Menjembatani Jurang Kampus dan Warga Lewat Kelas Liar
Melalui perjumpaan langsung dengan komunitas difabel, pengguna transportasi publik, hingga warga kampung kota, peserta Kelas Liar bukan sekadar belajar teori.
Penulis Retna Gemilang3 Juni 2026
BandungBergerak - Belajar tentang disabilitas mengubah cara pandang Novia Rahma terhadap Kota Bandung. Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) itu sebelumnya memahami isu disabilitas dari pengetahuan yang umum beredar. Namun, melalui Kelas Liar, ia berkesempatan bertemu dan berdialog langsung dengan komunitas difabel.
Bersama kelompok Se(ni)tara, Novia mendalami isu disabilitas dengan mengikuti berbagai aktivitas komunitas seperti Karya Seni Tuli (KST), Bilic, Dilans, Cerlusif, hingga lokakarya teman bisik. Dari perjumpaan tersebut, ia tidak hanya mempelajari konsep inklusi, tetapi juga mendengar langsung pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas.
Bagi Novia, pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa kelompok difabel selama ini kerap dipahami melalui asumsi dan stereotip. Padahal, banyak persoalan yang hanya dapat dipahami ketika berinteraksi langsung dengan mereka.
Proses belajar tersebut kemudian berkembang menjadi sejumlah inisiatif seni. Salah satunya Pesta Titik Temu, sebuah ruang yang mempertemukan penyandang disabilitas dan non-disabilitas untuk berinteraksi, berdialog, dan menikmati karya seni bersama.
"Untuk menunjukkan titik-titik temu lainnya, tentu diperlukan untuk selalu melibatkan teman-teman disabilitas, bisa dari berkumpul, mengeluarkan opini, dan juga berdiskusi," ujar Novia dalam Diskusi Sabtu Sore #38 bertajuk “Dari Ruang Belajar Alternatif Menuju Gerakan Menggugat Kota” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 30 Mei 2026.
Pengalaman serupa dirasakan Vera Nurul Fadjrizah. Selama mengikuti Kelas Liar keberagaman dan Kelas Liar Besar, ia mengaku memperoleh pengalaman yang berbeda dari ruang kelas formal.
Saat kelompoknya mengangkat isu transportasi publik dan titik literasi, Vera belajar bahwa memahami persoalan sosial tidak cukup dilakukan melalui pengamatan sepintas. Ia harus mendengar langsung cerita dan pengalaman warga yang berhadapan dengan persoalan tersebut setiap hari.
Kemampuan mendengar menjadi pelajaran yang paling membekas baginya. Dari proses itu, ia memahami bahwa perubahan sosial tidak dapat dibangun hanya dengan menyampaikan gagasan, tetapi juga dengan memberi ruang bagi pengalaman warga untuk didengar.
"Aku banyak belajar mendengarkan, karena apa artinya kalau kita hanya ingin didengarkan," katanya.
Bagi Vera, ruang pertemuan yang dibangun selama Kelas Liar perlu terus diperluas agar semakin banyak persoalan kota yang dapat diketahui publik dan diselesaikan bersama.
"Masih perlu banyak hal yang kita lakukan lagi untuk menyampaikan permasalahan itu untuk bisa kita selesaikan bersama," ujarnya.
Baca Juga: Festival Bandung Menggugat 2026 di Kampus ISBI: Merawat Ingatan, Melawan Balik
Festival Bandung Menggugat, Merawat Napas Perlawanan dan Menyatukan Suara-suara Kritis

Ruang Pendidikan Alternatif
Pengalaman Novia dan Vera merupakan bagian dari proses belajar yang dibangun Kelas Liar, ruang belajar alternatif yang digagas BandungBergerak. Selama 10 bulan terakhir, program ini telah menyelenggarakan 10 Kelas Liar Kecil dan satu Kelas Liar Besar yang membahas berbagai isu perkotaan, mulai dari konflik agraria, pendidikan, kekerasan seksual, keberagaman, transportasi publik, hingga disabilitas.
Berbeda dengan pendidikan formal yang berlangsung di ruang kelas, peserta diajak belajar langsung di ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan warga. Kegiatan berlangsung di kampung yang menghadapi ancaman penggusuran, kawasan sungai, perpustakaan komunitas, hingga warung kopi.
