• Opini
  • Kapan Jomlo Bisa Bahagia?

Kapan Jomlo Bisa Bahagia?

Ingat, jomlo itu fase, bukan status permanen. Manfaatkan masa jomblo untuk belajar, berkarier, dan memperluas jaringan sosial.

AM Farid Khuzairi

Seorang guru IPA di salah satu SMP di Makassar dan alumni PPG Prajabatan Universitas Negeri Makassar

Diskusi Sebelum Sabtu Sore, Jumat, 14 Februari 2025 di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, membahas permasalahan kejomloan. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak

26 Maret 2025


BandungBergerak.id"Kesendirian bukan berarti kesepian. Kadang, dalam sunyi kita justru menemukan makna hidup yang sesungguhnya." – Sujiwo Tejo

Menjadi jomlo bukanlah sebuah takdir yang harus selalu diwarnai dengan kesedihan dan keterasingan, seperti yang digambarkan dalam artikel "Susahnya Jadi Jomlo di Zaman Ini". Justru, status jomlo dapat menjadi momentum untuk menemukan kebahagiaan yang tidak bergantung pada orang lain.

Kebahagiaan seorang jomlo sering kali diukur dengan parameter yang salah, misalnya hubungan romantis. Padahal, menurut penelitian, kebahagiaan individu lebih berkaitan dengan kualitas hubungan sosial secara keseluruhan, bukan hanya hubungan romantis. Oleh karena itu, pertanyaan "Kapan jomlo bisa bahagia?" seharusnya dijawab dengan "Kapan saja," selama individu tersebut mampu membangun kehidupan yang bermakna dan hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri dan orang lain.

Baca Juga: Kejomloan Saya adalah Kesalahan Negara!
Tofan dan Betapa Pentingnya Keterlibatan Kaum Jomlo dalam Persoalan Aktual
Sesungguhnya Negara adalah Perusak dan Perampas Hubungan Asmara

Mitos dan Fakta Kejomloan

Dalam artikel tersebut, disebutkan bahwa menjadi jomlo identik dengan keterasingan dan rasa kesepian yang dieksploitasi oleh industri. Namun, fakta menunjukkan bahwa kesepian tidak hanya dirasakan oleh para jomlo. Banyak orang yang menjalin hubungan romantis tetap merasa kesepian karena hubungan tersebut tidak memenuhi kebutuhan emosional mereka. Sebaliknya, seorang jomlo yang menikmati kehidupan sosialnya bisa saja merasa lebih terpenuhi dibanding mereka yang berada dalam hubungan yang kurang sehat.

Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, indeks kebahagiaan penduduk yang belum menikah mencapai 71,53, lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sudah menikah dengan indeks 71,09. Kelompok yang paling rendah tingkat kebahagiaannya adalah mereka yang berstatus cerai hidup, dengan indeks 67,83.

Psikolog Bella DePaulo dari University of California, Santa Barbara, menegaskan bahwa menjadi lajang bukanlah kondisi yang menyedihkan, melainkan gaya hidup yang memuaskan dan penuh kebahagiaan bagi banyak orang. Dalam bukunya, "Single at Heart: The Power, Freedom and Joy of Single Life," DePaulo menyoroti bahwa beberapa orang secara alami lebih bahagia hidup sendiri. Elyakim Kislev dalam bukunya “Happy Singlehood” mengemukakan bahwa jomlo yang bahagia adalah mereka yang menemukan makna dalam kehidupan mandiri mereka. Artinya, kebahagiaan seorang jomlo tidak terletak pada pencarian pasangan, melainkan pada cara mereka menikmati hidup.

Komitmen dan Kebebasan

Dikotomi antara komitmen dan kebebasan, seperti yang diangkat dalam artikel, sebenarnya adalah persoalan prioritas individu. Generasi saat ini mungkin lebih menghargai kebebasan dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi bukan berarti mereka mengabaikan nilai komitmen. Mereka justru mencari cara untuk menyeimbangkan kebebasan pribadi dengan hubungan yang sehat.

