• Buku
  • BUKU BANDUNG (4): Romantika Anak SMA di Angkot Bandung dalam Komik Bangor

BUKU BANDUNG (4): Romantika Anak SMA di Angkot Bandung dalam Komik Bangor

Kemacetan Bandung diprediksi bisa lebih parah seiring ledakan jumlah kendaraan. Kemacetan Bandung akan seperti Jakarta.

Komik Garing Aseli Bandung: Bangor Edisi 1, Cetakan Ketiga Oktober 2008.

Penulis Iman Herdiana6 Juni 2021


BandungBergerak.id - Habis sekolah, tiga sekawan yang dikenal Geng Bangor: Cakung, Alit, dan Cepi, biasa membantu Mang Aji, sopir angkot Caheum-Ledeng. Orang tua Cepi adalah salah satu pengusaha angkutan kota di Bandung.

Cakung, Alit, dan Cepi sibuk memanggil penumpang angkot. Mereka masih mengenakan seragam SMA. "Ayo teh, 5 penumpang pertama dapat snack," teriak Cepi.

"Duh, kok sepi gini yah? Dah capek teriak-teriak, ga ada yang naek," kata Cepi. Mereka duduk di dalam angkot. "Iya euy, jadi laper," keluh Cakung.

Tiba-tiba Cepi melontarkan pertanyaan tebak-tebakan, siapakah artis yang pandai main basket. Cakung dan Alit berusaha menebak. Tapi tebakan itu dijawab sendiri oleh Cepi, "Heti Koe Slamdunk." Tiga Geng Bangor yang terkenal bengal seantero Bandung pun cekikikan di dalam angkot yang sepi.

Adegan tiga Geng Bangor anak SMA Negeri Bageur Kota Bandung di dalam angkot itu bagian dari cerita "Komik Garing Aseli Bandung: Bangor", Edisi 1 Cetakan Ketiga Oktober 2008.

Sebagaimana komik umumnya, kisah kartun ini menampilkan cerita-cerita komikal. Bedanya, komik ini kental dengan nuansa Bandung, berikut banyolan-banyolan garing khas kota peuyeum ini, seperti yang dilontarkan Cepi.

Tema-tema yang muncul dalam komik beragam, dengan latar kehidupan anak SMA Kota Bandung tahun 2000-an. Misalnya, kenakalan khas remaja, seperti perkelahian, nyontek, cinta monyet, dan lain-lain.

Tema-tema kehidupan sehari-hari anak SMA Bandung itu terjalin dalam alur cerita utuh dengan tokoh utama si Cakung, pentolan Geng Bangor yang jatuh cinta pada teman sekelasnya yang menjadi bintang sekolah, Midi.

Komik Bangor merupakan karya Raditya Eka Permana, dengan tim terdiri dari Oske Winardi Dahlan, Rahmat Hidayat, Septian Firmansyah, Didit Endriawan, Tri Handoko, dan Harkamil Fitri. Komik ini diterbitkan Inkubator Industri dan Bisnis (ITB) dan Asrama Bumi Ganesha.

Selain kehidupan sehari-hari khas anak SMA, komik ini banyak menyelipkan informasi terkait ilmu pengetahuan. Misalnya, disebutkan bahwa dahulu Bandung adalah danau purba. Komik juga sedikit mengulas budaya Jawa Barat, seperti angklung dan seruling bambu.

Tak hanya itu, setting utama para tokoh terjadi di kelas mata pelajaran fisika dengan guru MR Asep yang terkenal se-Bandung, sehingga muncul istilah-istilah ilmu fisika seperti listrik, amper, termodinamika, dan rumus-rumus fisika lainnya.

Latar cerita komik juga berlangsung di saat Bandung masih dipimpin Wali Kota Dada Rosada, yang kini menjadi penghuni Lapas Sukamiskin karena kasus korupsi.

Di luar tema-tema tersebut, komik ini menunjukkan keakraban anak SMA dengan angkot Bandung. Pada adegan lain, komik menampilkan anak-anak SMA Negeri Bageur yang pulang dengan mengendarai angkot.

Bahkan ada adegan seru ketika Cakung bersama Geng Bangornya menunggu Midi pulang sekolah. Tetapi mereka terlambat karena Midi sudah naik angkot duluan.

Untungnya angkot Caheum-Ledeng Mang Aji lewat, dan Cepi meminta Mang Aji mengejar angkot yang diumpangi Midi. Tiga Geng Bangor bergelantungan di atas angkot ugal-ugalan di tengah lalu lintas Bandung yang macet.

