• Berita
  • Aksi Kamisan Unisba: Ingatan tentang Gas Air Mata yang Bertahan di Balik Tugu Toga

Aksi Kamisan Unisba: Ingatan tentang Gas Air Mata yang Bertahan di Balik Tugu Toga

Setahun setelah kawasan Unisba terdampak represi setelah demonstrasi Agustus, mahasiswa berkumpul untuk merefleksikan kampus sebagai ruang kebebasan akademik.

Aksi Kamisan Unisba ke-12 di depan Tugu Toga mengusung tema Menolak Lupa, Merawat Ingat, Kamis, 3 September 2026. (Foto: Azany Magrina Duarte/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi5 September 2026


BandungBergerak - Tepat setahun setelah kawasan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas) terdampak rangkaian demonstrasi Bandung pada 1–2 September 2025, mahasiswa kembali berkumpul dalam Aksi Kamisan Unisba ke-12. Orasi di depan Tugu Toga sore itu mengusung tema “Menolak Lupa, Merawat Ingat”, Kamis, 3 September 2026.

Bagi mahasiswa, aksi ini menjadi cara untuk merawat ingatan ketika kampus yang semestinya menjadi ruang aman akademik berubah menjadi bagian dari kawasan yang terdampak tindakan represif aparat. Peristiwa ini bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang berlangsung akhir Agustus hingga awal September 2025.  

Di Bandung, aksi bermula dari keresahan terhadap kebijakan dan kondisi politik-ekonomi, lalu berkembang menjadi solidaritas atas kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring yang meninggal karena kendaraan taktis Brimob dalam demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus 2025.

BandungBergerak mencatat, demonstrasi di Kota Bandung berlangsung sejak 28 Agustus dan berpusat di sekitar Gedung DPRD Jawa Barat. Pada 1 September, mahasiswa, warga, dan pengemudi ojek daring kembali memenuhi Jalan Diponegoro. Massa membawa 17+8 Tuntutan Rakyat, termasuk tuntutan agar TNI kembali ke barak dan menghentikan keterlibatan dalam pengamanan sipil. 

Menjelang tengah malam, situasi di sekitar Tamansari berubah tegang. BandungBergerak melaporkan gas air mata ditembakkan di kawasan Unisba dan Unpas sekitar pukul 23.40 WIB. Sejumlah saksi menyatakan melihat tembakan mengarah ke area kampus. Namun, kepolisian membantah melakukan penembakan ke dalam kampus dan memberikan penjelasan berbeda mengenai situasi di sekitar Tamansari.

Perbedaan keterangan tersebut membuat persoalan penggunaan kekuatan aparat di sekitar kampus tetap menjadi bagian penting dari ingatan mahasiswa. Yang tidak terbantahkan bagi mereka yang berada di lokasi adalah dampaknya: kepanikan, sesak napas, luka, evakuasi, dan rasa aman yang terganggu.

Fadel, mahasiswa Ilmu Hukum Unisba angkatan 2023 yang mengikuti Aksi Kamisan Unisba, masih mengingat suasana malam itu. Ia menyaksikan mahasiswa terdampak gas air mata dan kekerasan fisik. Salah seorang kawannya, Bobby, disebut mengalami patah tangan, dan  setelah dilindas motor polisi, sementara Jiran dipukuli dan ditangkap meski telah tiarap dan menyerah.

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana keosnya malam itu. Banyak korban berjatuhan akibat gas air mata,” kenang Fadel.

Bagi Fadel, tindakan represif di lingkungan kampus mengganggu rasa aman, mental, dan keyakinan mahasiswa terhadap kampus sebagai ruang untuk berpikir serta menyampaikan pendapat.

Ace, mahasiswa Ilmu Hukum Unisba angkatan 2023 yang juga berada di lokasi, mengingat situasi ketika aparat mendekati gerbang kampus.

“Gila banget malam itu, tembakan gas air mata melintas tepat di atas kepala kami,” tutur Ace.

Menurut Ace, sejumlah mahasiswa mengalami sesak napas. Ia juga mengingat seorang rekannya dari Fakultas Hukum mengalami luka di wajah dan bahu.

“Tugas kita hari ini adalah mengawal ingatan, karena merawat ingatan adalah bagian dari melawan ketidakadilan,” pungkas Ace, menyinggung substansi dari Aksi Kamisan Unisba.

Obem, mahasiswa Digitech angkatan 2021, mengingat kehadiran aparat dalam jumlah besar, termasuk kendaraan TNI di depan Unisba. Menurutnya, kehadiran kendaraan tersebut menimbulkan ketakutan di ruang sipil akademik.

Obem juga melihat pola pengamanan dalam sejumlah aksi setelah September 2025 sebagai persoalan yang belum selesai. Ia menilai kritik masyarakat dan mahasiswa masih diikuti penjagaan ketat, intimidasi, hingga penangkapan.

“Ada sedikit ketakutan dari negara ketika masyarakat mengkritik ataupun mahasiswa turun ke jalan,” katanya.

Setahun berlalu pascademonstrasi Agustus tidak menghapus pengalaman mahasiswa yang berada di lokasi. Bagi mereka, Aksi Kamisan Unisba ke-12 ini menjadi ruang untuk menghubungkan pengalaman personal dengan persoalan yang lebih luas: kebebasan menyampaikan kritik, perlindungan warga dalam aksi, serta posisi kampus sebagai ruang aman.