Perspektif Self-Determination Theory menjelaskan bahwa kebebasan dan otonomi adalah bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan manusia. Dalam konteks ini, generasi sekarang tidak menolak komitmen, tetapi berupaya menyelaraskannya dengan kebutuhan akan otonomi dan pengembangan diri, sebagaimana dijelaskan dalam teori aktualisasi diri Maslow. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, mindfulness dapat menjadi alat praktis yang membantu individu menerima status mereka dengan penuh syukur, sementara self-compassion memungkinkan mereka mencintai diri sendiri dan menemukan kebahagiaan sejati tanpa bergantung pada validasi eksternal.

Menurut Dr. Kristin Neff, self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap baik dan peduli pada diri sendiri, terutama saat menghadapi kegagalan, rasa malu, atau kesulitan. Konsep ini terdiri dari tiga elemen utama. Pertama, kebaikan pada diri sendiri (self-kindness), yaitu menghindari kritik berlebihan terhadap diri sendiri dan memperlakukan diri dengan kelembutan, sebagaimana kita memperlakukan orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Kedua, kemanusiaan bersama (common humanity), yaitu menyadari bahwa setiap orang mengalami tantangan dalam hidup, sehingga kita tidak merasa sendirian dalam penderitaan. Ketiga, kewaspadaan penuh (mindfulness), yaitu memiliki kesadaran terhadap rasa sakit atau emosi negatif tanpa berlebihan, serta menerima pengalaman tersebut tanpa menghakimi. Mindfulness sendiri adalah kemampuan untuk tetap hadir sepenuhnya dalam momen saat ini dengan sikap terbuka dan tanpa penolakan.

Ketika manusia berusaha memenuhi ekspektasi sosial tentang pernikahan dan pasangan hidup, mereka sering kali kehilangan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri. Padahal, kebahagiaan sejati dimulai dari dalam diri. Jika jomlo bisa menerima dan mencintai dirinya sendiri, mereka akan mampu menemukan kebahagiaan di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun.

Kebahagiaan itu Proses, Bukan Tujuan

Penting untuk dipahami bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang ditemukan di luar diri, melainkan di dalam proses perjalanan hidup. Menjadi jomlo memberikan fleksibilitas yang lebih besar, memungkinkan individu untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi dan fokus pada pengembangan diri. Seorang jomlo dapat meraih kebahagiaan dengan mengembangkan potensi diri, berkontribusi kepada masyarakat, dan menjalin hubungan yang bermakna dengan orang-orang di sekitar mereka.

Meskipun menjadi jomlo bisa memberikan banyak manfaat, seperti kebebasan dan kesempatan untuk mengembangkan diri, masa ini bukanlah kondisi yang harus dipertahankan selamanya. Pernikahan yang bahagia tetap menjadi impian banyak orang karena memberikan kesempatan untuk berbagi hidup, tumbuh bersama, dan menghadapi suka duka secara kolektif.

Penting untuk memandang pernikahan bukan sebagai beban atau kewajiban, tetapi sebagai perjalanan yang penuh makna. Dengan mempersiapkan diri –baik dari segi emosional, finansial, maupun spiritual– masa jomlo dapat menjadi waktu yang berharga untuk mengenal diri sendiri dan mempersiapkan fondasi yang kokoh bagi hubungan jangka panjang. Pada akhirnya, cinta yang tulus dan komitmen yang kuat adalah kunci menuju pernikahan yang bahagia dan bermakna.

Jadi, kapan jomlo bisa bahagia? Jawabannya sederhana: saat mereka memilih untuk menjadi bahagia, bukan karena status hubungan mereka, melainkan karena keputusan mereka untuk hidup sepenuhnya. Dengan demikian, kebahagiaan tidak ditentukan oleh status pernikahan. Menjadi jomlo dapat menjadi pilihan hidup yang membawa kepuasan dan kebahagiaan, tergantung pada bagaimana individu tersebut memaknai dan menjalani kehidupannya. Tetapi ketika saatnya tiba, pernikahan yang dibangun di atas kesadaran dan kesiapan akan menjadi sumber kebahagiaan yang sesungguhnya.

Jangan terlalu santai menikmati masa jomlo, nanti malah lupa kalau seharusnya mencari pasangan. Ingat, jomlo itu fase, bukan status permanen. Manfaatkan masa jomlo untuk belajar, berkarier, dan memperluas jaringan sosial. Siapa tahu, pasangan hidupmu adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu atau rekan kerja yang baru dikenali.

*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel menarik lainnya mengenai jomlo dan kejomloan

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//