• Kolom
  • PAYUNG HITAM #75: Saat May Day Bergeser dari Jalanan

PAYUNG HITAM #75: Saat May Day Bergeser dari Jalanan

May Day adalah teater perlawanan dunia nyata. Pada momen seperti May Day, pertanyaannya sederhana, di mana posisi kita?

Chan

Buruh Pariwisata

Serikat pekerja merupakan salah satu cara bagi buruh untuk menuntut kesejahteraan. Berserikat dijamin undang-undang. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

30 April 2026


BandungBergerak – Setiap kalender menunjuk 1 Mei, ingatan saya selalu kembali ke satu momen ketika penangkapan sewenang-wenang, barisan aparat yang represif, peluh ribuan orang, dan asap knalpot kendaraan yang terjebak di tengah barikade. May Day 2019 di Bandung adalah salah satu pengingat pahit tentang pengalaman yang dialami oleh kawan-kawan yang bersentuhan langsung dengan kekuasaan.

Sebagai masyarakat yang beberapa tahun mengikuti hari buruh di jalanan, May Day bagi saya bukan hanya angka merah di kalender. Ia adalah teater perlawanan dunia nyata. Di jalanan itulah saya melihat kelas pekerja menolak perannya sebagai sekrup dalam mesin kapitalisme. Dari buruh pabrik yang terancam PHK, petani yang dipinggirkan, hingga mereka yang hidup dalam kerja precarious, semuanya berdiri di garis yang sama untuk menggedor gerbang kekuasaan.

Namun, beberapa tahun belakangan, saya mulai mengendus sebuah anomali. Saat mengamati beberapa kegiatan kolektif di hari buruh tersebut dan saya menemukan realitas yang terbelah.

Di satu sisi, ribuan buruh masih turun ke jalan, mengonsolidasikan massa, menghadapi aparat, dan mempertaruhkan tubuh mereka. Di sisi lain, sebagian kolektif justru merayakan May Day dalam bentuk lain berupa gigs punk dan turnamen sepak bola antar klub yang melabeli diri mereka sebagai bagian dari kultur perlawanan.

Secara visual, semuanya tampak meyakinkan. Simbol antifasis, lirik anti-kemapanan, teriakan tentang runtuhnya kapitalisme. Tapi di balik itu, ada kontradiksi yang tidak bisa diabaikan.

Masalahnya bukan pada musik punk atau sepak bola itu sendiri. Keduanya lahir dari rahim kelas bawah dan punya sejarah panjang sebagai medium resistensi. Masalah yang mengganggu pikiran saya adalah soal waktu, ruang, dan inkonsistensi sikap. Ketika perayaan-perayaan itu berlangsung tepat di Hari Buruh, di saat yang sama ketika massa lain sedang berhadapan langsung dengan kekuasaan, muncul pertanyaan yang tak bisa dihindari, apakah ini bentuk solidaritas, atau justru eskapisme?

Baca Juga: PAYUNG HITAM #72: Di Bawah Spanduk Tanah untuk Rakyat dan Surat dari Balik Jeruji PenjaraPAYUNG HITAM #73: Pelukan di Balik Palu Hakim dan Reuni yang Tak Pernah Kami RencanakanPAYUNG HITAM #74: Di Balik Megahnya Kanopi Merah Putih yang Menakar Ilusi Kesejahteraan di Lantai SPBU

Ilusi Perlawanan

Komedi gelap berlanjut dalam skena punk itu sendiri, ketika beberapa waktu lalu saya melihat logo anarkisme terpampang di flyer gigs, sementara venue yang digunakan justru milik institusi militer. Retorika anti-otoritas bertemu dengan realitas yang secara material mendukung struktur otoritas itu sendiri.

Menyanyikan lagu anti-fasisme dan meneriakkan perlawanan terhadap penindasan negara, sementara biaya sewa venue mereka mengalir ke kantong institusi aparatur keamanan yang secara historis kerap menjadi perpanjangan tangan represi terhadap aksi-aksi kelas pekerja di jalanan.

Berlanjut pada inti permasalahan, suka atau tidak, realitas ini perlahan mereduksi Hari Buruh menjadi "Hari Raya Subkultur". Posisi tawar kelas pekerja di hadapan negara dan korporasi tidak dikalkulasi dari seberapa bising distorsi gitar di venue gigs, melainkan dari kuantitas massa yang melumpuhkan jalanan.

Padahal, sejarah gerakan buruh menunjukkan hal yang sebaliknya. Perubahan tidak lahir dari simbol semata, tetapi dari gangguan nyata terhadap stabilitas. Negara dan kapital tidak bereaksi terhadap estetika perlawanan, melainkan terhadap kekuatan massa yang mengisi jalanan dan mengacaukan ritme normal dan menurut saya di sinilah letak persoalannya.

Ada ilusi perlawanan yang bekerja secara halus. Mengenakan atribut radikal, menyanyikan lagu perlawanan, atau menggelar acara pada tanggal 1 Mei bisa memberi rasa telah melakukan sesuatu. Tapi tanpa kehadiran di ruang konflik yang sesungguhnya, semua itu berisiko menjadi substitusi bukan perlawanan itu sendiri.

Sementara itu, mereka yang benar-benar berada di garis depan harus menghadapi represi dengan jumlah yang semakin terbatas. Tulisan ini bukan ajakan untuk meninggalkan kultur, musik, atau ruang alternatif. Justru sebaliknya: semua itu bisa menjadi kekuatan. Tapi pada momen seperti May Day, pertanyaannya sederhana, di mana posisi kita?

Jika kita mengklaim diri sebagai bagian dari kelas pekerja, atau setidaknya sekutu mereka, maka kehadiran bukan sekadar pilihan estetika. Ia adalah posisi politik.

Tempat kita bukan di balik pintu venue. Bukan di lapangan yang terpisah dari konflik. Apalagi di ruang yang secara struktural terhubung dengan aparat yang selama ini merepresi gerakan.

Tempat kita adalah di jalanan.

Bawa distorsi ke barisan aksi. Jadikan nyanyian sebagai alat konsolidasi, bukan sekadar ekspresi. Ubah energi kolektif menjadi tekanan yang nyata.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh seberapa keras kita bernyanyi di ruang tertutup. Sejarah ditulis oleh mereka yang hadir bersama di jalanan.

 

***

*Tulisan kolom PAYUNG HITAM merupakan bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak dan Aksi Kamisan Bandung

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//