• Kolom
  • CATATAN SI BOB #11: Yang Tak Diizinkan untuk Diucapkan

CATATAN SI BOB #11: Yang Tak Diizinkan untuk Diucapkan

Indonesia hari ini, di mana batasan-batasan tak terucap lebih efektif daripada sensor resmi. Bukankah itu yang membuat pembungkaman hari ini begitu efektif?

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Aksi Teater Payung Hitam di depan pintu studio teater yang digembok setelah pihak kampus melarang pentas teater Wawancara Dengan Mulyono di Studio Teater ISBI Bandung, 16 Februari 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

26 Februari 2025


BandungBergerak.id – Petang terurai di Kota Bandung. Cleon, 27 tahun, menatap gitar yang bersandar di dinding studionya. Ada sesuatu yang menyesakkan tentang alat musik itu. Seolah ia adalah saksi bisu dari apa yang tidak boleh dinyanyikan, tidak boleh dikatakan. Seolah senar-senarnya tahu, nada-nadanya mengerti, bahwa di negeri ini, kebebasan berkesenian telah menjadi sebuah ilusi yang dipelihara dengan hati-hati.

Mungkin kesadaran itu datang perlahan. Seperti air yang menggerus batu. Seperti waktu yang mengikis harapan. Cleon tidak mengalami euforia reformasi. Baginya, dan bagi banyak anak muda sepertinya, reformasi adalah cerita yang dituturkan orang lain, tentang masa lalu yang berjanji namun tak kunjung tiba. Yang ia alami adalah Indonesia hari ini, di mana batasan-batasan tak terucap lebih efektif daripada sensor resmi.

Dalam sejarah musik, ada momen-momen ketika lagu menjadi senjata. Ketika melodi mampu mengguncang fondasi kekuasaan. Di Chile, lagu-lagu Victor Jara begitu ditakuti oleh rezim Pinochet hingga mereka membunuhnya. Di Amerika, "Strange Fruit" yang dinyanyikan Billie Holiday menggugah kesadaran tentang rasisme. Di Indonesia? Cleon mendesah. Kemarin lagunya tentang penggusuran kampung ditolak oleh promotor festival. "Terlalu politis," kata mereka. "Tidak cocok dengan tema festival," tambah mereka. Tema festivalnya adalah "Suara Rakyat".

Siapa yang takut pada lagu? Pada lukisan? Pada puisi? Pertanyaan itu mengusik Cleon. Ia ingat pertemuan di kafe seminggu lalu. Seseorang, entah siapa, mengambil foto ketika temannya, seorang penyair, membacakan puisi tentang korupsi. Esoknya, kafe itu mendapat "kunjungan". Tidak ada yang perlu dikatakan dengan keras. Sebuah "saran" bahwa acara seperti itu sebaiknya tidak diadakan lagi sudah cukup. Kekuasaan tidak lagi perlu menggunakan kekerasan ketika ketakutan sudah tertanam begitu dalam.

Baca Juga: CATATAN SI BOB #8: Viral Seni, Viral Sepi
CATATAN SI BOB #9: Garcia adalah Balada Sedih Kota ini
CATATAN SI BOB #10: Tomi dalam Skena Pinjaman Online

Pembungkaman

Di republik lain, di tanah yang berbeda, di zaman yang berbeda, mungkin ini semua akan terdengar berlebihan. Lagi pula, tidak ada penjara yang menunggu. Tidak ada regu tembak yang mengancam. Tidak ada penyiksaan fisik yang dikhawatirkan. Tetapi bukankah itu yang membuat pembungkaman di Indonesia hari ini begitu efektif? Ia tidak meninggalkan bekas. Tidak meninggalkan cerita. Tidak meninggalkan martir. Hanya keheningan yang perlahan menggantikan suara.

Cleon bukan orang yang naif tentang kebebasan. Ia tahu bahwa di mana pun, kebebasan memiliki batasannya. Tetapi sebuah negara yang dewasa seharusnya tidak takut pada kritik. Sebuah demokrasi yang sehat seharusnya tidak gentar pada pertanyaan. Ketika kekuasaan mencoba membungkam seni, itu bukan tanda kekuatan, melainkan ketakutan. Dan dalam ketakutan itu, mungkin tersimpan pengakuan, bahwa lagu, puisi, lukisan, memang memiliki kekuatan untuk mengubah.

