Budi Daya di Tangan Orang Muda

Penghayat Budi Daya di kaki Gunung Tangkuban Parahu menempuh jalan berliku untuk mengamalkan ajaran leluhur di jalur pendidikan. Orang-orang muda mengambil peran.

Anak-anak penghayat Budidaya yang berusia di bawah lima tahun mengikuti kelas yang diadakan penyuluh di Pasewakan Saka Binangun, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 21 Mei 2024. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah28 Juni 2024


BandungBergerak.id - “Sok pada duduk dulu!” seru Nanda Shelly Susanti, 21 tahun, meminta anak-anak untuk tertib mengambil tempat untuk duduk. Hari itu, Selasa, 21 Mei 2024, tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan datang di Pasewakan Saka Binangun yang terletak di Kampung Cibedug, Desa Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mereka mengenakan kebaya dan pakaian pangsi hitam-hitam khas adat Sunda.

Pasewakan, tempat warga penghayat kepercayaan Budi Daya berkumpul dan belajar tentang ajaran leluhur, berada di kawasan tinggi di Lembang. Suhu udaranya dingin, anginnya segar, dengan jalan-jalan yang kiri kanannya berhias kebun-kebun sayur, kandang-kandang sapi perah, serta perbukitan dan lembah. Pertanian menjadi mata pencaharian utama warga kampung.

Sebelum memulai pelajaran yang masuk dalam program penyuluhan anak usia dini Budi Daya, Nanda mengajak anak-anak berdoa. Kedua tangan diangkat lalu dirapatkan.

“Amit sun, sampurasun. Abdi gusti nekadkeun seja nampi kalayan ngolah katerangan ti papada kaula, sangkan mibanda kanyaho sinareng pamilih nu bener, jadi katerang, sinareng papadang rasa ka diri abdi, pikeun ngalaju hirup jeung kahirupan. Pun, rahayu,” ucap Nanda, merapal doa di luar kepala.

Nanda kemudian mengeluarkan buku dan pensil warna, memberikan masing-masing satu lembar kepada anak-anak. Anak-anak kecil yang serba ingin tahu membuat Nanda harus bekerja ekstra untuk menerangkan.

Nanda menjadi penyuluh sejak tahun 2020 setelah sebelumnya menjalani peran sebagai asisten penyuluh. Secara formal, penyuluh setara dengan guru agama. Tugasnya adalah memberikan pelajaran agama pada warga penghayat yang tinggal di berbagai pelosok kampung.

“Kendala di daerah, banyak (anak) yang jauh (rumahnya) gak bisa datang. Makanya setiap daerah ada penyuluh,” ujarnya.

Nanda merupakan satu dari total 15 orang penyuluh aliran kepercayaan Budi Daya. Mereka telah melalui proses bimbingan teknik (bimtek) dan uji kompetensi yang diselenggarakan oleh pemerintah agar terverifikasi sebagai penyuluh.

Selama mengajar anak di pasewakan, Nanda ditemani Fajar, 23 tahun, yang sedang dalam proses menjadi calon penyuluh. Ia akan mengikuti bimtek penyuluh selama seminggu. Setelahnya ia akan mendapatkan rekomendasi dan surat sah menjadi penyuluh.

Menurut Fajar, penyuluhan untuk anak usia dini merupakan inisiatif kaum muda penghayat aliran kepercayaan Budi Daya yang meyakini bahwa anak-anak membutuhkan lembaga pendidikan sejenis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di PAUD inilah mereka akan sejak dini mendapatkan ajaran tentang penghayat.

“Kita berinisiatif membuat sekolah PAUD. Sekarang sudah banyak anak-anak PAUD yang memang kita harus ajak mengenal pendidikan penghayat. Namun kita tak spesifik ke aliran penghayat, tapi sekarang mah lebih mengenalkan,” terang Fajar.

Setelah selesai menggambar, anak-anak melanjutkan kegiatan hari itu dengan menonton video edukasi yang terpancar dari laptop. Menyusul kemudian permainan melatih motorik, sebelum ditutup dengan doa bersama kepada Sang Pemberi Ilmu.

“Amit sun, sampurasun. Abdi gusti nampi nuhun kana sagala rupi katerangan anu parantos katampi ti papada kaula. Mugia nyerep kana waruga, nyurup kana prilaku, sangkan aya dina kacageuran, kabageuran, kabeneran, tur kajujuran. Pun, rahayu.”

Anak-anak penghayat Budidaya yang berusia di bawah lima tahun mengikuti kelas yang diadakan penyuluh di Pasewakan Saka Binangun, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 21 Mei 2024. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)
Anak-anak penghayat Budidaya yang berusia di bawah lima tahun mengikuti kelas yang diadakan penyuluh di Pasewakan Saka Binangun, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 21 Mei 2024. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)

Diskriminasi Tidak Harus Dibalas

Nanda terlahir sebagai penghayat. Orang tuanya adalah pemeluk ajaran karuhun. Sejak kecil dia sudah dikenalkan pada ritus-ritus penghayat, mulai dari Suroan, peringatan hari lahir tokoh penghayat Mama Mei Kartawinata di Pasewakan Kerta Tataning Hirup Linuwih, Ciparay, Kabupaten Bandung, hingga ritual syukuran setiap malam Selasa dan malam Kamis.

