Ajip Rosidi, Bersemayam dalam Pertemuan Kembali Di Tengah Keluarga*
Kang Ajip bukan hanya memotivasi orang Sunda. Ia juga hendak menyeret kebudayaan lain untuk turut serta membangun kebudayaan nasional.

Sandewa Jopanda
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran (Unpad).
8 Agustus 2026
BandungBergerak – Kang Ajip mungkin sedang menyusuri Jalan Ka Sorga pada 29 Juli 2020. Jalan yang sama yang mungkin telah dilalui Pram, Pane, Tatengkeng, Jassin dan lainnya. Ketika sampai digerbang surga barangkali ia sudah disambut Trisnoyuwono, kepada kawannya itu ia bisa saja langsung memeluknya. Sesekali mungkin mereka berkumpul dan kelakar sembari menyeruput kopi, lalu berbincang santai perihal sastra Indonesia di taman surga.
Korupsi dan Kebudayaan, itulah buku kumpulan esai yang mengenalkan saya pertama kali pada Ajip Rosidi. Tema korupsi memang menarik perhatian saya, sehingga ketika seorang sastrawan bicara korupsi dalam karyanya, ia tentu saja memotret kehidupan sosial dengan pendekatan realistik. Faktanya memang Kang Ajip hidup melintasi zaman korup orde baru. “dosa terberatnya adalah meninggalkan mental korup” begitu tulisnya dibuku tersebut menyoroti rezim Soeharto zaman itu.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh peluang sekaligus tantangan, hari ini nyaris tak ada sastrawan muda yang boleh dibilang punya jiwa seni semenarik Kang Ajip. Banyak penulis introvert yang enggan membuka sedikit celah untuk diintip kehidupan pribadinya. Beberapa yang ekstrovert sangat terbuka namun itu dari saluran media sosialnya. Di kehidupan nyata mereka nyaris tak ada apa-apanya.
Kang Ajip beda, ia menampung belasan orang di rumahnya, baik itu di rumah Gang Natawijaya maupun di Gang Azmi. Di luar keluarganya, ada anak tetangga yang sedang studi, rekan sejawat yang juga bekerja dibidang seni, serta beberapa pemuda yang sedang belajar teater. Membayangkan isi rumah yang ditinggali belasan orang, apalagi hanya dengan modal menulis, kok sepertinya tidak lumrah. Nyatanya Kang Ajip tetap bergeming dengan keadaan penuh manusia di rumahnya, baik oleh orang yang menginap mingguan, bulanan, atau juga orang-orang yang datang sehari-hari, minta nasehat, belajar, bahkan sampai minta makan.
Jangan-jangan Kang Ajip korupsi?
Tentu saja tidak!
Baca Juga: Menggali Warisan Ajip Rosidi
Renaisans Sastra Sunda dan Ajip Rosidi
Merawat Jejak Ajip Rosidi
Karya Tak Bisa Berbohong
Kang Ajip bukan manusia tanpa integritas, toh walau dalam konfrontasi dengan HB Jassin, atau bahkan dalam sakit hatinya karena masalah di Dewan Kesenian Jakarta, Kang Ajip selalu percaya bahwa rezeki sudah diatur. Ngawadalkeun Nyawa, barangkali judul karyanya itu dapat menggambarkan dirinya yang tulus dan ikhlas. Lagi pula zaman itu dengan zaman ini tentu beda, dulu orang masih menggandrungi sastra. Meskipun persaingan ketat. Apalagi ia masih terbilang muda kala itu, sementara ia harus menghadapi penyair dan sastrawan angkatan 45, angkatan Pujangga Baru, dan sebagian angkatan Balai Pustaka.
Karya tak bisa berbohong. Kang Ajip di usia belia 16 tahun telah menarik perhatian sastrawan besar seperti Armijn Pane & J.E Tatengkeng. Keduanya berusia hampir setengah abad atau 3 kali lipat usia Ajip saat mengajak anak muda Sunda ini berbincang. J.E Tatengkeng tak hanya berbasa-basi, melihat potensi Kang Ajip ia pun mengajak Ajip ke Makassar untuk disekolahkan. Walaupun pada akhirnya Kang Ajip tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya karena tidak mengikuti ujian akhir.
Saya kira, ia sudah menyelesaikan kesumpekan hati dan pikirannya kala mencintai sastra. Orang seperti beliau bisa jadi telah melupakan wujud fisik yang memenuhi rumah dan dunia, ia mungkin hanya berpikir apalagi yang bisa ia bantu pada manusia-manusia yang menginap di rumahnya atau karya bagaimana yang bisa menunjukkan bahwa meski tak punya ijazah pun ia tak kan menjadi manusia yang gagal seperti Sangkuriang Kesiangan.
Semangat dan keyakinannya itu pula ia tebarkan dalam banyak momen, termasuk ketika ia memberikan pidato dalam penganugerahan Doktor Honoris Causa oleh Universitas Padjajaran. Kang Ajip tidak hanya bicara sastra, ia menggugah kebudayaan Sunda supaya terus berkontribusi pada kebudayaan nasional. Ia justru hendak menyampaikan dalam bahasa tersirat yang tak banyak orang dengarkan, “Jangan sampai Sunda hanya besar secara populasi, besarlah secara kontribusi. Jangan abaikan Budaya Sunda, kalau Budaya Sunda Hilang, nanti Indonesia juga bisa hilang”. Kang Ajip bukan hendak mengatakan Sunda adalah suku terhebat, apalagi mengatakan Jawa Barat sebagai tempat berkehidupan Orang Sunda paling krusial bagi Indonesia. Ia justru hendak mengatakan, sebagai suku terbesar kedua di Indonesia, kehilangan Sunda berarti Indonesia kehilangan satu identitasnya.