Pagi tadi, di beranda depan, Cleon membaca tentang seorang pelukis yang pamerannya dibatalkan. Karyanya dianggap "tidak sesuai nilai-nilai budaya kita". Siapa "kita" dalam kalimat itu? Siapakah yang berhak mengklaim kepemilikan atas nilai? Apa artinya menjadi Indonesia jika tidak ada ruang untuk perbedaan, untuk pertanyaan, untuk keraguan? Di satu sisi, kita membanggakan diri sebagai negeri majemuk. Di sisi lain, kemajemukan itu dipagari dengan begitu banyak "tetapi" dan "kecuali".

Di Eropa abad pertengahan, gereja membakar buku-buku yang dianggap bidah. Di masa kini, pembakaran tidak lagi diperlukan. Ada cara-cara yang lebih "beradab" untuk membungkam penolakan izin, tekanan sosial, kampanye pencemaran nama baik, atau yang paling efektif: ketakutan yang sudah terinternalisasi. Galileo mungkin dipaksa untuk menarik teorinya, tetapi ia tetap berbisik: "Eppur si muove" (Namun bumi tetap bergerak). Musisi seperti Cleon bahkan tidak memiliki kemewahan untuk berbisik.

Terus Berkarya

Ada saat-saat ketika Cleon bertanya pada dirinya sendiri, apakah ini semua sepadan? Terus berkarya dalam batasan yang semakin sempit, atau menyerah dan menulis lagu-lagu "aman" tentang cinta dan patah hati? Bukankah lebih baik didengar dengan konformitas daripada dibungkam dengan kejujuran? Tetapi kemudian ia teringat kata-kata Pramoedya: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." Mungkin itu juga yang terjadi dengan karya seni yang tidak pernah lahir karena ketakutan hilang sebelum sempat ditemukan.

Usia 27 tahun adalah usia yang aneh bagi seorang musisi. Di usia yang sama, banyak musisi legendaris telah pergi: Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Amy Winehouse. Mereka memilih jalan mereka sendiri, meski tragis. Cleon masih di sini, masih hidup, tetapi sering bertanya-tanya: apakah berkarya dalam keterbatasan masih bisa disebut hidup? Apakah nyanyian yang teredam masih bisa disebut musik? Nietzsche pernah menulis bahwa tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan. Mungkin tanpa kejujuran, musik juga adalah sebuah kesalahan.

Tidak semua malam berakhir dengan kesuraman. Ada pertemuan-pertemuan kecil di studio, di ruang-ruang sempit, di sudut-sudut kota, di mana ide masih mengalir bebas. Di mana kritik masih ditanggapi dengan diskusi, bukan ancaman. Di mana berbeda pendapat masih dianggap sebagai bagian dari percakapan, bukan pengkhianatan. Mungkin di tempat-tempat inilah harapan masih tersimpan dalam komunitas-komunitas kecil yang menolak untuk takut. Yang menolak untuk diam.

Malam ini, di studionya yang sempit, Cleon kembali pada gitarnya. Jari-jarinya memetik senar, mencari nada yang tepat untuk lagu baru. Lagu tentang harapan, tentang perlawanan, tentang kebebasan. Ia tidak tahu apakah lagu ini akan didengar banyak orang. Ia tidak tahu apakah lagu ini akan menemukan jalannya ke dunia. Tetapi ia terus menulis, terus berkarya. Sebab dalam setiap nada yang ia ciptakan, dalam setiap lirik yang ia tulis, ada sedikit perlawanan terhadap ketakutan. Terhadap pembungkaman. Terhadap keheningan yang ingin dipaksakan. Dan mungkin, dalam perlawanan kecil ini, dalam keteguhan untuk tetap bersuara meski dalam bisikan, ada bentuk kebebasan yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun. Bahkan oleh ketakutan itu sendiri.

*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel menarik lain Bob Anwar, dan tulisan-tulisan lainnya tentang musik

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//