SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Gerakan Balada di Bandung Mencari Ruang #1
Dari Balada Siluman Jumat Tapi Sore menuju ManjingManjang, titik awal perjalanan gerakan balada di Bandung untuk menjaga ruang perjumpaan.

Abah Omtris
Musisi balada Bandung
31 Juli 2026
BandungBergerak – Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota yang melahirkan berbagai gerakan kebudayaan. Banyak di antaranya tidak tumbuh dari gedung-gedung megah atau lembaga yang mapan, melainkan dari kampus, sanggar, warung kopi, taman kota, hingga ruang-ruang sederhana yang dibangun oleh semangat kebersamaan. Di kota ini, kebudayaan sering kali bertahan bukan karena kelimpahan fasilitas, melainkan karena adanya orang-orang yang percaya bahwa perjumpaan harus terus dirawat.
Tradisi itulah yang juga menghidupi perjalanan musik balada.
Pada masanya, musik balada akrab dengan ruang-ruang kampus dan komunitas. Ia tidak sekadar menghadirkan lagu, tetapi juga percakapan tentang sastra, kemanusiaan, kritik sosial, dan harapan. Sebuah pertunjukan sering kali berlanjut menjadi diskusi yang panjang. Lagu tidak berhenti ketika musik usai dimainkan; ia terus hidup dalam perbincangan, perdebatan, dan perenungan.
Memasuki pertengahan dekade 2010-an, ruang-ruang semacam itu mulai semakin jarang ditemui. Kegiatan yang dahulu rutin berlangsung perlahan meredup. Bukan karena musisinya berhenti berkarya, melainkan karena ruang-ruang perjumpaan semakin sulit dipertahankan. Di tengah situasi itulah muncul kegelisahan bersama: bagaimana menjaga agar musik balada tetap memiliki ruang hidup di Bandung?
Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Ruang Hidup Bandung dan Amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945
SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Barometer Musik ke Barometer Algoritma
SUDUT LAIN BANDUNG: Balada dan Ingatan Sebuah Kota
Manjing Manjang
Pada penghujung 2017, kegelisahan itu mempertemukan sejumlah musisi balada dalam sebuah obrolan di kediaman Pidi Baiq. Dari perjumpaan tersebut lahirlah sebuah kegiatan bernama Balada Siluman Jumat Tapi Sore. Usianya memang tidak panjang, tetapi ia menyisakan satu kesadaran penting: yang dibutuhkan bukan hanya sebuah acara, melainkan sebuah gerakan yang mampu menjaga kesinambungan perjumpaan.
Kesadaran itu kemudian berlanjut dalam sebuah pertemuan di kawasan Turangga. Adew Habsta, Trisno Yuwono, Ovick Rozensky, Ganjar Noor, bersama beberapa kawan lainnya kembali duduk melingkar, mencari cara agar musik balada tidak kehilangan tempat untuk bernapas. Dari pertemuan sederhana itulah lahir sebuah nama yang kemudian dikenal sebagai ManjingManjang.
Sejak awal, ManjingManjang tidak dibangun sebagai organisasi yang bertumpu pada seorang tokoh. Ia tumbuh melalui semangat kolektif dan kolegial. Gagasan dirumuskan bersama, pekerjaan dikerjakan bersama, dan keputusan lahir melalui musyawarah. Tidak ada keinginan membangun hierarki yang kaku. Yang ingin dijaga adalah rasa memiliki terhadap sebuah gerakan.
Prinsip yang dipegang pun sederhana: berangkat dari yang ada.
Bagi ManjingManjang, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Ketika tidak memiliki sekretariat, taman kota menjadi ruang berkumpul. Ketika tidak ada panggung, kedai-kedai kecil menjadi tempat berbagi karya. Ketika fasilitas terbatas, yang diperkuat adalah gotong royong dan persahabatan.
