• Kolom
  • Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (60): Rujak dan Petis di Pameungpeuk, Ada yang Berbahan Mengkudu dan Kulit Kayu

Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (60): Rujak dan Petis di Pameungpeuk, Ada yang Berbahan Mengkudu dan Kulit Kayu

Di Pameungpeuk, Garut, camilan rujak tidak melulu terbuat dari buah-buahan. Ada yang berbahan sayuran, seperti kacang panjang, dan bahkan kulit kayu.

T. Bachtiar

Geografiwan Indonesia, bisa dihubungi via ig: @tbachtiargeo

Rujak kacang panjang, yang dicampurkan ke nasi yang menggunung di piring, menjadi salah satu makanan kegemaran penulis di masa kecilnya di Pameungpeuk, Garut. (Foto: T. Bachtiar)

1 Juni 2022


BandungBergerak.id - Bila Ema akan membuat rujak kacang panjang atau rujak hiris, saya selalu bersemangat. Siapa yang ikut membersihkan lumpang memakai air sampai bersih, sebelum dan sesudah lumpang itu dipakai membuat rujak, akan mendapatkan kesempatan untuk mengaduk nasi dengan sisa rujak kacang panjang yang tertinggal di dalam lumpang. Barangkali Ema sengaja mewadahi rujak tidak terlalu bersih, sehingga saya dengan suka hati menumbuk-numbuk nasi putih itu sampai terlihat kehijauan diselimuti rujak kacang panjang yang tersisa.

Hasilnya baru dikeruk dengan sendok. Ternyata banyak! Nasinya sepiring menggunung. Segera saya menghampiri Ema agar menambahkan rujak kacang panjang di atas nasi kehijauan. Ditambah kerupuk yang dibeli dari warung Ma Uka, dan goreng ikan asin sepat, makan nasi dengan rujak kacang panjang terasa nikmat sekali.

Di Pameungpeuk, istilah rujak itu sama dengan rujak bebek. Yang dibuah rujaknya bukan hanya buah-buahan, tapi juga sayuran. Umumnya kacang panjang dan hiris yang masih muda. Bila ada kacang panjang atau hiris yang sudah agak tua, dengan biji yang sudah cukup besar, bijinya tetap dipakai, tapi cangkangnya yang sudah agak keras dibuang.

Pengertian rujak di kampung kami berbeda dengan pengertian rujak di beberapa daerah di luar kampung kami. Di tempat lain, pengetian rujak itu sama dengan rujak uleg atau rujak coel, rujak colek, yang di kampung kami disebut petis. Semua buah-buahannya sedang humaseum, sedang masam-masamnya, dan yang gumading, rasanya sudah tidak masam lagi, dengan warna dagingnya yang tidak terlalu hijau, tapi berwarna gading bergradasi jingga muda, menjelang matang.

Setiap perayaan 17 Agustusan, di pinggir alun-alun ada yang berjualan petis kangkung kukus, petis eceng, genjer kukus, selain petis pepaya dan mangga yang gumading. Saya paling suka petis kangkung. Wadahnya dari daun pisang yang ditekrok, dibentuk kerucut ceper, disemat dengan lidi kelapa. Bumbunya diambil dari dalam rantang belang-belang, dengan rasa pedas yang sudah tidak bisa dipesan lagi.

Anak-anak yang tidak kuat pedas, bila petisnya sudah habis, ia akan berjalan kembali menemui tukang petis untuk meminta garam. Telunjuknya dicolekkan ke garam, lalu dioleskan di kedua bibir, dan dijilati sedikit demi sedikit, sampai rasa pedas itu hilang. Petis di kampung kami berbeda dengan petis di luar kampung kami yang berupa irisan kupat, tahu goreng, dengan bumbu yang ditambahkan ke dalamnya petis berwarna hitam.

Di sudut depan sebelah barat kantor Kewadanaan Pameungpeuk, di seberang alun-alun, di pinggir jalan raya yang menuju Pantai Cilauteureun, di bawah pohon ketapang yang rindang, di sana ada Mok Emis yang berjualan petis buah-buahan. Cobeknya dari batu besar, dengan mutu, ulekan yang besar pula, dibuat dari akar bambu. Di daerah yang udaranya panas, petis menjadi camilan, kudapan yang sangat disukai warganya.

Di rumah-rumah pun, di tepas, di teras rumah, atau di bawah pohon yang rindang, sebelum tengah hari, ibu-ibu atau anak-anak berkelompok membuat petis, atau membuat rujak bebek. Buah untuk rujak bebek buah apa saja sesuai musim. Ada belimbing, jambu aer, jambu mede, atau jambu monyet. Semua buah-buahan itu dijadikan coel petis-nya. Bila sedang musim mangga, mangga muda diiris kecil-kecil, bisa menjadi coel petis, atau irisan manga muda itu ditumbuk menjadi rujak bebek. Ketika musim ceremai, ceremailah yang ditumbuk dibuat rujak.

Baca Juga: Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (59): Ada Kata-kata yang Hanya Dimengerti oleh Orang Pameungpeuk, Ada Kata-kata yang Berbeda Makna
Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (58): Nyaba ke Garut
Ingatan Masa Kecil 1965-1970 (57): Kosakata Bahasa Sunda yang Mulai Jarang Dipakai

Mengkudu dan Kulit Kayu

Bahkan ketika mengkudu banyak berbuah, mengkudu yang masih muda tak terlewatkan untuk dibuat rujak cangkudu. Hanya saja bumbu untuk rujak cangkudu berbeda dengan bumbu rujak bebek buah mangga muda. Bumbu untuk rujak cangkudu tidak manis, tapi ke dalam bumbunya ditambahkan irisan kunir atau kunyit, lalu ditumbuk. Hasilnya rujak cangkudu berwarna agak kekuningan, dengan aroma yang terasa lebih enak, tidak bau mengkudu muda.

Pengertian rujak pun bisa berarti makanan dan minuman untuk persembahan atau sesajen, sesaji. Umumnya terdiri dari kelapa muda, irisan pisang, gula merah, kemudian diseduh air panas. Ada sesaji berupa rujak asem, yang terdisi dari asam, gula merah yang diseduh air panas. Tentu ada juga rujak dengan beragam buah-buahan dan makanan lainnya. Sesajen rujak ini dapat dilengkapi, ditambahkan telur, rokok atau cerutu, bunga-bungaan, dan air kopi.

Ada satu lagi, rujak yang sangat purba jenisnya, yang saat saya kecil pun sudah sangat langka, dan orang yang biasa membuatnya hanya tinggal satu-dua orang saja, dengan usia yang sudah sepuh. Rujak kering dari kulit kayu. Kulit kayu dipotong-potong hingga kecil, lalu ditumbuk sampai halus-kasar, kemudian diberi bumbu sambil terus ditumbuk sampai tercampur rata.

Saat itu kami menyebutnya papagan. Papagan ini bisa dimakan langsung, atau dijadikan sambal yang dicoel dengan pucuk daun tertentu, yang berdasarkan pengalaman para sepuh itu menjadi terasa lebih pas, lebih enak. Saya tidak sempat bertanya saat itu, dibuat dari kulit kayu jenis apa, dan bumbunya apa saja.

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS