Melihat Dampak Memprihatinan PLTU Batu Bara terhadap Ekonomi dan Pertanian di Indramayu
Meski menghasilkan listrik untuk Jawa Bali, keberadaan PLTU batu bara menimbulkan dampak negatif pada masyarakat dan lingkungan sekitar.
Penulis Yopi Muharam27 Maret 2025
BandungBergerak.id - Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Indramayu menimbulkan dampak signifikan pada masyarakat dan lingkungan. Tidak hanya masalah polusi yang menyebabkan kesehatan menurun, tetapi mempengaruhi mata pencaharian masyarakat Indramayu yang notabene petani dan nelayan.
PLTU yang beroperasi sejak 2011 itu menempati lahan pertanian berupa sawah dan palawija seluas 327 hektare. Proyek ini mengalihfungsikan lahan pertanian yang masih produktif.
Ada tiga wilayah yang paling terdampak dari pembangunan PLTU, yaitu; Desa Sumuradem, Mekarsari, dan Patrol Lor. Menuru laporan dan riset tentang PLTU Batubara berjudul “Memadamkan Bara Kepak JATAYU Menghalau PLTU di Desa Mekarsari, Indramayu”, Desa Mekarsari menjadi wilayah dengan alih fungsi lahan paling besar, yaitu seluas kurang lebih 187 hektare.
Lahan seluas 187 hektare tersebut sebelumnya dimanfaatkan pemilik lahan dan buruh tani untuk menanam panen sebanyak dua kali dalam setahun. Dengan hasil panen padi dalam satu musim bisa menghasilkan rata-rata 4-5 ton per hektare.
Tidak hanya itu, banyak petani dan buruh tani juga memanfaatkan ruang pertanian pasca anen dengan menanam bawang merah. Bahkan, banyak masyarakat juga memanfaatkan pematang sawah untuk ditanami singkong dan pepaya.
“Dapat dipastikan, pembangunan PLTU batu bara akan sangat berdampak terhadap sumber mata pencaharian warga di sektor pertanian,” tulis laporan tim riset Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat yang diterbitkan 2023, diakses Kamis, 27 Maret 2025.
Walhi mencatat 10 besar jenis dan jumlah profesi di Desa Mekarsari dengan jumlah populasi 1.159 orang itu. Buruh tani menjadi yang tertinggi sebanyak 791 orang (68,2 persen), disusul petani 275 orang (23,7 persen), selanjutnya pedagang 22 orang (1,9 persen), peternak 20 orang (1,9 persen), penjahit 15 orang (1,3 persen), ASN 11 orang (0,9 persen), karyawan swasta 10 orang (0,9 persen), pertukangan 6 orang (0,5 persen), TNI-Polri 6 orang (0,5 persen), dan jasa 3 orang (0,2 persen).
Berubahnya fungsi hamparan lahan pertanian sangat berdampak pada hilangnya mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar merupakan petani penggarap dan buruh tani. Petani penggarap merupakan petani yang menyewa dari pemilik lahan. Sedangkan buruh tani adalah pekerja yang disewa penggarap untuk membantu. Pada dasarnya buruh tani tidak memiliki modal seperti petani penggarap.
Kedua profesi tersebut merupaka keahlian yang dimiliki mayoritas masyarakat Desa Mekarsari dan sekitarnya. “Sudah menjadi tradisi dalam satu keluarga, baik suami dan istri, bahkan anak mereka yang telah dewasa, untuk bekerja sebagai buruh tani,” terang tim riset.
Baca Juga: Dampak Buruk PLTU Batu Bara pada Lingkungan dan Manusia, Mencemari Udara dan Habitat Alami
Menyoal Ketidakhadiran Negara dalam Mengelola Dampak PLTU Batu Bara di Jawa Barat
PLTU di Jawa Barat sebagai Penyumbang Polusi Udara Lintas Batas
Tantangan bagi Orang Muda
Perwakilan orang muda Indramayu, Eri Irawan mengungkapkan. pascaberoprasinya PLTU 1 Indramayu pada 2011 silam banyak masyarakat mengalami kemorostan ekonomi. Orang-orang muda pun harus ikut serta membantu ekonomi keluarga.
