SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Ketika Ia Kehilangan Daya Spiritual
Bandung bukan kota yang kekurangan seniman dengan gagasan dan pengalaman yang beragam. Mereka tidak selalu memiliki akses pada pintu yang sama.

Abah Omtris
Musisi balada Bandung
29 Agustus 2026
BandungBergerak – Jika pada tulisan sebelumnya kita mempertanyakan kebudayaan yang semakin sering diperlakukan sebagai program, pada bagian kedua kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih jauh: apa yang terjadi pada manusia yang menjalankan kebudayaan itu sendiri?
Sebab sebuah sistem tidak pernah berjalan sendirian. Ia membutuhkan manusia yang bersedia menjalankannya, menyesuaikan diri dengannya, bahkan pada akhirnya menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Di sinilah persoalan kebudayaan menjadi lebih rumit.
Kita mungkin terlalu mudah menyalahkan birokrasi ketika kebudayaan berubah menjadi proyek. Padahal proyek itu juga membutuhkan seniman, komunitas, pengelola kebudayaan, dan berbagai pihak lain yang bersedia masuk ke dalam logikanya. Pemerintah menyediakan program, seniman mengajukan proposal, lembaga melakukan seleksi, kegiatan berlangsung, dokumentasi dibuat, laporan disusun, lalu semuanya selesai.
Siklus itu dapat berlangsung berulang-ulang tanpa pernah ada yang benar-benar bertanya apakah kebudayaan sedang tumbuh atau hanya sedang sibuk berkegiatan.
Karena itu, persoalannya tidak lagi semata-mata administratif. Ia mulai menyentuh sesuatu yang lebih dalam: orientasi batin manusia kebudayaan itu sendiri.
Sebab kemerosotan kebudayaan tidak selalu dimulai dari hilangnya kesenian. Ia dapat dimulai ketika manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk bertanya mengapa ia berkesenian, untuk siapa ia berkesenian, dan nilai apa yang hendak dipertahankannya melalui karya.
Seorang seniman tentu membutuhkan kehidupan yang layak. Ia membutuhkan ruang, fasilitas, penghargaan, bahkan dukungan finansial. Tidak ada yang keliru dengan itu. Negara bahkan mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan kehidupan seni dan kebudayaan tumbuh.
Yang menjadi persoalan adalah ketika proyek bukan lagi sarana untuk menopang kebudayaan, tetapi kebudayaan mulai menyesuaikan dirinya agar sesuai dengan kebutuhan proyek.
Pada titik tertentu, pertanyaan seorang seniman dapat berubah secara perlahan. Bukan lagi, “Apa yang sedang terjadi di masyarakat?”, melainkan, “Program apa yang sedang dibuka?” Bukan lagi, “Apa yang ingin saya katakan melalui karya?”, melainkan, “Karya seperti apa yang kemungkinan diterima?”
Perubahan itu mungkin tampak kecil. Tetapi dalam jangka panjang ia dapat mengubah watak kesenian.
Seniman mulai membaca selera lembaga. Komunitas mulai membaca bahasa proposal. Program mulai dirancang mengikuti indikator. Karya pun perlahan belajar berbicara dalam bahasa yang paling mudah diterima oleh sistem.
Pada akhirnya, kita tidak hanya memiliki budaya proyek.
Kita mulai memiliki seniman proyek. Bukan seniman yang berkarya karena proyek, tetapi seniman yang secara perlahan membiarkan proyek menentukan arah keberkaryaannya.
Di sinilah kata pacantel menjadi relevan. Ada hubungan antara seniman dan birokrasi yang memang diperlukan dan bahkan sehat. Tetapi hubungan itu dapat berubah menjadi keterikatan ketika keberlangsungan kehidupan berkesenian terlalu bergantung pada kedekatan dengan pintu-pintu kekuasaan dan pendanaan.
Masalahnya bukan seorang seniman menerima dukungan pemerintah. Masalahnya adalah ketika dukungan mulai menentukan keberanian.
Ketika sebuah karya harus terlebih dahulu dipastikan aman sebelum dilahirkan, ketika kritik dipertimbangkan berdasarkan siapa yang mungkin tersinggung, ketika hubungan baik dengan pejabat menjadi lebih berharga daripada hubungan jujur dengan kenyataan, maka yang perlahan hilang bukan sekadar kebebasan berkarya.
