• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Merayakan Bandung, Mempertanyakan Arah Kota

SUDUT LAIN BANDUNG: Merayakan Bandung, Mempertanyakan Arah Kota

Hari Jadi Bandung seharusnya menjadi kesempatan untuk mempertanyakan apa yang belum selesai, apa yang mulai hilang, dan apa yang berpotensi mengancam masa depan.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Ilustrasi pembangun kota bukan sekadar membangun gedung-gedung tinggi. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

12 September 2026


BandungBergerak – Ada sebuah ungkapan uga Sunda yang terasa semakin kuat untuk direnungkan:

Kawung mabur carulukna,
Samak tinggaleun pandanna.
Kyai leungiteun aji,
Pandita ilang komara,
Kahuruan ku nafsuna.

Dalam pemahaman masyarakat Sunda, ungkapan tersebut membawa peringatan tentang keadaan ketika tatanan kehidupan mulai kehilangan keseimbangannya. Pemimpin kehilangan tanggung jawab, tokoh kehilangan wibawa, pengetahuan tidak lagi menjadi penuntun, sementara nafsu menguasai keputusan.

Ketika peringatan itu dibaca bersamaan dengan berbagai bencana yang datang dalam waktu berdekatan–gempa bumi, kebakaran hutan, dan erupsi sejumlah gunung berapi–kita tentu tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara ilmiah. Namun, kita juga tidak seharusnya menutup mata terhadap pesan moral dan spiritual yang dikandungnya.

Sebab bencana tidak selalu hadir hanya dalam bentuk tanah yang berguncang, hutan yang terbakar, atau gunung yang memuntahkan abu. Bencana juga dapat tumbuh perlahan melalui rusaknya lingkungan, hilangnya kepercayaan, lemahnya hukum, kesewenang-wenangan kekuasaan, dan masyarakat yang semakin kehilangan ketenteraman hidup.

Dalam pengertian itulah uga tersebut menjadi peringatan yang serius. Apabila keadaan yang digambarkannya terus berlangsung, maka yang terancam bukan hanya keberlanjutan alam, melainkan juga karahayuan–keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman hidup bersama.

Barangkali, menjelang Hari Jadi Bandung ke-216, ungkapan itu dapat menjadi kado yang lebih bermakna daripada sekadar ucapan selamat. Sebuah kado yang mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah Bandung sedang membangun masa depan, atau justru sedang mengabaikan tanda-tanda kerusakan yang kelak dapat mendatangkan bencana lebih besar bagi rakyat?

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Sebuah Proyek yang Kebetulan Berbudaya
SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Ketika Ia Kehilangan Daya Spiritual
SUDUT LAIN BANDUNG: Catatan dari Aliansi Bandung Ngagoak dan Tanggung Jawab Moral Seniman Bandung

Ketika Ruang Hidup Menjadi Komoditas

Kota sering kali diukur melalui apa yang tampak: gedung baru, jalan yang diperlebar, pusat perdagangan, kawasan wisata, taman, dan berbagai proyek infrastruktur. Semua itu memang penting. Namun, kota bukan sekadar kumpulan bangunan dan fasilitas.

Kota adalah ruang hidup bersama.

Karena itu, ukuran kemajuan tidak semestinya hanya ditentukan oleh seberapa banyak sesuatu dibangun, tetapi juga oleh seberapa banyak yang mampu dipertahankan: ruang hidup warga, lingkungan, keadilan, kebudayaan, serta martabat manusia.

Di sinilah keberlanjutan perlu dipahami secara lebih mendalam. Keberlanjutan bukan hanya persoalan penghijauan, efisiensi energi, transportasi publik, atau pengelolaan sampah. Ia juga menyangkut cara sebuah kota memandang kehidupan.

Apakah pembangunan memperkuat kehidupan warga, atau justru warga yang harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan pembangunan?

Persoalan yang muncul di Cihapit, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk melihat masalah yang lebih besar. Hilangnya sejumlah pohon di tengah tekanan pembangunan bukan semata-mata perkara beberapa batang pohon. Ia memperlihatkan bagaimana ruang ekologis dapat perlahan-lahan ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan ketika berhadapan dengan kepentingan pembangunan.

Persoalan semacam itu berkaitan dengan tata ruang, daya dukung lingkungan, dan masa depan Kawasan Bandung Utara yang memiliki fungsi penting bagi keseimbangan ekologis serta tata air kota.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih mendasar: apakah pohon hanya bernilai ketika tidak mengganggu pembangunan? Apakah ruang terbuka hanya penting ketika dapat mempercantik wajah kota? Apakah tanah harus selalu memiliki nilai ekonomi agar dianggap berharga?

Keberlanjutan tidak cukup diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam. Ia juga harus diukur dari keberanian kita mengatakan tidak ketika sebuah ruang hidup hendak dikorbankan.

Sebab ketika ruang hidup semakin mudah diperlakukan sebagai komoditas, kota perlahan kehilangan kemampuannya membedakan antara kebutuhan dan keserakahan.