Alasan itu pula menurut saya mengapa para penulis dahulu menggunakan kata suku bangsa, bukan untuk mengada-ada secara leksikal atau gramatikal, melainkan untuk menghadirkan fungsi secara sosial dalam konsep persatuan. Suku (tribe) dan bangsa (nationality) dimaksudkan untuk mengikat keduanya sehingga muncul rasa persatuan yang dirajut dalam bahasa nasional. Banyaknya suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat di Indonesia, jelas menjadi bahaya jika tidak dipersatukan secara sosial. Wajar kalau kemudian dalam orasinya Kang Ajip yang berjudul “Urang Sunda di Lingkungan Indonesia”, ia menekankan pentingnya memajukan Kebudayaan Sunda, dan tidak perlu sentimen dengan mengatakan hal tersebut sebagai provinsialistis. Bagi saya yang juga bukan orang Sunda (bahkan secara de facto, tidak punya suku), itulah khazanah bangsa. Kontrol dan dukungan pemerintah kepada kebudayaan daerah paling-paling hanya dapat diejawantahkan lewat dinas terkait, selebihnya partisipasi masyarakat itu sendirilah yang lebih utama. Oleh karenanya kalau Kang Ajip mempertanyakan di mana Sunda, mojang, dan pemuda priangan, ia sedang meminta agar orang Sunda keseluruhan dapat berkontribusi nyata. Jangan cuma berpangku tangan menunggu perhatian pemerintah, tetapi sebagai Anak Tanah Air dan Manusia Sunda, hendaklah mereka menggelorakan kebudayaannya.
Orang Sunda
Terlepas dari isi orasinya, bila orang mendengar dan membacanya secara positif, Kang Ajip bukan hanya memotivasi orang Sunda. Ia juga hendak menyeret kebudayaan lain untuk turut serta membangun kebudayaan nasional. Interpretasi ini tidak lepas dari apa yang terkandung dalam karya beliau, lagi pula selama ini ia juga menuliskan esai dan kritik tentang Indonesia, misalnya Cerita Pendek Indonesia, bahkan jika saat ini Bandung yang direpresentasikan oleh Persib dan Jakarta oleh Persija, Kang Ajip tidak menanam ketidaksukaan atau antipati pada Jakarta, ia malah menuliskan karya berjudul Jakarta dalam Puisi Indonesia. Sekali lagi, seperti itulah ia tulus dan ikhlas, bahkan bagi bangsa ini yang mungkin seadanya saja dalam mengingatnya.
Oleh karenanya, dalam niat luhurnya itu harusnya orang Sunda terus berkontemplasi pada budayanya. Apalagi saat ini, orang Sunda dan Jawa Barat tidak hanya besar secara kuantitas, melainkan sudah membesar secara kualitas, buktinya provinsi ini berada pada peringkat dua penghasil profesor atau guru besar di Indonesia. Kang Ajip saja yang Hidup Tanpa Ijazah, bisa dengan berapi-api membangkitkan sastra dan kebudayaan Sunda. Tentu dengan banyaknya akademisi, sastrawan, dan budayawan yang kini menghias tataran Sunda, cita-cita itu tak boleh meredup dan mati. Justru ia harus terus hidup bertumbuh, berkembang, dan lestari. Melestarikan kesundaan itu tak kan sesulit saat Kang Ajip melakukannya dalam rumah sempit, penuh manusia, dan berjibaku di bawah tekanan Orde Baru.
Jangan sampai inisiasi yang sudah dimulai Kang Ajip terutama pada lembaga-lembaga yang telah ia dirikan demi mendukung kebudayaan Sunda dan nasional, lenyap begitu saja. Sejak orasinya, 14 tahun lalu orang Sunda toh tetap tak kelihatan tampil digelanggang nasional. Sementara saat ini budaya Sunda seolah ditelan bumi, dikalahkan budaya asing. Bila Kang Ajip di sini, ia pasti meneriaki “di mana mojang dan pemuda priangan ketika budayanya dicabik-cabik?”
Begitulah kiranya ia menginginkan Pertemuan Kembali para sastrawan atau pegiat seni budaya di tataran Sunda. Tulisan ini barangkali hanya Pandangan Seorang Awam yang mengantarkan sekaligus mengenang kontribusi beliau. Namun bila forum itu dilangsungkan dan mendapat undangan Pesta pergumulan diskusi sastra, rasanya amat berbahagia dapat hadir Di Tengah Keluarga Sunda.
***
*Merupakan judul karya Ajip Rosidi yang dirangkai, Pertemuan kembali (Cerpen, 1962), dan Di Tengah Keluarga (Cerpen, 1956)
**Semua tulisan bercetak miring, merupakan karya-karya Ajip Rosidi.
*** *Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