Yang hilang adalah jarak kritis. Padahal jarak itulah yang memungkinkan seniman melihat kekuasaan sebagai kekuasaan, masyarakat sebagai masyarakat, dan dirinya sendiri sebagai bagian dari persoalan.
Seorang seniman tidak harus selalu berseberangan dengan pemerintah. Tidak ada alasan mengapa pemerintah dan seniman harus selalu berada dalam posisi berlawanan. Pemerintah membutuhkan kebudayaan, dan kebudayaan membutuhkan dukungan publik.
Tetapi hubungan yang sehat membutuhkan jarak.
Dukungan tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan tidak boleh berubah menjadi kepatuhan. Dan seniman yang menerima dukungan negara tetap harus memiliki kemampuan untuk mengatakan tidak ketika sesuatu memang tidak benar.
Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: ManjingManjang, Ketika Perjumpaan Musisi Balada Menjadi Gerakan
SUDUT LAIN BANDUNG: Di manakah Makna Kemerdekaan?
SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Sebuah Proyek yang Kebetulan Berbudaya
Ketika Panggung Hanya Menjadi Dekorasi
Ada hal lain yang barangkali lebih menyedihkan: seni dalam berbagai acara resmi pemerintah sering kali hanya ditempatkan sebagai pelengkap kemeriahan.
Ia hadir untuk membuka acara, mengisi jeda, mencairkan suasana, atau membuat sebuah kegiatan tampak lebih semarak. Setelah pertunjukan selesai, seniman turun dari panggung, acara kembali kepada agenda utamanya, dan pesan yang mungkin dibawa melalui karya seolah ikut selesai bersama tepuk tangan.
Padahal sebuah karya seni tidak selalu datang hanya untuk menghibur.
Di dalam lagu, puisi, pertunjukan, atau karya seni lainnya mungkin terdapat kegelisahan tentang masyarakat, lingkungan, ketidakadilan, kehilangan, atau berbagai persoalan kehidupan yang seharusnya dapat menjadi bahan renungan. Tetapi apa gunanya sebuah karya menyampaikan kegelisahan jika mereka yang berada dalam posisi untuk mendengarkannya hanya mendengar bunyinya, bukan pesannya?
Seniman bernyanyi tentang lingkungan, sementara persoalan lingkungan berhenti sebagai tema acara. Seniman membacakan puisi tentang kemanusiaan, tetapi setelah tepuk tangan usai, kehidupan kembali berjalan seperti sebelumnya. Karya diperlakukan sebagai bagian dari seremoni, bukan sebagai sesuatu yang mungkin mengganggu kenyamanan dan memaksa kita bercermin.
Pada titik tertentu, seni bukan lagi diposisikan sebagai suara kebudayaan, melainkan sebagai dekorasi kebudayaan.
Panggungnya diberikan, tetapi pesannya tidak selalu didengarkan. Senimannya dihargai, tetapi kegelisahannya belum tentu dianggap penting.
Dan mungkin inilah bentuk lain dari penjinakan seni yang paling halus. Seniman diberi ruang untuk berbicara, tetapi tidak selalu diberi ruang agar apa yang dibicarakannya memengaruhi cara kita berpikir.
Jika demikian, kita perlu bertanya kembali: apakah negara benar-benar sedang memberi ruang kepada kebudayaan, atau sekadar menghadirkan kebudayaan sebagai bagian dari tata cara sebuah acara?
Ada gejala lain yang patut diperhatikan dalam kehidupan kebudayaan di Bandung: berulangnya nama-nama yang sama dalam berbagai kegiatan resmi.
Tentu tidak ada yang salah ketika sebuah lembaga kembali melibatkan seniman yang dianggap memiliki pengalaman, kapasitas, atau rekam jejak tertentu. Persoalannya muncul ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus sehingga kesempatan berkesenian berputar dalam lingkaran yang semakin kecil.
Padahal Bandung bukan kota yang kekurangan seniman. Ada begitu banyak musisi, sastrawan, perupa, pekerja teater, komunitas, dan pelaku kebudayaan dengan gagasan dan pengalaman yang beragam. Mereka mungkin tidak selalu memiliki akses kepada pintu yang sama.
Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi tentang siapa yang paling baik, melainkan siapa yang paling dikenal oleh mereka yang menentukan. Di sinilah birokrasi kebudayaan perlu berhati-hati.