Obem menyerukan agar mahasiswa kembali berkumpul dan saling menguatkan, terutama bagi mereka yang masih membawa luka dari peristiwa tersebut. 

“Sudah saatnya kita berkumpul, berbagi, dan saling menutupi luka-luka yang mungkin beberapa kawan-kawan cukup merasakan yang sangat luar biasa,” katanya.

Baca Juga: Setahun Setelah Demonstrasi Agustus: Mahasiswa Bandung Menggugat, Mengapa Kekerasan dan Kematian Kembali Terjadi?
Dari Jalanan Bandung ke Balik Jeruji: Kesaksian Demonstran A29-S1

Lapak buku di Aksi Kamisan Unisba ke-12 di depan Tugu Toga, Kamis, 3 September 2026. (Foto:  Azany Magrina Duarte/BandungBergerak)
Lapak buku di Aksi Kamisan Unisba ke-12 di depan Tugu Toga, Kamis, 3 September 2026. (Foto: Azany Magrina Duarte/BandungBergerak)

Belum Berubah

Shofan, mahasiswa Unisba angkatan 2022, juga berada di lokasi malam mencekam demonstrasi Agustus 2025. Hari ini Shofan masih melihat persoalan yang diusung dalam demonstrasi tersebut masih relevan.

"Kalau pada akhirnya hal yang berubah sebetulnya tidak banyak berubah juga ya, barangkali malah lebih berbahaya rezim ini hadir,” ujar Shofan.

Ia tetap meyakini perubahan dapat tumbuh melalui gerakan mahasiswa, meski hasilnya tidak selalu langsung terlihat.

“Kalau ditanya apakah sudah ada banyak berubah ya mungkin tidak terlihat perubahan itu terjadi. Tapi perubahan itu akan selalu hadir di kalangan kami,” katanya.

Shofan menilai perjuangan tidak harus diwujudkan dalam bentuk yang sama. Setiap mahasiswa dapat mengambil peran sesuai kemampuan dan ruang yang dimilikinya.

“Perjuangan kawan-kawan hari ini punya aktualisasi yang berbeda, punya potensi yang berbeda, tapi berjuanglah di peran masing-masing,” ujar Shofan.

Mahasiswa lainnya, Riswan (nama disamarkan atas permintaan narasumber) mahasiswa kedokteran yang kini menjalani tahap profesi, di waktu demonstrasi Agustus sebagai relawan kesehatan. Ketika situasi di luar memburuk, ia dan sejumlah anggota tim medis yang semula bersiap pulang kembali masuk ke area kampus.

Ia mengatakan, kampus merupakan bagian dari ruang masyarakat, dan keberadaan mahasiswa maupun warga di sana tidak semestinya menjadi alasan penggunaan gas air mata.

“Mau siapa pun, bukan ada kelompok mahasiswa pun, karena itu masih bagian dari masyarakat Indonesia, memang seharusnya tidak usah ada penembakan gas air mata,” katanya.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Riswan melihat langsung dampak gas air mata terhadap orang-orang di lapangan. Sebagian mengalami sesak, sementara kepanikan membuat beberapa orang kehilangan keseimbangan, terjatuh, dan mengalami luka.

Peristiwa tersebut, menurut Riswan, meninggalkan trauma karena kampus semestinya menjadi ruang aman untuk berdiskusi dan menuntut ilmu.

Bagi Riswan, merawat ingatan bukan berarti terus hidup dalam masa lalu. Ingatan diperlukan agar kekerasan dan ketidakadilan tidak dilupakan, terutama ketika korban masih membutuhkan keadilan dan sebagian orang masih membawa trauma.

“Jangan pernah diam karena ketika hari ini kita bukan korban belum tentu besok kita tidak menjadi korban,” ujar Riswan.

Menjaga Ingatan dan Bersuara

Persoalan yang diangkat mahasiswa di Aksi Kamisan Unisba tidak berhenti pada tindakan represif. Mereka mempertanyakan bagaimana ruang akademik seharusnya diperlakukan ketika demonstrasi berlangsung.

Kampus merupakan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan nalar kritis. Ketika tindakan aparat menjangkau kawasan kampus, persoalannya meluas dari penanganan demonstrasi menjadi persoalan mengenai rasa aman, kebebasan akademik, dan otonomi perguruan tinggi.

Sore itu, orasi Aksi Kamisan Unisba terus terdengar di depan Tugu Toga Unisba. Aksi ini menjadi cara mereka memastikan peristiwa tersebut tidak berhenti sebagai ingatan personal, melainkan ingatan kolektif tentang ruang aman, kebebasan akademik, dan tuntutan agar kekerasan terhadap mahasiswa dan masyarakat tidak berlalu tanpa pertanggungjawaban.

Bagi Fadel, Ace, Obem, Shofan, dan Riswan menjaga ingatan juga merupakan bentuk perlawanan terhadap kemungkinan berulangnya kekerasan. Tidak semestinya membuat mahasiswa berhenti bersuara.

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Azany Magrina Duarte, Bagea Awi Dan Heni, dan Jawahir Al-Maani. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//