Setiap Senin sore, taman di depan Gedung Perpustakaan Kota Bandung di Jalan Seram menjadi titik perjumpaan. Di sanalah kegiatan bulan berikutnya dirancang. Lagu-lagu baru diperdengarkan, puisi dibacakan, lirik didiskusikan, aransemen dikritisi, dan gagasan-gagasan dipertukarkan. Tradisi yang kemudian akrab disebut tadarus karya tumbuh secara alami sebagai bagian dari proses belajar bersama.
Perjumpaan itu tidak pernah hanya berisi musik.
Di sela-sela petikan gitar dan secangkir kopi, nama-nama seperti Bob Dylan, Victor Jara, hingga Sixto Rodriguez kerap hadir dalam percakapan. Bob Dylan menjadi contoh bagaimana lagu dapat menjelma sastra yang menyuarakan zaman. Victor Jara mengingatkan bahwa musik dapat menjadi keberanian untuk berpihak kepada kemanusiaan. Sementara kisah Sixto Rodriguez selalu menjadi penyemangat: seorang musisi yang tetap setia berkarya tanpa pernah mengetahui bahwa lagu-lagunya telah memberi harapan bagi begitu banyak orang di belahan dunia lain. Kisah-kisah itu memperkuat keyakinan bahwa nilai sebuah karya tidak ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh kejujuran dan kemampuannya menyentuh kehidupan.
Dalam banyak perjumpaan, kehadiran Mukti-Mukti juga memberi warna tersendiri. Sebagai salah seorang yang lebih dahulu menapaki jalan musik balada, ia tidak mengambil jarak dari generasi muda. Sebaliknya, ia hadir, berbagi pengalaman, memberi semangat, dan terus meyakinkan bahwa berkarya adalah perjalanan panjang yang harus dijalani dengan kesabaran. Regenerasi tidak berlangsung melalui ceramah, melainkan melalui kebersamaan yang terus dipelihara.
Ruang Perjumpaan
Dari taman, ManjingManjang kemudian berpindah ke berbagai kedai kecil di Kota Bandung. Setiap tempat yang bersedia membuka ruang menjadi rumah sementara bagi musik balada. Tidak semuanya nyaman. Pernah sebuah pertunjukan berlangsung ketika hujan turun deras. Atap kedai bocor, kursi-kursi harus dipindahkan, peralatan diamankan dari tetesan air. Namun acara tetap berlangsung hingga lagu terakhir selesai dinyanyikan.
Peristiwa-peristiwa kecil seperti itulah yang perlahan membentuk watak ManjingManjang.
Sedikit demi sedikit semakin banyak musisi, penyair, pegiat literasi, dan komunitas seni ikut bergabung. Teman-teman muda seperti Masgal membantu membuka jaringan ke berbagai ruang baru yang bersedia menjadi tempat perjumpaan. Selama lebih dari tiga tahun, ritme itu dijaga hampir setiap bulan. Bukan dengan kemewahan panggung, melainkan dengan ketekunan merawat kebersamaan.
Barangkali di situlah makna ManjingManjang sesungguhnya.
Ia tidak lahir karena memiliki segala yang dibutuhkan. Ia lahir karena memilih memulai dengan apa yang dimiliki. Yang dibangun bukan semata-mata sebuah komunitas musik, melainkan sebuah ekosistem perjumpaan, tempat karya diperdengarkan, gagasan dipertukarkan, dan harapan dirawat bersama.
Kelak, perjumpaan-perjumpaan sederhana itu akan melampaui bangku-bangku taman dan kedai-kedai kecil. ManjingManjang akan bertemu dengan semakin banyak komunitas, menghidupkan ruang-ruang baru, melahirkan berbagai kolaborasi, hingga akhirnya memperoleh pengakuan di ruang publik Kota Bandung.
Namun semua itu bermula dari keyakinan yang sederhana: kebudayaan tidak lahir karena menunggu ruang, melainkan karena keberanian menciptakan ruang untuk saling bertemu.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