Ketika hubungan personal, kebiasaan, atau kenyamanan dengan lingkaran tertentu secara tidak sadar menjadi dasar pemilihan, kebudayaan dapat kehilangan keragaman yang justru menjadi sumber kekuatannya. Kebudayaan tidak akan tumbuh sehat jika ruangnya hanya berputar di antara nama-nama yang sama.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika seniman mulai menyadari bahwa akses terhadap ruang kebudayaan lebih mudah diperoleh melalui kedekatan daripada gagasan. Mereka akan belajar satu hal: bahwa untuk bertahan bukan hanya diperlukan karya yang baik, tetapi juga kemampuan memelihara hubungan dengan mereka yang memegang pintu.
Di situlah pacantel dapat tumbuh.
Bukan karena semua seniman memiliki niat buruk, dan bukan pula karena semua birokrat sengaja menciptakan lingkaran eksklusif. Sebuah sistem dapat melahirkan kebiasaan yang pada akhirnya membuat keduanya saling membutuhkan dengan cara yang tidak selalu sehat.
Di sinilah kita perlu kembali kepada persoalan spiritualitas.
Spiritualitas kebudayaan bukan hanya persoalan hubungan manusia dengan Tuhan dalam pengertian keagamaan. Ia adalah kemampuan batin untuk merasakan bahwa kehidupan memiliki nilai yang tidak semuanya dapat dihitung dengan uang, proyek, jumlah penonton, jumlah kegiatan, atau keberhasilan administratif.
Ia adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada kepentingan diri sendiri.
Karena itu, ketika seorang seniman mulai kehilangan kemampuan untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak benar hanya karena hal itu dapat mengganggu hubungan profesionalnya, sesungguhnya yang mengalami kemerosotan bukan hanya keberanian artistiknya.
Ada persoalan yang lebih dalam: orientasi batinnya mulai bergeser.
Kita kembali kepada pertanyaan yang mungkin sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: Mengapa seseorang menjadi seniman?
Untuk mendapatkan pekerjaan? Untuk mendapatkan panggung? Untuk memperoleh pengakuan? Untuk membangun jaringan? Untuk mendapatkan proyek? Semua itu mungkin bagian dari kehidupan seorang seniman. Tetapi apakah itu alasan terdalamnya?
Jika seni hanya menjadi salah satu cara memperoleh penghasilan dan posisi sosial, tentu ia tetap dapat menghasilkan karya yang menarik. Namun seni kehilangan sesuatu yang membuatnya lebih dari sekadar profesi: dorongan untuk mengatakan sesuatu yang dianggap penting bagi kehidupan.
Di sinilah pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang kebudayaan dan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia menjadi relevan. Kebudayaan tidak berdiri di luar kehidupan manusia. Ia berhubungan dengan bagaimana manusia tumbuh, berpikir, merasakan, dan membentuk dirinya.
Karena itu, kebudayaan yang baik semestinya tidak hanya menghasilkan manusia yang terampil menciptakan karya, tetapi manusia yang memiliki budi dan kesadaran.
Jika kegiatan kebudayaan semakin banyak tetapi manusia yang dihasilkannya semakin tidak peduli terhadap lingkungan, tidak menghormati ruang bersama, mudah merendahkan orang lain, dan hanya melihat kehidupan berdasarkan kepentingan dirinya, maka ada sesuatu yang perlu kita evaluasi.
Mungkin kita terlalu sibuk menghitung kegiatan dan lupa menghitung manusia.
Kebudayaan, dalam pengertian yang lebih luas, memang tidak hanya berada di gedung pertunjukan. Ia hadir dalam sistem gagasan, tindakan, kebiasaan, dan hasil karya yang membentuk kehidupan masyarakat.
Karena itu, kebudayaan berada di jalan raya.
Ia berada di sekolah. Ia berada di pasar. Ia berada di rumah. Ia berada di kantor pemerintahan. Ia berada dalam cara kita memperlakukan sungai, pohon, tanah, orang tua, anak-anak, tetangga, bahkan orang yang tidak kita kenal.
Maka ketika sebuah masyarakat semakin tidak peduli pada kehidupan bersama, kita sebenarnya sedang menyaksikan persoalan kebudayaan. Dan ketika para pelaku kebudayaan sendiri mulai kehilangan kepekaan terhadap persoalan tersebut karena terlalu sibuk dengan proyek, kita sedang menyaksikan persoalan yang lebih serius lagi.