Eri bercerita, banyak orang muda di Indramayu yang memilik bekerja di luar daerah, bahkan ke luar negeri untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW) atau tenaga kerja Indonesia (TKI). “Mata pencaharian hilang, banyak yang memilih ke luar daerah,” ungkap Eri yang juga aktif di Jaringan Tanpa Asap Indramayu (Jatayu), dikutip dari reportase di acara diskusi publik “Co-firing biomassa: Tipu-tipu Pensiun Dini PLTU” di Bandung, 5 November 2024.
Mengutip dari laman databoks Indramayu menjadi Kabupaten asal menduduki peringkat pertama pekerja migram Indonesia terbanyak pada tahun 2023, sebanyak 19.178 orang, disusul Lombok Timur 13.111 orang dan Cilacap 11.344 orang.
Eri menerangkan alasan di balik banyaknya pekerja migran dari Indramayu karena banyak orang tua di Indramayu, tepatnya di Kecamatan Sukra dan Patrol yang bekerja sebagai petani dan nelayan telah merasakan dampak penurunan pendapatan akibat adanya PLTU.
Dampaknya menurut Eri ialah banyak orang muda yang tidak melanjutkan pendidikan karena himpitan ekonomi. Kebanyakan anak muda di Indramayu, lanjutnya, putus sekolah di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menangah Atas.
Tidak hanya itu, menurut Eri proyek PLTU ini berdampak pada penurunan pendapatan pertanian dan kelautan. Contohnya ialah menurutnya produksi padi dan tanaman bawang merah yang rentan terserang hama. Sementara bagi nelayan, dampak yang paling terasa ialah mengurangnya tangkapan ikan, rebo, bahkan tambak garam yang semakin tersisih keberadaannya. Lautan pun semakin tercemar.
“Kemarin beberapa warga ada yang mencoba mencari rebon dan mereka mengaku ada penurunan pendapatan 50 sampai 75 persen,” terangnya. alasanya “Karena paling banyak mereka bisa mendapatkan 15 kilogram rebon dan dengan wilayah tangkap yang semakin jauh,” lanjutnya.
Klaim Pemberdayaan Masyarakat
Laman resmi PLN menyarakan, PLTU Indramayu merupakan pembangkit listrik tenaga uap yang dikelola oleh anak usaha PLN, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) memiliki total kapasitas energi sebesar 3×330 megawatt (MW).
Di tahun 2019, PLTU Indramayu memperoleh penghargaan Proper Hijau. Proper adalah program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sejak tahun 1995. Program ini dilakukan untuk mendorong perusahaan meningkatkan pengelolaan lingkungannya.
Proper Hijau diberikan kepada perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan oleh KLH.
PLTU Indramayu memanfaatkan sisa hasil pembakaran batu bara berupa fly ash dan bottom ash untuk dikelola menjadi paving block.
“Produksinya memang belum terlalu besar, kami bisa produksi 500 paving setiap hari. Hasil dari paving block digunakan untuk kegiatan corporate social responsibility kepada warga sekitar pembangkit,” tutur General Manager UBJOM Indramayu, Ubaedi Susanto.
Sebagai salah satu daerah penghasil beras terbesar di Jawa Barat, PT PJB juga terus mendukung pertanian di sekitar PLTU Indramayu dengan mendorong masyarakat untuk menggunakan pupuk organik melalui berbagai pelatihan dan pembinaan.
“Sebelumnya masyarakat khawatir kalau pakai pupuk organik hasilnya berkurang, ternyata sama dengan menggunakan pupuk sintetis, padahal biaya operasional menggunakan pupuk organik lebih murah. Sekarang banyak masyarakat yang ikut tertarik,” ujar Ubaedi.
*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel lain dari Yopi Muharam, atau reportase-reportase lain mengenai Proyek Strategis Nasional