• Kolom
  • Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (58): Nyaba ke Garut

Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (58): Nyaba ke Garut

Di Garut pada pagi hari itu jugalah saya untuk pertama kalinya melihat kereta api. Lokomotifnya besar, gagah berwarna hitam.

T. Bachtiar

Geografiwan Indonesia, bisa dihubungi via ig: @tbachtiargeo

Suasana di Cipanas, Garut, yang terkenal dengan pemandian air panasnya, sekitar tahun 1900. (Sumber foto: Koleksi KITLV 1402183)

18 Mei 2022


BandungBergerak.id - Bepergian naik kendaraan jarang sekali terjadi. Ketika ada kabar kami akan ikut nyaba, akan ikut bepergian ke Garut, girangnya bukan main.

Kami akan nyaba ke paman yang rumahnya di Garut. Kami menyebutnya Mang Iki. Nama lengkapnya Mang Subki. Paman menjadi Polisi Militer, bertugas di Kota Garut. Gagah sekali dia dengan pakaian hijau hijau, berbaret biru, dengan syal yang sewarna dengan warna baretnya. Sepatu butnya ada bagian yang dicat warna putih. Sabuknya besar warna putih, dan ada pistol menggantung di sabuknya. Kalau ada pejabat penting yang datang ke Garut, paman selalu mengawal paling depan.

Mang Iki terkenal jago menembak benda bergerak sambil berdiri. Rumahnya tidak jauh dari rel kereta api antara Stasiun Garut dengan Stasiun Cikajang. Dari Jalan Cimanuk, Garut, berbelok sedikit ke Jl Paminggirsari, rumahnya persis berada di belakang pabrik coklat.

Kalau pabrik itu sedang menyangrai coklat, aromanya menyebar ke seluruh rumah. Saya sering mencium aroma itu, dan ikut merasakan coklatnya kalau lebaran tiba. Pengelola pabrik, membagikan bingkisan beragam coklat yang sudah dikemas bagus seperti di toko, ke rumah-rumah yang berada di seputar pabrik.  

Jauh-jauh hari, Abah sudah membuat tingkem, kontainer, wadah yang bentuknya persegi empat. Seperti dus bekas biskuit yang sekarang banyak dipakai wadah oleh para pemudik. Ukurannya kira-kira 40 cm x 30 cm x 30 cm, terbuat dari anyaman bambu. Empat sisi bagian atas berfungsi sebagai penutupnya. Kekuatan tingkem sudah jangan diragukan lagi. Dibanting dari atas bus juga isinya akan tetap utuh, tidak seperti dus bekas mie instan, yang kena basah sedikit saja langsung jebol.

Pada tahun 1960-an, tingkem menjadi wadah yang khusus kalau akan bepergian jauh, apakah ke Garut atau ke Bandung. Saat itu, sudah dapat dipastikan, mengemas bawaannya, khususnya makanan dan hasil bumi, akan disusun di dalam tingkem. Isi tingkem itu umumnya oleh-oleh yang tidak ada atau jarang dibuat di kota, seperti peuyeum (tape ketan), opak, kolontong (opak manis), keré (dendeng) ikan mujair, kelapa tua, dan beras. Sedangkan pakaian dimasukan ke dalam koper yang terbuat dari kaleng tebal.

Sejak tahun 1970-an, tingkem mulai menghilang. Sudah tidak lagi digunakan oleh orang-orang Pameungpeuk yang akan merantau kembali ke kota. Mungkin dalam persepsinya, yang membawa tingkem itu dari terkesan dari kampung, seiring dengan adanya wadah bentuk baru yang mulai ada. Kata tingkem pun penggunaannya terbatas, terutama di Pameungpeuk, sehingga tidak populer di Tatar Sunda. Lema tingkem hanya ada dalam Kamus Basa Sunda yang disusun oleh RA Danadibrata. Dalam kamus lainnya yang pernah terbit, para penyusunnya tidak mengenal kata tingkem, sehingga tidak memuat kata itu dalam kamus yang disusunnya.