Siapa yang akan mengingatkan masyarakat jika para penjaga ingatan itu sendiri mulai kehilangan ingatan?
Kebudayaan dan Jati Diri
Kegelisahan tentang kebudayaan pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari persoalan jati diri.
Ajip Rosidi telah lama mengingatkan pentingnya kebudayaan daerah sebagai bagian dari keberadaan masyarakatnya. Bahasa, sejarah, sastra, dan ingatan kebudayaan bukan sekadar benda masa lalu yang perlu disimpan. Ia adalah bagian dari cara sebuah masyarakat mengenali dirinya.
Sebab masyarakat yang kehilangan ingatannya akan mudah kehilangan arah.
Dan sebuah bangsa yang kehilangan kemampuan mengenali akar kebudayaannya mungkin masih dapat berdiri secara administratif sebagai sebuah negara, tetapi perlahan dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kesadaran tentang siapa dirinya.
Jati diri bangsa tidak lahir dari slogan. Ia tidak otomatis hadir karena kita menyanyikan lagu kebangsaan, mengenakan pakaian tradisional dalam sebuah festival, atau menyelenggarakan pekan kebudayaan setiap tahun. Jati diri tumbuh dari sesuatu yang lebih sunyi: dari ingatan yang dirawat, nilai yang dijalankan, bahasa yang dihormati, alam yang dijaga, dan hubungan antarmanusia yang masih memiliki rasa hormat.
Karena itu, ancaman terbesar terhadap kebudayaan tidak selalu datang dalam bentuk pelarangan atau penghancuran yang kasatmata. Ia bisa datang secara perlahan.
Bahasa mulai dianggap tidak penting. Tradisi hanya menjadi dekorasi. Sejarah menjadi hafalan. Seni menjadi hiburan. Ruang publik menjadi komoditas. Alam menjadi objek ekonomi. Kebudayaan menjadi proyek. Dan seniman menjadi pelaksana kegiatan.
Semua berlangsung tanpa suara ledakan.
Tetapi sedikit demi sedikit, sesuatu yang lebih penting sedang terkikis.
Makna.
Kuntowijoyo, melalui gagasan humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam paradigma profetik, mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak cukup berhenti pada kepentingan praktis. Kebudayaan semestinya membantu manusia menjadi lebih manusiawi, membebaskan manusia dari berbagai bentuk dehumanisasi, sekaligus menghubungkannya dengan nilai yang melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Di titik ini, spiritualitas bukan lagi sesuatu yang berada di luar kebudayaan. Ia justru menjadi salah satu sumber daya terdalam kebudayaan.
Masyarakat yang kehilangan spiritualitas kebudayaan mungkin masih mampu menghasilkan banyak karya. Tetapi karya-karya itu dapat kehilangan daya untuk mengubah kehidupan.
Seniman dapat menjadi semakin terampil, tetapi tidak semakin peka. Program dapat menjadi semakin profesional, tetapi tidak semakin bermakna. Festival dapat semakin megah, tetapi masyarakat tetap berjalan pulang dengan persoalan yang sama. Dan pemerintah dapat mengatakan bahwa kewajibannya terhadap kebudayaan telah dilaksanakan karena program telah berjalan, anggaran telah disalurkan, laporan telah selesai, dan dokumentasi telah tersimpan.
Secara administratif mungkin benar. Tetapi kebudayaan bukan hanya persoalan administratif. Kebudayaan adalah tanggung jawab peradaban. Karena itu, negara tidak cukup hanya “gugur tugas” terhadap kebudayaan. Ia harus memiliki keberanian untuk melihat kebudayaan sebagai investasi jangka panjang terhadap manusia, bukan sekadar pos anggaran yang harus diselesaikan setiap tahun.
Begitu pula seniman. Seniman tidak cukup hanya “gugur karya”. Ia tidak cukup menghasilkan karya karena ada proyek, tampil karena ada panggung, atau membuat program karena ada anggaran. Sebab karya seni yang lahir hanya karena kebutuhan proyek mungkin selesai ketika laporan diserahkan. Tetapi karya yang lahir dari kegelisahan yang sungguh-sungguh dapat hidup jauh melampaui penciptanya.