“(Setiap) 1 Mei saya dibawa ke Ciparay, ke Cileuleuy di Subang, di mana Mama Mei mendapatkan wangsit,” ujar Nanda.
Sebagai pemeluk ajaran leluhur, agama yang sudah lebih ada di Nusantara sebelum masuknya agama-agama resmi saat ini, Nanda pernah mengalami kejadian kurang mengenakkan selama duduk di bangku sekolah. Seorang guru agama pernah mengecapnya beragama yang salah. Nanda berusaha bijak menyikapi diskriminasi di masa lalu itu.

“Kalau ada diskriminasi itu tidak harus dibalas juga. Kita harus leleuy (lembut) aja, harus telaten menjelaskan,” ujar Nada.

Perjalanan hidup sebagai seorang penghayat, dengan tidak sedikit pengamanan didiskriminasi, mengajarkan kepada Nanda untuk selalu mengucapkan rasa syukur pada Sang Pencipta. Salah satunya dengan menjalani peran sebagai seorang penyuluh bagi adik-adik penghayat agar mereka terhindar dari praktik diskriminatif. “Saya sangat bersyukur lahir sebagai seorang penghayat,” katanya.

Baca Juga: Terjal Jalan Murid-murid Penghayat Kepercayaan Menghadapi Perundungan
DATA JUMLAH PENDUDUK PENGANUT KEPERCAYAAN DI KABUPATEN BANDUNG BARAT 2013-2023: Bertahan Meski Terus Menyusut
Nasib Penghayat Kepercayaan jadi Hantu di Negeri Sendiri

Zaman Berubah

Pelajaran bagi anak usia dini penghayat kepercayaan Budi Daya di Pasewakan Saka Binangun diselenggarakan saban Selasa dan Jumat. Ikeu, 34 tahun, adalah ibu dari salah seorang peserta didik penghayat yang datang lebih awal dibandingkan yang lain hari itu. Di sana, dia bertemu dan lalu berbincang akrab dengan Heni, 31 tahun, ibu dari anak penghayat yang lain.

Ikeu dan Heni termasuk dalam generasi penghayat yang tumbuh dalam masa-masa sulit terkait pengakuan identitas sebelum akhirnya negara memfasilitasi aliran kepercayaan masuk ke dalam administrasi kependudukan pada 2017. Banyak ketidakadilan yang harus mereka terima.

“Saya waktu sekolah masih memakai KTP muslim. Beres sekolah biasanya diajak oleh orang tua di berbagai acara dari Budi Daya. Memang orang tua itu (menganut) kepercayaan,” ujar Ikeu.

Setelah terbit pengakuan dari pemerintah, Ikeu mengingat dia bersama sesama penghayat kepercayaan lain berbondong-bondong mengganti keterangan identitas di kolom agama KTP mereka. Sekarang, dalam Kartu Identitas Anak (KIA) pun sudah tertulis: penghayat kepercayaan.
Di zaman yang sudah berubah, Ikeu berharap agar anak-anaknya sejak usia dini sudah tahu dan sadar bahwa mereka pemeluk kepercayaan leluhur, bahwa penghayat agama karuhun adalah identitas dan jati diri mereka.

“Ingin anak bisa menjelaskan (kepercayaan mereka) nantinya kalau sudah besar,” ujar Ikeu.

Heni juga belajar tentang aliran agama kepercayaan Budi Darma dari kedua orang tuanya. Pengubahan kolom agama di KTP menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Heni menikah dengan lelaki ber-KTP Islam dan sampai sekarang hidup rukun dalam bingkai toleransi.
Mertua Heni pun sudah mengetahui dan bisa menerima bahwa dirinya menganut keyakinan berbeda. Suaminya bahkan mau mempelajari kepercayaan Heni sehingga keduanya mampu saling memahami dalam perbedaan. Ia menyetujui anak-anak mereka dikenalkan pada keyakinan Heni: Budi Daya.

“Tapi masalah agama mah, semua juga mengajarkan kebaikan,” katanya meyakinkan.
Heni bersyukur, program penyuluhan penghayat Budi Daya di Pasewakan Saka Binangun tidak hanya diperuntukkan anak-anak usia dini. Ibu-ibu punya jadwal tersendiri untuk mendalami ajaran dan kesenian.

Di Kampung Cibedug, jumlah penghayat kepercayaan aliran Budi Daya tercatat sebanyak 70-80 kepala keluarga (KK). Pendataan dilakukan secara mandiri oleh orang-orang muda penghayat.

Bale Pasewakan Saka Binangun, yang menjadi pusat kegiatan warga penghayat, berdiri di tengah perkampungan berpenduduk mayoritas muslim. Namun, toleransi terjaga dengan baik di kaki Gunung Tangkuban Parahu ini. Sewaktu ada tetangga muslim yang meninggal, warga kepercayaan turut mengantarkan jenazah dan berpartisipasi dalam tahlilan. Sebaliknya, bila ada pemeluk penghayat yang meninggal, tetangga muslim memberi dukungan dengan mengikuti acara pangeling-pangeling, sebuah tradisi bagi orang yang sudah tiada yang dijalankan masyarakat penghayat.

“Jadi di sini mah saling-siling aja,” ucap Heni.

*Artikel ini merupakan kerja sama antara BandungBergerak dan INFID melalui program PREVENT x Konsorsium INKLUSI sebagai bagian dari kampanye menyebarkan nilai dan semangat toleransi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta inklusivitas.

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//