Aktivitas Vulkanik Gunung Tangkuban Parahu Meningkat, Status Aktivitas Masih Normal namun Masyarakat Diharap Berhati-hati
PVMBG Badan Geologi mengingatkan masyarakat agar menjauhi area sekitar kawah jika teramati peningkatan intensitas/ketebalan asap kawah.
Penulis Iman Herdiana22 Maret 2024
BandungBergerak.id - Aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu mengalami peningkatan akhir-akhir ini. Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi merekomendasikan masyarakat atau wisatawan untuk meningkatkan kehatihatian jika beraktivitas di gunung yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Muhammad Wafid mengatakan, pihaknya merekam selama 2024 ini terjadi beragam aktivitas vulkanik di Gunung Tangkuban Parahu. Gunung yang terkenal dengan legenda Sangkuriang ini terakhir kali erupsi pada tahun 2019.
Hasil pengamatan PVMBG Badan Geologi kemudian melahirkan rekomendasi nahwa Gunung Tangkuban Parahu pada tanggal 22 Maret 2024 pukul 12.00 WIB masih pada Level I (Normal). Masyarakat dan pengunjung/wisatawan pun direkomendasikan agar:
“Tidak mendekat ke dasar kawah, tidak berlama-lama dan tidak menginap di area kawasan kawah-kawah aktif yang berada di Gunung Tangkuban Parahu,” kata Muhammad Wafid, dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 22 Maret 2024.
Masyarakat diingatkan untuk segera menjauhi/meninggalkan area sekitar kawah jika teramati peningkatan intensitas/ketebalan asap kawah dan/atau jika tercium bau gas yang menyengat untuk menghindari potensi bahaya paparan gas beracun maupun erupsi freatik.
Namun, Wafid juga mengingatkan agar masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Tangkuban Parahu, dan tetap mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Tangkuban Parahu melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Playstore atau melalui website https://magma.esdm.go.id.
Selanjutnya, tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu akan dievaluasi kembali secara berkala. Tingkat aktivitas dan rekomendasi Gunung Tangkuban Parahu ini tetap berlaku selama surat/laporan evaluasi berikutnya belum diterbitkan.
Baca Juga: Komnas HAM Menengahi Masalah Revitalisasi Pasar Banjaran
GEDEBAGE BUKAN TEKNOPOLIS #1: Balada Banjir di Calon Pusat Kota
GEDEBAGE BUKAN TEKNOPOLIS #2: Berebut Jalan Menuju Masjid Al Jabbar
Data Erupsi Terakhir
Gunung Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif yang memiliki 9 kawah dengan dua kawah utama berada di area puncak, yaitu Kawah Ratu dan Kawah Upas. Erupsi Gunung Tangkuban Parahu terakhir kali terjadi pada Juli 2019.
Fase erupsi dimulai tanggal 26 Juli 2019 pukul 15.48 WIB di kawah Ratu dengan ketinggian kolom lumpur bercampur sedikit abu mencapai 200 meter dari dasar kawah, berwarna kelabu tebal kehitaman. Aktivitas erupsi terus berlangsung hingga tanggal 9 Agustus 2019. Sebaran material pasiran umumnya jatuh kembali ke dalam dasar kawah, sedangkan abu erupsi tersebar di sekitar kawah tergantung arah dan kecepatan angin.
Kemudian, aktivitas tahun 2024 tercatat tanggal 28 Februari 2024 terekam 2 kejadian gempa hembusan dengan amplitudo maksimal 56 mm dan lama gempa maksimal 8 menit.
Pada periode 4-7 Maret 2024, terjadi kenaikan jumlah kegempaan terutama pada gempa hembusan dan low frequency. Berikutnya, tanggal 21 dan 22 Maret 2024 terjadi kembali kenaikan kejadian gempa hembusan di Gunung Tangkuban Parahu yaitu pada tanggal 21 Maret 2024 sejumlah 24 gempa hembusan dan pada 22 Maret 2024 terekam 40 kejadian gempa hembusan.
Hasil pengecekan ke sekitar Kawah Ratu, Kawah Ecoma, dan Kawah Domas pada tanggal 22 Maret 2024 tidak ditemukan adanya perubahan maupun endapan material vulkanik baru pada ketiga kawah tersebut.
Perkembangan terakhir aktivitas Gunung Tangkuban Parahu hingga tanggal 22 Maret 2024 pukul 12.00 WIB, berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental adalah sebagai berikut:
- Hasil pengamatan visual di sekitar Kawah Ratu, Kawah Ecoma, dan Kawah Domas pada 22 Maret 2024 teramati hembusan asap berwarna putih, dengan ketebalan sedang hingga tebal dan tinggi 5 - 140 meter dari dasar kawah.
- Aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu pada periode Maret 2024 didominasi oleh gempa-gempa berfrekuensi rendah dan hembusan yang mengindikasikan aktivitas pergerakan fluida di kedalaman dangkal atau dekat permukaan. Pada bulan Maret ini relatif terjadi peningkatan jumlah gempa frekuensi rendah dan berkorelasi dengan peningkatan intensitas curah hujan. Peningkatan ini dapat terjadi karena perubahan (akumulasi) tekanan di kedalaman dangkal akibat peningkatan jumlah curah hujan yang turun pada bulan ini.
- Energi kegempaan Gunung Tangkuban Parahu ditunjukkan dengan nilai amplitudo seismik melalui grafik RSAM (Real-Time Seismic Amplitude Measurement) pada stasiun RATU dan TOWER teramati berfluktuatif. Pada stasiun RATU dan stasiun TOWER teramati relatif tidak terjadi peningkatan nilai RSAM yang signifikan.
- Grafik nilai dv/v Gunung Tangkuban Parahu hingga 21 Maret 2024 menunjukkan penurunan, sedangkan nilai koherensi masih tinggi. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa terjadi peningkatan stress/tekanan, namun belum berpengaruh pada kondisi medium dekat permukaan Gunung Tangkuban Parahu. Pada letusan terakhir, terjadi penurunan nilai dv/v dan nilai koherensi sekitar 1 bulan sebelum terjadi erupsi.
- Hasil pemantauan deformasi Electronic Distance Measurement (EDM) pada bulan ini belum menunjukkan adanya pola penambahan tekanan yang signifikan. pengukuran deformasi dengan menggunakan EDM dilakukan di area kawah permukaan Gunung Tangkuban Parahu.
- Dari hasil pemantauan deformasi dengan peralatan Global Positioning System (GPS GNSS) dan Tiltmeter sampai bulan Maret 2024 menunjukkan adanya tekanan pada tubuh gunung Tangkuban Parahu di arah barat daya sehingga menyebabkan terjadinya penggembungan di tubuh Gunung Tangkuban Parahu dan sumber tekanan penyebab deformasi cukup dangkal.
- Hasil dari pemantauan gas di Gunung Tangkuban Parahu mengindikasikan belum menunjukkan peningkatan, hasil dari pengukuran gas masih di bawah ambang batas. - Berdasarkan data pemantauan saat ini, perlu diwaspadai potensi bahaya berupa erupsi freatik, yaitu erupsi yang terjadi tanpa ada peningkatan gejala vulkanik yang jelas atau signifikan. Erupsi freatik jika terjadi dapat disertai hujan abu dan lontaran material di sekitar kawah.
*Kawan-kawan bisa mengakses tulisan-tulisan terkait Gunung Tangkuban Parahu dalam tautan ini