Di sinilah kita perlu kembali menempatkan seniman pada posisi yang lebih terhormat sekaligus lebih berat.
Seniman bukan hanya pekerja seni. Ia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman.
Ia dapat melihat sesuatu yang belum terlihat oleh banyak orang. Ia dapat mengatakan sesuatu yang sulit dikatakan oleh bahasa politik. Ia dapat menyimpan ingatan ketika masyarakat mulai melupakannya. Ia dapat mengganggu kenyamanan ketika kenyamanan itu dibangun di atas ketidakadilan. Dan karena itu, kebebasan seniman bukan sekadar hak untuk berekspresi. Ia adalah tanggung jawab untuk tidak mengkhianati kegelisahan yang melahirkan karya.
Mungkin di sinilah kita perlu bercermin. Bukan hanya kepada pemerintah. Bukan hanya kepada birokrat. Bukan hanya kepada lembaga kebudayaan. Tetapi juga kepada diri sendiri sebagai seniman dan pelaku kebudayaan.
Apakah kita masih berkarya karena memiliki sesuatu yang ingin dikatakan? Ataukah kita semakin sering berkarya karena ada sesuatu yang sedang dibiayai?Apakah kita masih melihat masyarakat sebagai sumber kegelisahan? Ataukah masyarakat hanya menjadi latar belakang proposal? Apakah kita masih memiliki keberanian untuk mempertanyakan keadaan? Ataukah kita sudah terlalu nyaman dengan pintu-pintu yang selama ini memberi kita ruang?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak menyenangkan. Tetapi kebudayaan yang sehat seharusnya memang tidak selalu membuat kita nyaman. Ia sesekali harus membuat kita bercermin.
Sebab jika kebudayaan hanya dipakai untuk menghibur masyarakat dari berbagai persoalan tanpa pernah mengajaknya melihat persoalan itu sendiri, kebudayaan telah kehilangan sebagian dari tanggung jawab moralnya. Dan jika seniman hanya menjadi pengisi ruang yang telah disediakan kekuasaan, sementara kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan siapa yang menentukan bentuk ruang tersebut, maka seni perlahan kehilangan jaraknya.
Pada akhirnya, yang kita perlukan bukan lebih banyak kegiatan kebudayaan, melainkan lebih banyak manusia yang memiliki kesadaran kebudayaan.
Bukan lebih banyak festival, tetapi lebih banyak manusia yang mampu menghargai kehidupan. Bukan lebih banyak proposal, tetapi lebih banyak kegelisahan yang jujur. Bukan lebih banyak dokumentasi, tetapi lebih banyak perubahan yang dapat dirasakan.
Sebab kebudayaan sebuah bangsa tidak runtuh dalam satu malam.
Ia dapat runtuh sedikit demi sedikit ketika ingatan tidak lagi dirawat, ketika nilai digantikan kepentingan, ketika alam hanya dilihat sebagai komoditas, ketika kesenian dipisahkan dari kehidupan, ketika seniman kehilangan jarak kritis, dan ketika negara merasa cukup setelah kewajiban administratifnya selesai.
Pada saat itu, mungkin kita masih akan memiliki festival. Masih akan ada panggung. Masih akan ada seniman. Masih akan ada proposal. Masih akan ada laporan. Bahkan mungkin akan semakin banyak program yang mengatasnamakan kebudayaan. Tetapi pertanyaannya tetap sama: Apakah kebudayaan itu sendiri masih hidup?
Sebab yang paling menakutkan dari kemerosotan kebudayaan bukanlah hilangnya sebuah lagu, sebuah bahasa, sebuah tradisi, atau sebuah karya seni. Yang lebih menakutkan adalah ketika suatu bangsa masih memiliki semuanya, tetapi tidak lagi memahami mengapa semua itu penting.
Pada titik itu, yang hilang bukan sekadar kebudayaan. Yang hilang adalah kemampuan sebuah bangsa untuk mengenali dirinya sendiri.
Dan mungkin, sebelum sebuah bangsa benar-benar kehilangan dirinya, tanda-tandanya bukanlah kehancuran yang terdengar keras. Barangkali ia justru terdengar seperti sesuatu yang sangat sunyi: ketika manusia tidak lagi merasa perlu bertanya untuk apa ia hidup, untuk apa ia berkarya, dan untuk apa kebudayaan diwariskan kepada generasi berikutnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


