• Nusantara
  • Kedokteran Gigi Indonesia Menghadapi Isu Lingkungan dan Pemerataan

Kedokteran Gigi Indonesia Menghadapi Isu Lingkungan dan Pemerataan

Kekurangan dokter gigi dan isu lingkungan membayangi peta kesehatan di Indonesia. Unpad berusaha mewujudkan smart and green dentistry.

Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Rina Indiastuti mendengar paparan Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Dudi Aripin, mengenai konsep “Smart and Green Dentistry” dalam acara puncak “Smart and Green Dentistry 2” di Gedung Dekanat FKG Unpad, Jatinangor, Kamis (2/5/2022). (Foto: Dadan Triawan/Unpad)*

Penulis Iman Herdiana3 Juni 2022


BandungBergerak.idJumlah tenaga medis di Indonesia tidak merata. Sebaran garda depan di bidang kesehatan ini pun lebih banyak di perkotaan. Masalah ini misalnya terjadi di bidang kedokteran gigi di mana jumlah dokter gigi lebih banyak menumpuk di kota. Di saat yang sama, kedokteran gigi dihadapkan pada isu lingkungan, yakni mewujudkan smart and green dentistry untuk mencegah polusi lingkungan.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad), Dudi Aripin menjelaskan, konsep smart and green dentistry merupakan penggabungan konsep school of dentistry with excellent management to achieve best research and technology (Smart) dengan integrasi inovasi, produktivitas efektif dan efisien, serta mencegah polusi lingkungan di bidang kedokteran gigi.

Ia menyebut konsep baru ini akan diterapkan di FKG Unpad sekaligus menjadi program unggulan. “FKG Unpad diharapkan berkontribusi dalam pencapaian target Unpad masuk 500 besar perguruan tinggi dunia,” kata Dudi saat memberikan sambutan pada acara puncak “Smart and Green Dentistry 2022” FKG Unpad di Kampus Jatinangor, Kamis (2/6/2022).

Konsep smart and green dentistry diimplementasikan melalui pemanfaatan beragam material dan teknologi mutakhir di bidang kedokteran gigi. Beberapa yang diaplikasikan, yaitu: teknologi replikasi virtual akurat jaringan rongga mulut dengan pemindaian tiga dimensi (digital impression), teknologi digital dalam prostodontik, rekonstruksi mandibula dengan operasi komputer, rekonstruksi cacat wajah dengan CAD, hingga penggunaan bahan aktif ramah lingkungan.

Sementara konsep green dentistry menggunakan pendekatan teknologi tinggi untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas kedokteran gigi, seperti manajemen limbah klinik gigi; teknologi yang menawarkan diagnosis dini, terapi pencegahan, dan pendidikan untuk melayani kebutuhan gaya hidup sehat; penggunaan material yang bisa didaur ulang; hingga eksplorasi tanaman obat untuk kesehatan gigi.

Baca Juga: Museum Berperan Memulihkan Ekonomi Masyarakat
Melepas Eril di Sungai Aare
NGULIK BANDUNG: Dua Legenda Gunung Tangkuban Parahu

Krisis Dokter Gigi

Selain isu lingkungan, Indonesia kekurangan jumlah dokter gigi spesialis. Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Usman Sumantri mengatakan, saat ini jumlah dokter gigi spesialis di Indonesia masih sangat kurang.

“Di ASEAN saja, kita setara dengan negara kelas menengah bawah. Kita cuma punya 4.500 jumlah dokter gigi spesialis se-Indonesia. Dan ini rata-rata hanya menumpuk di kota besar," ujar Usman, dalam acara talkshow PDGI Kota Bandung di Holiday Inn, Bandung, Rabu (1/6/2022).

Padahal, menurutnya perlu ada pemerataan tenaga medis sampai ke daerah terpencil. Jika tak ada regulasi dan percepatan regenerasi, dalam kurun 15 tahun kebutuhan akan dokter gigi spesialis tidak bisa terpenuhi.

"Saya berharap Unpad (Universitas Padjadjaran) dan universitas lain di kota besar melalui poli gigi umumnya bisa mencetak dokter gigi baru. Mereka bisa ditempatkan ke daerah terpencil yang kita ikat melalui regulasi," usulnya.

Menanggapi hal ini, Ketua PDGI Kota Bandung, Sri Mulyanti mengatakan, memang sebagian besar dokter gigi terutama spesialis masih menumpuk di kota-kota besar.

"Di Bandung, dokter gigi umum itu ada sekitar 1.400. Itu pun tidak semua aktif praktik ya. Ya memang kalau saya pikir, jumlah dokter gigi itu terlalu menumpuk di kota besar," ungkap perempuan yang kerap disapa Yanti.

Menurutnya, belum meratanya jumlah dokter gigi di daerah terpencil juga berdampak dari kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai. Sebab, dokter gigi membutuhkan dukungan fasilitas, minimal kursi gigi untuk melakukan tindakan.

"Dokter gigi itu butuh alat, misalnya kursi gigi. Kalau tidak ada fasilitasnya, para dokter gigi juga tidak bisa maksimal melayani. Nantinya malah hanya penyuluhan. Saya pikir perlu didukung juga dengan fasilitas memadai sebelum diterjunkan ke daerah yang membutuhkan," jelasnya.

Editor: Redaksi

COMMENTS