Orang Utan Kalimantan Lahir di Tengah Sengketa Lahan Bandung Zoo
Bayi orang utan lahir di tengah kisruh sengketa lahan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.
Penulis Prima Mulia28 Februari 2025
BandungBergerak.id - Perawat satwa menggendong bayi orang utan berusia 71 hari berbobot 1,5 kilogram di klinik satwa Bandung Zoo di Bandung, 21 Februari 2025. Bayi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang belum diberi nama ini lahir dari indukan Pehong (26 tahun) dan Shakila (9 tahun). Orang utan Kalimantan adalah satwa dilindungi dengan status konservasi kritis akibat musnahnya habitat alami, perubahan iklim, dan perburuan liar.
Bayi orang utan ini lahir di tengah kisruh sengketa lahan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo dengan Pemerintah Kota Bandung yang berbuntut pada penyegelan beberapa bangunan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat. Ini adalah bayi orang utan ke-3 yang lahir di Bandung Zoo, sebuah prestasi terbaik yang menegaskan bahwa fungsi Bandung Zoo sebagai lembaga konservasi berjalan dengan semestinya.
"Umurnya sekitar 71 hari, sejak hari pertama lahir induknya tidak mau merawatnya. Jadi langsung kami ambil alih untuk perawatan. Tetap dicoba untuk menyerahkan bayi orang utan ke induknya tapi selalu didiamkan. Ini memang bayi pertama Shakila," kata veteranian Bandung Zoo Dedi Trisasongko.
Shakila merupakan orang utan betina usia 9 tahun hasil penyitaan BBKSDA yang diserahkan ke Bandung Zoo. Tidak diketahui latar belakang orang utan ini sebelumnya.
Menurut Dedi saat ini bayi orang utan masih di bawah perawatan penuh tim di klinik hewan Bandung Zoo karena perlu waktu untuk bisa disatukan dengan kedua induknya. Saat ini pakan yang bisa diberikan hanya susu dengan formula khusus untuk mencegah diare dan konstipasi. Pakan alami berupa buah-buahan baru bisa diberikan saat usia sudah lebih dari 6 bulan.
Bayi orang utan ini menambah koleksi orang utan Bandung Zoo menjadi 6 ekor. Beberapa tahun lalu tepatnya September 2017 Bandung Zoo jadi tempat kelahiran orang utan bernama Cinta Lestari. Orang utan pertama yang lahir di kebun binatang tertua di Bandung ini pemberian Wali Kota Ridwan Kamil.
Menurut Manajer Komunikasi Bandung Zoo Sulhan Syafii bayi orang utan yang baru lahir ini akan diberi nama oleh siapa pun yang mau jadi orang tua asuhnya kelak. Orang tua asuh ini terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan syarat mencintai satwa dan melakukan kunjungan rutin. Penentuan orang tua asuh akan melewati proses seleksi.
"Sekarang kita punya 6 orang utan termasuk yang baru lahir ini. Setelah dua tahun kita akan lakukan observasi dan dicoba masuk kandang. Untuk bayi orang utan baru kita akan seleksi calon orang tua asuhnya. Program orang tua asuh ini sudah berjalan pada dua ekor harimau Benggala dan empat ekor tapir," papar Syulhan.
Program ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan satwa melalui dukungan finansial dan perhatian lebih dari para pecinta satwa. Sebagian dari komitmen orang tua asuh adalah harus menanggung biaya perawatan selama tiga bulan pertama termasuk makanan dan dan kesehatan.
"Orang tua asuh juga punya akses bebas masuk untuk mengamati perkembangan satwa asuhannya," kata Sulhan.
Tiga spesies orang utan di Indonesia yaitu orang utan Kalimantan, Sumatera, dan Tapanuli, berstatus terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Selain perburuan liar, dampak perubahan iklim dan deforestasi yang sangat masif. Semua spesies orang utan terdaftar dalam Appendix I di Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), dilindungi hukum nasional dan internasional.
Diperkirakan jumlah orang utan Kalimantan di habitat alaminya kurang dari 70.000 individu, orang utan Sumatera (Pongo abelii) sekitar 14.000 individu, dan orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) sekitar 800 individu.
Sengketa ini dikhawatirkan mengorbankan kesejahteraan hewan-hewan yang bermukim di bonbin. Hewan-hewan liar yang umumnya dilindungi tentu tidak tahu menahu soal konflik manusia ini. Harus ada jaminan agar konflik perebutan aset tak menumbalkan satwa-satwa langka. Hal penting lainnya, perlu ada jaminan juga bagi para pekerja bonbin agar tidak terdampak dalam pusaran konflik.
Baca Juga: Satwa Liar Kebun Binatang Bandung dalam Pusaran Sengketa Lahan
Berebut Aset Strategis Kebun Binatang Bandung di Pengadilan
Cerita Pengunjung di Tengah Ancaman Penyegelan Lahan Kebun Binatang Bandung
Penyegelan sejumlah tempat di Bandung Zoo dilakukan seusai Kejati Jabar mendapatkan surat penetapan sita dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung, di mana kedua tersangka yaitu Sri Devi (S) dan Raden Bisa Bratakusuma (RBB) diseret ke meja hijau atas dugaan kasus penguasaan lahan Bandung Zoo secara ilegal. Keduanya diduga tidak pernah menyetorkan keuntungan hasil pengelolaan kebun binatang ke kas daerah Pemkot Bandung.
Sejauh ini penyegelan tidak menjadikan aktivitas di Kebun Binatang Bandung terhambat. Operasional masih berjalan seperti biasa, para pengunjung masih mengunjungi dan melihat satwa. Para karyawan juga tetap bekerja.
Dosen ahli ekologi manusia, etnobiologi, dan manajemen agroekosistem Universitas Padjadjaran Johan Iskandar mengingatkan, meski lahan bonbin sedang dalam sengketa tetapi hak-hak satwa tidak boleh terbengkalai hingga jatuh sakit. Terlebih kebun binatang merupakan tempat konservasi dan edukasi.
"Nah, untuk itu siapa pun pengelolanya jangan mengabaikan pengelola terhadap binatangnya, binatangnya tetap terpelihara malah sehat beranak pinak, di sana jangan mengabaikan objek utama," kata Johan, kepada BandungBergerak, Jumat, 7 Februari 2025.
Selain memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan satwa, Johan juga mengingatkan unsur penting lainnya yaitu para pekerja. "Idealnya sih, satwanya terpelihara tapi juga karyawan-karyawannya juga mendapatkan kesejahteraan yang memadai yang ada, masukan dari penghujung, atau dana lainnya," jelas Johan.
Johan menuturkan, keterbatasan dana operasional kebun binatang menjadi kendala umum yang dihadapi wahana-wahana alam liar. Hal ini mengakibatkan sulitnya memberikan pakan hewan terutama karnivora seperti harimau dan macan. Karena itu, Johan menegaskan kesejahteraan satwa harus seimbang.
*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel lain dari Prima Mulia, atau tulisan-tulisan menarik lain Kebun Binatang Bandung