Sempat terjadi aksi kejar-kejaran, sebelum angkot Mang Aji kalah karena tertahan kemacetan dan lampu merah.

Baca Juga: BUKU BANDUNG (1): Menyingkap Budaya Tionghoa Bandung melalui Sebuah Tragedi
BUKU BANDUNG (2): Angin Bandung Menyanyikan Tuhan
BUKU BANDUNG (3): Membaca Kautamaan Istri, Menimbang Ulang Kepahlawanan Dewi Sartika

Beda Romanika Angkot Dulu dan Kini

Sederet kenangan, juga romantika anak SMA, pada komik Bangor mungkin tidak lagi dialami anak-anak SMA di Bandung sekarang di saat kotanya sudah didominasi kendaraan milik pribadi, baik roda empat maupun dua. Kecuali kemacetannya yang sekarang diprediksi bisa lebih parah seiring terus bertambahnya jumlah kendaraan.

Saat ini, angkot dengan berbagai trayeknya masih ada walau jumlahnya menyusut, dengan penumpang yang lebih susut lagi. Data Dinas Perhubungan Kota Bandung tahun 2018, angkot Bandung terdiri dari 38 trayek jurusan dengan jumlah armada 5.286 unit kendaraan.

Jenis armada angkot adalah mobil kecil dengan kapasias kurang dari 15 penumpang. Jumlah armada angkot mengalami pengurangan dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 5.521 dan 39 trayek atau lintasan.

Pada komik Bangor, angkot Caheum-Ledeng yang ditampilkan adalah mobil jenis MPV berbentuk kotak atau kapsul. Sekarang pun angkot jenis kendaraan tersebut masih beroperasi, dengan atau tanpa penumpang.

Sepanjang sejarah Bandung, belum banyak perubahan pada tata kelola angkot maupun transportasi publik umumnya. Sebab faktanya kemacetan kerap melanda. Kendaraan umum, khususnya angkot, disinyalir semakin ditinggalkan penumpang.

Kemacetan Bandung seperti Jakarta

Buku Bandung Urban Mobility Project (2016) menyebut, ledakan jumlah kendaraan bermotor menjadi pemicu masalah transportasi karena penambahan ruas jalan di Bandung (1,29 persen per tahun) tidak sebanding dengan penambahan jumlah kendaraan bermotor (9,34 persen per tahun).

Disebutkan, jumlah penduduk Kota Bandung pada 2013 (BPS Kota Bandung) adalah 2.483.977 jiwa dengan luas wilayah 16.729,50 hektare (167,67 km). Tingkat kepadatan penduduk Kota Bandung adalah 150 jiwa per hektare.

Pada 2010, jumlah kendaraan bermotor di Kota Bandung sebanyak 1.215.585, rata-rata meningkat 11 persen per tahun, dengan rincian, motor 859.411 unit, dan mobil pribadi 134.654 unit.

Jika situasi tersebut dibiarkan tumbuh alami, maka kecepatan rata-rata kendaraan pada tahun 2033 hanya 4,5 km/jam dengan jarak perjalanan rata-rata sekitar 11,54 km/trip. Rata-rata setiap orang akan menghabiskan waktu di jalan lebih dari 2,5 jam. Prediksi ini mirip dengan kondisi Jakarta.

Jalan keluar dari jebakan kemacetan kronis itu tidak lain dari pembenahan sistem transportasi publik, salah satunya meningkatkan tata kelola angkot Bandung yang tidak banyak disentuh kebijakan kota.

Namun buku Bandung Urban Mobility Project menyebut angkot banyak memiliki kelemahan. Biaya transportasi menggunakan angkutan umum 18 persen lebih mahal dibandingkan dengan sepeda motor. Waktu perjalanan angkot 2,2 kali lipat lebih lama, dan 95,5 persen pengguna angkutan umum di Kota Bandung menyatakan tidak puas terhadap aspek keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

Total kapasitas angkutan umum di metropolitan Bandung sekitar 1,53-1,87 juta penumpang/tahun, tetapi hanya terpakai sekitar 1/3-nya.

Informasi Buku

Judul: Komik Garing Aseli Bandung: Bangor

Penulis: Raditya Eka Permana, dengan tim Oske Winardi Dahlan, Rahmat Hidayat, Septian Firmansyah, Didit Endriawan, Tri Handoko, dan Harkamil Fitri. Komik ini diterbitkan Inkubator Industri dan Bisnis (ITB) dan Asrama Bumi Ganesha.

Cetakan: Edisi 1 Cetakan Ketiga Oktober 2008.

Editor: Redaksi

COMMENTS