikasi
Sidang Dua Sesi
Laiknya ujian skripsi, sidang karya tulis digelar untuk menempuh ujian akhir kelas 12 di Madrasah Aliyah PPI 24 Rancaekek. Kiranya, tahapan ini dianggap yang paling berat. Beberapa siswa pernah mengeluhkan hal ini. Bagi mereka, pembuatan karya tulis tidak sekadar mengandalkan instrumen pengetahuan tetapi juga menyiapkan mental agar karya tulis selesai. Sekalipun itu bentuk keluhan, mereka mengakui banyak belajar dari setiap proses penulisan dan penelitian untuk menghasilkan karya yang memuaskan.
Sebelum sidang, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pertama, mengajukan topik penelitian. Pada tahapan ini, siswa-siswi tidak terpaku pada satu aspek kajian dan dibebaskan untuk meneliti apa pun sesuai ketertarikan. Misalnya, karya tulis berjudul "Pengaruh Aplikasi Fintech terhadap Minat Investasi: Studi Pengguna Fintech di Kalangan Pemuda di Ranca Kalong, Kabupaten Sumedang". Karya tulis ini digarap oleh Humam Gazali dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan mengambil sampel para pelajar dan mahasiswa di wilayah Rancakalong, Sumedang.
Kedua, menentukan pembimbing. Pemilihan pembimbing pada mulanya diajukan oleh siswa-siswi, lalu ditetapkan oleh koordinator karya tulis untuk diselaraskan dengan masing-masing bidang garapan guru. Ketiga, menjalani bimbingan selama kurang lebih satu bulan. Setelah dinyatakan laik, pembimbing berhak menyetujui siswa-siswi untuk mengikuti sidang.
Di Madrasah Aliyah PPI 24 Rancaekek, sidang karya tulis dibagi kepada dua sesi. Sesi pertama, dibagi ke dalam sejumlah majelis. Tiap-tiap majelis diuji oleh dua penguji. Dalam satu ruangan, biasanya, terdapat beberapa majelis. Ada yang menguji dengan santai, ada juga yang dicecar oleh beragam pertanyaan. Pada sesi ini setiap majelis diberi waktu 40 menit: 15 menit untuk pemaparan, sisanya untuk komentar dan tanya-jawab.
Sesi kedua, sidang terbuka. Sesi ini menampilkan 8 karya tulis pilihan yang ditentukan oleh koordinator karya tulis. Guru-guru senior yang concern di bidangnya lazim menjadi penguji dalam sidang ini. Tahun ini ada empat penguji yang terlibat dalam sidang terbuka. Masing-masing melontarkan pertanyaan dan komentar tajam dengan disaksikan oleh seluruh peserta sidang bersama para orang tua.
Tradisi Ilmiah di Sekolah
Hampir di seluruh madrasah aliyah Persis, pembuatan karya tulis wajib diikuti menjelang kelulusan. Tradisi ini sudah lama masuk dalam skema kurikulum pendidikan Persis dan terus melakukan pembaruan secara teknis. Di PPI 24 sendiri, sidang karya tulis semula digelar secara semi-formal. Meski demikian garapan penelitian dilakukan dengan serius oleh setiap siswa. Baru dua tahun belakangan sidang karya tulis diadakan terbuka dan cukup ketat, bahkan berlangsung hingga malam hari.
Muncul pertanyaan, apakah tradisi seperti ini diterapkan juga di sekolah lain? Saya kurang tahu. Beberapa alumni sekolah umum yang saya temui menyatakan tidak pernah mengalami penelitian sebagai syarat kelulusan. Yang pasti, ada satu sekolah di Bandung yang sempat diceritakan kawan. Sebut saja, SMP Semi Palar. Konon, di sekolah itu siswa-siswi mengerjakan eksplorasi ke suatu kawasan yang jauh dari perkotaan. Umpamanya mereka menjelajah ke Kanékés, Banten. Penjelajahan itu kelak dituliskan dalam bentuk laporan, makalah bahkan buku sebagai bentuk pertanggungjawaban. Karena penasaran, saya lalu mengandalkan informasi lewat mesin pencarian Google. Dalam situs resminya disebutkan Semi Palar didirikan tahun 2006 dan menekankan proses pembelajaran berbasis proyek. Hal ini selaras dengan keterangan yang saya dengar dari seorang kawan mengenai pembelajaran berbasis proyek yang ditetapkan dalam suatu penjelajahan ilmiah di Semi Palar.
Terlepas dari sekolah mana yang menganut pembelajaran berbasis riset, hal ini telah mengindikasikan adanya tradisi ilmiah di sekolah. Sejauh ini banyak orang menganggap ekosistem akademik di sekolah lebih banyak belajar di kelas ketimbang melakukan upaya penelusuran ke lapangan. Pada kasus yang lain, ada juga yang melakukan praktik kerja lapangan. Biasanya berlaku di sekolah menengah kejuruan yang memfokuskan pada jurusan tertentu dan telah dikukuhkan secara sistemik. Meski praktik kerja lapangan tidak selalu berdasar pada kaidah ilmiah secara ketat, hal tersebut menjadi gambaran bahwa di sekolah ada juga yang berpatok pada pembelajaran langsung di tengah masyarakat. Apalagi konsep praktik kerja lapangan bersandar pada alasan yang kuat agar terhubung dengan profesi setelah lulus.
Demikianlah, konsep pembelajaran berbasis proyek jelas meneguhkan tradisi ilmiah di sekolah. Baik proyek penjelajahan seperti di SMP Semi Palar maupun proyek penelitian yang output-nya menghasilkan karya tulis. Selain diterapkan secara sistemik, saya juga menemukan beberapa guru yang menggunakan metode belajar di kelasnya dengan cara ilmiah. Sebut saja, di antaranya, Nurul Maria Sisilia, guru Bahasa Indonesia di SMK Gunadarma, Cicalengka.
Sudah dua tahun Nurul mengajar di SMK Gunadarma. Tahun ini kali kedua ia menerapkan pembuatan karya tulis ilmiah untuk kelas 11. Biasanya, Nurul menugaskan pembuatan karya tulis ini menjelang akhir semester kedua dengan format bimbingan dan presentasi. Apa yang dilakukan Nurul merupakan satu dari deretan contoh guru yang meneguhkan tradisi ilmiah di sekolah lewat metode belajarnya. Bukan kebetulan dan bukan juga paksaan karena sistem yang berlaku. Menjaga ekosistem akademik secara ilmiah, sebetulnya, tugas semua guru di sekolah. Jangan sampai, mengajar sekadar formalitas di kelas.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