Bandung dikenal sebagai kota kreatif. Identitas tersebut merupakan bagian penting dari sejarah dan kehidupan kota ini. Banyak gagasan, gerakan, karya seni, komunitas, serta inisiatif warga lahir dari Bandung.

Namun, kreativitas tidak boleh berhenti sebagai identitas promosi.

Kota kreatif seharusnya adalah kota yang mampu menghargai manusia, memberi ruang bagi perbedaan, melindungi kebebasan berpikir, serta memastikan bahwa manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Di dalamnya terdapat persoalan hak asasi manusia: hak atas lingkungan yang baik dan sehat, hak atas ruang publik, hak untuk berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan warga, serta hak untuk memperoleh manfaat pembangunan secara adil.

Kota yang kreatif tetapi tidak mampu melindungi hak warganya pada akhirnya hanya akan menjadi kreatif dalam menciptakan citra.

Kita tidak membutuhkan kota yang tampak maju dari luar, tetapi menyimpan kecemasan di dalamnya. Kota yang ruang publiknya semakin indah, tetapi semakin sulit diakses. Kota yang sering berbicara tentang inovasi, tetapi gagap mendengarkan keluhan warga.

Kreativitas semestinya tidak hanya digunakan untuk menciptakan acara, slogan, dan citra. Kreativitas juga harus digunakan untuk menemukan cara-cara baru dalam menyelesaikan persoalan lama: ketimpangan, konflik ruang, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan hilangnya rasa memiliki terhadap kota.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Bandung sebenarnya memiliki kekuatan besar: warganya.

Berbagai komunitas lingkungan, kelompok literasi, pelaku seni dan kebudayaan, organisasi warga, mahasiswa, serta inisiatif mandiri terus bekerja merawat kehidupan kota. Banyak di antara mereka bekerja tanpa panggung besar, tanpa anggaran berlimpah, bahkan tanpa perhatian yang memadai.

Mereka merawat sungai, menghidupkan ruang publik, mendampingi warga, menjaga ingatan sejarah, mengembangkan pendidikan alternatif, dan memperjuangkan lingkungan.

Kerja-kerja semacam itu sering kali tidak masuk dalam ukuran keberhasilan pembangunan. Padahal, di sanalah daya tahan sosial sebuah kota dibentuk.

Partisipasi warga tidak boleh berhenti sebagai jargon dalam dokumen perencanaan atau seremoni konsultasi publik. Warga bukan ornamen yang dipanggil ketika pemerintah membutuhkan legitimasi. Komunitas bukan sekadar pengisi acara. Mereka adalah sumber pengetahuan dan pengalaman yang penting bagi masa depan kota.

Pemerintah tidak harus selalu menjadi pihak yang paling tahu. Justru pemerintah perlu memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan, belajar, dan membuka ruang bagi gagasan yang tumbuh dari bawah.

Sebab persoalan kota tidak selalu dapat diselesaikan dari balik meja birokrasi. Banyak persoalan hanya dapat dipahami melalui pengalaman mereka yang hidup langsung di dalamnya.

Kado untuk Bandung

Hari Jadi Bandung seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan apa yang telah dicapai. Ia juga perlu menjadi kesempatan untuk mempertanyakan apa yang belum selesai, apa yang mulai hilang, dan apa yang berpotensi mengancam masa depan.

Apakah Bandung semakin manusiawi, atau hanya semakin pandai mempercantik permukaan?

Apakah ruang publik benar-benar terbuka bagi semua warga, atau semakin dikendalikan oleh kepentingan ekonomi?

Apakah komunitas sungguh-sungguh dilibatkan dalam menentukan arah kota, atau hanya dipanggil untuk mengisi agenda?

Apakah pembangunan memperkuat kehidupan warga, atau justru membuat warga semakin terasing dari ruang hidupnya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Justru sebaliknya, ia merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan bahwa pembangunan tidak kehilangan arah.

Merayakan Bandung berarti mencintai apa yang telah dibangun. Tetapi mempertanyakan arah kota berarti memastikan bahwa apa yang kita bangun hari ini tidak justru menghilangkan masa depan yang seharusnya kita wariskan.

Barangkali, uga Sunda tadi perlu kita dengarkan bukan hanya sebagai warisan leluhur, melainkan sebagai peringatan agar manusia tidak kehilangan keseimbangan antara kekuasaan, pengetahuan, alam, dan kehidupan bersama.

Sebab ketika ruang hidup semakin mudah dikorbankan, ketika pengetahuan tidak lagi menjadi dasar keputusan, dan ketika kekuasaan lebih sibuk mempertahankan citra daripada memperbaiki kehidupan, barangkali kita sedang menyaksikan kembali gejala-gejala yang dahulu telah diperingatkan oleh kebudayaan kita sendiri.

Maka, kado terbaik untuk Bandung bukanlah pujian yang membuat kita terlena.

Kado terbaik adalah keberanian untuk kembali berpikir.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//