• Kolom
  • PAYUNG HITAM #76: Menggugat Fasisme Sosial dalam Subkultur

PAYUNG HITAM #76: Menggugat Fasisme Sosial dalam Subkultur

Jika kita menentang tirani negara dan menolak eksploitasi kapitalisme, namun memberangus ruang aman bagi minoritas di sebelah kita, sejatinya kita belum merdeka.

Chan

Buruh Pariwisata

Menghargai pilihan menjadi berbeda. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

7 Mei 2026


BandungBergerak – Malam itu, udara dingin Bandung menyusup di antara obrolan kami. Di sela-sela tongkrongan, minuman berpindah tangan menjadi penghangat. Saya larut dalam perbincangan yang malam itu terasa memiliki letupan energi yang berbeda tentang sebuah diskusi santai mengenai LGBTQ.

Menurut saya Ini adalah momen langka. Di banyak tongkrongan lainnya, ritus kumpul-kumpul ini kerap terjebak pada obrolan kosong, wajah-wajah yang tertunduk pada layar gawai, atau yang paling menyesakkan yaitu lelucon seksis dan sentimen rasis yang dibalut tameng candaan gelap. Kerap kali telinga saya menangkap lelucon-lelucon homophobia atau queerphobia yang dilontarkan tanpa rasa bersalah oleh mereka yang kurang memahami tentang skena ini.

Di sinilah ironi itu mengental. Kemuakan itu lahir dari sebuah pertanyaan mendasar tentang bagaimana mungkin sebuah subkultur yang lahir dari rahim perlawanan kelas pekerja terhadap penindasan, justru menetaskan para tiran baru di halamannya sendiri? Bagaimana bisa mereka yang meneriakkan slogan antifasis, justru mempraktikkan fasisme sosial di tongkrongan?

Saya teringat pada tesis Widya G. dalam buku yang berjudul Punk: Ideologi yang Disalahpahami. Sejak awal kemunculannya di Inggris dan Amerika, punk maupun skinhead bukanlah sekadar etalase fesyen, katalog gaya rambut, atau sekadar ajang unjuk maskulinitas. Keduanya adalah manifestasi kemarahan terhadap struktur sosial yang menindas dan sistem kapitalis yang mengeksploitasi manusia. Namun, kesalahpahaman fatal justru sering dipelihara dari dalam sirkel itu sendiri. Simbol perlawanan dipakai habis-habisan sebagai cangkang, sementara esensi pembebasannya dibiarkan membusuk di dasar lemari.

Mengingat kembali esai-esai Emma Goldman, saya memahami bahwa kebebasan sejati tidak pernah memilah siapa yang berhak mencicipinya. Pembebasan tidak bisa hanya dimonopoli oleh sekelompok laki-laki heteroseksual yang marah pada negara, sementara kelompok marginal lain di samping mereka dibiarkan terinjak.

Baca Juga: PAYUNG HITAM #73: Pelukan di Balik Palu Hakim dan Reuni yang Tak Pernah Kami Rencanakan
PAYUNG HITAM #74: Di Balik Megahnya Kanopi Merah Putih yang Menakar Ilusi Kesejahteraan di Lantai SPBU
PAYUNG HITAM #75: Saat May Day Bergeser dari Jalanan

Gerakan Solidaritas

Jika kita mau repot sedikit membongkar sejarah atau membaca arsip sosiologi atau menelusuri literatur subkultur napas punk, skinhead, dan perlawanan terhadap diskriminasi adalah satu tarikan yang tak terpisahkan. Sejarah mencatat bagaimana skena ini berevolusi merespons ketidakadilan dengan lahirnya Queercore di pertengahan era 80-an. Gerakan ini mendobrak masuk, menyediakan ruang aman bagi ekspresi dan aktivisme queer yang muak dengan skena hardcore yang mulai keracunan maskulinitas toksik dan heteronormativitas. Di titik lain, Riot Grrrl memelopori perlawanan feminis langsung dari tengah pusaran moshpit.

Di ranah jalanan, akar subkultur ini selalu beririsan kuat dengan gerakan solidaritas antifasis. Jaringan seperti SHARP (Skinheads Against Racial Prejudice) lahir untuk menghantam balik rasisme dan kebangkitan sayap kanan ekstrem secara frontal. Jejak literatur ini adalah bukti valid bahwa subkultur bawah tanah tidak pernah didesain untuk mentolerir diskriminasi.

Oleh karena itu, menjadi sebuah anomali yang menggelikan ketika hari ini ada individu yang mengenakan atribut SHARP atau Antifa, fasih menyanyikan anthem pembebasan, namun di saat bersamaan menolak hak hidup orang lain hanya karena identitas gender atau orientasi seksualnya. Kawan-kawan dari kelompok marginal, termasuk teman-teman queer, tidak mengalami represi di ranah abstrak. Ancaman yang mereka hadapi itu nyata, fisik, dan sistemik. Mengucilkan mereka dari skena atau masyarakat dengan dalih menjaga kemurnian budaya, atau karena sekadar terbawa dogma agama dan sosial arus utama, sama halnya dengan mengkhianati akar perjuangan subkultur itu sendiri.

Kesetaraan bukanlah selembar patch yang bisa dijahit rapi di atribut lalu dilupakan maknanya begitu saja. Ia adalah praktik keseharian yang radikal. Ia menuntut kita untuk berani membongkar bias patriarki dan bibit fasisme yang diam-diam bersemayam di kepala kita sendiri, serta berani menegur kawan yang masih merawat bias tersebut di ruang-ruang komunal kita.

Melihat fenomena akun-akun di media sosial, seperti salah satunya akun resistance noise yang viral atau individu di gig yang mengaku antifasis namun memelihara homofobia adalah sebuah tamparan keras. Jika kita menentang tiraninya negara dan menolak eksploitasi kapitalisme, namun memberangus ruang aman bagi minoritas di sebelah kita, sejatinya kita belum merdeka. Kita sekadar berpindah peran dari yang ditindas oleh sistem besar, menjadi penindas kecil-kecilan di dalam lingkaran kita sendiri.

Dan sejarah selalu mencatat, tak ada yang revolusioner dari seorang tiran, seliar apa pun dandanannya.

 

***

*Tulisan kolom PAYUNG HITAM merupakan bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak dan Aksi Kamisan Bandung

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//