Proses belajar tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai kegiatan publik dalam rangkaian Festival Bandung Menggugat sepanjang Mei 2026. Di antaranya Festival Trayek Baca yang mengangkat isu transportasi publik, Hikayat Kampung Kota melalui susur gang di Lio Genteng, festival Merawat Ingatan dan Melawan Balik di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, hingga Pesta Titik Temu yang mempertemukan penyandang disabilitas dan non-disabilitas melalui karya seni.
Menurut Nidan dari BandungBergerak, Kelas Liar lahir dari kegelisahan bahwa pendidikan tinggi semakin berjarak dengan persoalan masyarakat. Beban administratif kampus, tuntutan akreditasi, hingga mahalnya biaya pendidikan dinilai membuat kampus tidak lagi cukup dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.
"Tujuannya sederhana, kita enggak pengin kalau persoalan-persoalan itu atau ilmu pengetahuan hanya berhenti pada gerbang kampus saja," ujarnya.
Karena itu, Kelas Liar berupaya mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, komunitas, dan warga dalam ruang dialog yang lebih setara. Menurut Nidan, ruang belajar alternatif tersebut diharapkan menjadi jalan untuk menghubungkan kembali pengetahuan dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Mentor Kelas Liar kelompok Kampung Kota dari Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, menilai ukuran keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik. Yang lebih penting adalah kemampuan peserta memahami realitas sosial dan meresponsnya secara kritis.
Dari pengalamannya mendampingi peserta Kelas Liar, Ridwan melihat pembelajaran yang melibatkan masyarakat secara langsung mampu membantu peserta memahami persoalan kota dengan lebih mendalam dibanding sekadar mempelajarinya dari buku atau ruang kuliah.
"Yang paling pertama harus dilakukan dalam proses pendampingan adalah mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri dan realitas sosialnya," katanya.
Ia mencontohkan permasalahan Kota Bandung yang tak pernah selesai, mulai dari masalah sampah hingga kemacetan. Ketika masalah tersebut menjadi keseharian, masyarakat secara otomatis menerima tanpa melawan.
Menurutnya, penerimaan tersebut dibangun oleh sistem yang menindas. Kaum tertindas sering menginternalisasi nilai-nilai kaum penindas. Sehingga melihat dunia melalui mata penindas dan menganggap cara hidup penindas sebagai model manusia yang ideal.
Dari pengalamannya mendampingi peserta Kelas Liar selama empat bulan, Ridwan melihat masih ada sejumlah catatan yang perlu diperkuat agar ruang belajar alternatif benar-benar mampu melahirkan perubahan sosial.

Ia menyarankan, program dimulai dengan kelas pembangunan kesadaran. Dilanjutkan pengenalan lapangan, lalu pencarian ide dan referensi mentor. Kemudian pendampingan atau pelatihan, hingga akhirnya menjadi output festival. Pendekatan dapat dilakukan dengan humanisasi, di mana peserta harus membantu masyarakat yang tertindas dan kurang akses dari kesadaran.
"Supaya mereka (masyarakat) menyadari kondisinya dan mengubahnya melalui praksis dengan dua hal, refleksi dan tindakan kolektif," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Isman Rahmani Yusron dari Serikat Pekerja Kampus. Ia menilai kampus saat ini semakin didorong untuk memenuhi kebutuhan industri, sementara fungsi pendidikan untuk membangun kesadaran sosial semakin terpinggirkan.
Isman melihat ruang belajar alternatif seperti Kelas Liar penting untuk membuka akses pengetahuan yang lebih luas dan mengembalikan hubungan antara pendidikan dengan persoalan masyarakat.
"Saya senang sekali kenapa Kelas Liar itu juga semakin berusaha untuk relevan dengan masyarakat untuk melihat bahwa sebetulnya ilmu pengetahuan itu harus juga ditransformasikan kepada masyarakat," ujarnya.
Pengalaman Novia dan Vera menunjukkan bagaimana ruang belajar alternatif dapat menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. Alih-alih berhenti pada teori, peserta diajak bertemu warga, mendengarkan pengalaman kelompok yang selama ini kurang terdengar, serta menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam kerja kolaboratif dan kegiatan publik.
Di tengah anggapan bahwa pendidikan tinggi semakin jauh dari akar rumput, Kelas Liar berupaya menghadirkan kembali ruang belajar yang tumbuh dari persoalan nyata masyarakat.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