Baca Juga: Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (57): Kosakata Bahasa Sunda yang Mulai Jarang Dipakai
Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (56): Menjelang Lebaran, Daki Dibersihkan dengan Gemuk Mesin Jahit
Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (55): Proses Panjang Menanam Padi di Sawah

Membeli Tape Singkong dan Melihat Kereta Api

Sore hari kami sudah sampai di rumah paman. Terasa lemas sekali, kepala pening, dan tercium aroma bau. Selama dalam perjalanan, saya mabuk kendaraan.

Dari stanplat Maktal, kami menaiki becak. Lingkungan perkotaan sudah terasa, suasananya berbeda dengan lingkungan rumah di Pameungpeuk. Melangkah sedikit saja dari rumah paman, terlihat begitu banyak kendaraan yang lalu lalang. Aneh melihat begitu banyak kendaraan di jalanan beraspal.

Lewat magrib, kami berempat disuruh membeli tape singkong. Saya tak mengetahui lokasinya, dan tak bertanya. Hanya saja harus berjalan kaki lumayan lama. Dari sekian orang yang berjualan tape singkong, ada satu orang penjual yang dagangannya tidak banyak dibeli. Bahkan terlihat tapenya masih menggunung.

Putra paman mengajak untuk membeli tape di pedagang yang tidak laku itu. “Kasihan,” katanya. Tidak banyak tawar-menawar, ia membeli tape singkong cukup banyak. Tapenya panjang-panjang dan besar. Sesampainya di rumah, tape singkong dipotong-potong oleh Bibi, katanya masih agak keras. Baru akan matang besok malam. Tapi saya mengambil tape yang sedikit empuk.

Pada pagi hari itulah saya untuk pertama kalinya melihat kereta api. Lokomotifnya besar, gagah berwarna hitam, dengan kepulan asap hitam yang mengalun ke belakang. Suara klaksonnya nyaring, getaran rodanya terasa keras sekali saat melintas di depan rumah paman. Dan, asapnya, terlihat seperti ada yang ke luar dari samping lokomotif. Asap putih itulah yang mengembus kuat ke tempat saya berdiri.

Sudah lama kereta api itu menghilang dari pandangan, tapi saya masih terkagum-kagum melihat tokomotif dengan rangkaian gerbong keretaapi yang panjang. Suara rodanya, suara klaksonnya, asap putihnya, asap hitam dari cerobongnya, masih terus terbayang.

Beruntung, sesaat kemudian, ada lagi kereta api yang lewat menuju Stasiun Cikajang. Saya lama sekali menatap kereta api. Inilah wujud kereta api yang sering diceritakan oleh orang-orang di kampung kami. Sering ada yang mengatakan, di sepanjang pantai di selatan kampung kami, katanya akan dibelit jalan besi, rel keretaapi.  Kali ini saya benar-benar melihat dan merasakan getarannya yang begitu kuat.

Ketika tak terdengar suara keretaapi, saya sengaja berjalan ke arah rel. Saya melihat relnya yang lurus, tapi di ujungnya terlihat melengkung berbelok. Selama di Pameungpeuk, kata orang-orang yang bercerita, rel kereta api lurus di sepanjang pantai, tak ada belokan seperti jalan tanah. Tapi di Garut, rel keretaapi itu ada belokannya. Saya ingin sekali naik kereta api.

Kami pun diajak piknik ke Cipanas. Ramai sekali di sana. Banyak yang berenang. Airnya panas. Saya tidak tertarik untuk berenang di kolam air panas. Di pinggir kolam air panas itu ada hamparan rumput. Di sanalah kami membuka bekal. Keluarga Bibi membawa bekal untuk makan siang. Ini yang saya nikmati.

Sedang enak makan, paman dengan kilat meloncat ke dalam kolam renang. Ada anak kecil yang yang tercebur ke kolam air panas, bahkan orang tuanya pun tak melihatnya. Saya semakin kagum pada paman yang menjadi Polisi Militer itu.   

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS