PAYUNG HITAM #77: Dari Bandung Darurat Begal Menuju Darurat Moral, Ketika Kebencian menjadi Spektakel
Kebencian yang terus dipelihara jarang berakhir pada penyelesaian masalah. Ia hanya melahirkan kambing hitam baru, sementara akar persoalan tetap utuh di tempatnya.

Chan
Buruh Pariwisata
24 Juli 2026
BandungBergerak – Beberapa hari lalu saya membaca sebuah tulisan di akun Instagram kawan saya, yang mencoba mengurai fenomena “Bandung Darurat Begal” melalui pisau analisis Noam Chomsky. Gagasannya menarik. Ketakutan dibaca bukan sekadar emosi spontan masyarakat, tetapi sebagai kondisi sosial yang mampu mengalihkan perhatian publik dari persoalan-persoalan yang lebih mendasar. Di tengah banjir video pembegalan, lini masa dipenuhi kepanikan. Diskusi mengenai tata kelola kota, ketimpangan ekonomi, hingga kegagalan pelayanan publik perlahan tenggelam.
Namun, saya merasa ada satu lapisan analisis lain yang juga layak diajukan. Jika Chomsky membantu menjelaskan bagaimana perhatian publik dapat diarahkan, maka Guy Debord membantu memahami mengapa masyarakat begitu mudah menikmati proses pengalihan itu.
Dalam The Society of the Spectacle, Debord menulis bahwa masyarakat modern tidak lagi hidup melalui pengalaman langsung, melainkan melalui citra yang terus diproduksi dan dikonsumsi. Yang penting bukan lagi realitas, melainkan apa yang paling menarik perhatian. Algoritma media sosial bekerja persis dengan logika itu. Ia tidak bertanya mana yang paling penting untuk dibicarakan, tetapi mana yang paling mampu mempertahankan mata kita tetap menatap layar.
Karena itu saya melihat fenomena “Bandung Darurat Begal” bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari pola yang lebih luas. Setelah kepanikan terhadap begal mereda, lini masa tidak pernah benar-benar menjadi ruang diskusi mengenai akar kriminalitas. Ia hanya berpindah ke tontonan berikutnya.
Baca Juga: PAYUNG HITAM #75: Saat May Day Bergeser dari Jalanan
PAYUNG HITAM #76: Menggugat Fasisme Sosial dalam Subkultur
PAYUNG HITAM #77: Pesta Babi dan Kritik Terhadap Paradigma Pembangunan di Papua
Dari Satu Tontonan ke Tontonan yang Lain
Sebelumnya, salah satu tontonan yang paling laris adalah queerphobia. Video persekusi terhadap transpuan, unggahan yang merendahkan identitas gender tertentu, hingga konten dari akun-akun yang membangun identitas sebagai “boti hunter” beredar begitu masif. Yang dipertontonkan bukan lagi manusia, melainkan simbol musuh moral. Semakin keras ujarannya, semakin tinggi interaksinya. Semakin kasar perlakuannya, semakin besar peluangnya menjadi viral.
Di titik ini saya teringat pada Mei 1998. Dalam salah satu bab paling kelam sejarah Indonesia, etnis Tionghoa menjadi sasaran kemarahan kolektif. Mereka dijadikan kambing hitam atas krisis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar identitas etnis. Kekerasan tidak lahir dari ruang kosong; ia tumbuh ketika masyarakat berhasil diyakinkan bahwa ada sekelompok manusia yang pantas dijadikan sasaran.
Tentu konteks 1998 berbeda dengan situasi hari ini. Tidak tepat menyamakan keduanya secara utuh. Namun pola sosialnya memiliki kemiripan yang patut direnungkan, ketika masyarakat membutuhkan musuh bersama, kelompok yang paling rentan sering kali menjadi target pertama.
Hari ini, kelompok itu semakin sering adalah LGBTQ.
Yang membuat saya semakin gelisah adalah perubahan moral publik yang terasa begitu cepat.
Masih ingatkah ketika Ferdian Paleka mengunggah video berisi bingkisan sampah yang diberikan kepada transpuan? Publik bereaksi keras. Banyak orang mengecam tindakan itu sebagai penghinaan yang tidak manusiawi. Terlepas dari pandangan masing-masing terhadap LGBTQ, ada kesadaran bahwa memperlakukan manusia sebagai objek lelucon adalah sesuatu yang tidak dapat dibenarkan.
Namun beberapa tahun kemudian, ketika muncul berbagai video kekerasan dan persekusi terhadap transpuan di Bogor yang dikaitkan dengan kelompok atau akun yang dikenal sebagai boti hunter, sebagian ruang komentar justru berubah menjadi arena tepuk tangan digital. Tidak semua orang mendukung tindakan tersebut, tetapi banyak komentar yang tampak membenarkan, merayakan, bahkan mendorong aksi serupa.
Apa yang berubah?
Apakah standar moral kita benar-benar bergeser? Ataukah yang berubah hanyalah bentuk tontonan yang sedang kita nikmati?
Debord mungkin akan mengatakan bahwa spektakel telah bekerja dengan sempurna.
Di dalam masyarakat spektakel, kekerasan tidak lagi dipahami sebagai kekerasan apabila dilakukan terhadap mereka yang telah lebih dahulu diposisikan sebagai musuh. Begitu seseorang direduksi menjadi simbol ancaman moral, publik berhenti melihat individu di baliknya. Yang tersisa hanyalah karakter dalam sebuah pertunjukan yang harus dikalahkan agar penonton merasa puas.
Di sinilah saya merasa tulisan tentang “Bandung Darurat Begal” menemukan relevansinya dengan fenomena queerphobia.
Jika tulisan tersebut menunjukkan bagaimana rasa takut terhadap begal dapat menggeser perhatian publik dari persoalan struktural, maka gelombang kebencian terhadap kelompok queer juga dapat memiliki efek sosial yang serupa. Ruang digital dipenuhi perdebatan mengenai identitas seksual, sementara isu-isu seperti korupsi, kenaikan harga BBM, ketimpangan ekonomi, pengangguran, penggusuran, kerusakan lingkungan, atau kualitas layanan publik tidak lagi memperoleh ruang yang sama besar dalam percakapan sehari-hari.
Kontroversi dan Kebencian di Permukaan
Saya tidak mengatakan bahwa ada satu aktor tunggal yang sengaja mengatur seluruh fenomena ini. Klaim seperti itu memerlukan bukti yang kuat. Namun dalam masyarakat yang digerakkan oleh algoritma, pengalihan perhatian tidak selalu membutuhkan sutradara. Logika platform itu sendiri sudah cukup untuk membuat kontroversi dan kebencian terus berada di permukaan, karena keduanya menghasilkan keterlibatan yang tinggi. Debord menyebut salah satu bentuk perlawanan sebagai detournement, yaitu membajak kembali simbol-simbol dominan agar maknanya berubah. Barangkali hari ini detournement berarti menolak menerima begitu saja narasi yang selalu meminta kita mencari musuh di antara sesama warga. Barangkali ia dimulai dengan menggeser pertanyaan dari “siapa yang harus kita benci” menjadi “mengapa kita begitu mudah diarahkan untuk membenci”.
Sebab sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa kebencian yang terus dipelihara jarang berakhir pada penyelesaian masalah. Ia hanya melahirkan kambing hitam baru, sementara akar persoalan tetap utuh di tempatnya.
Mungkin itulah kemenangan terbesar masyarakat spektakel. Bukan ketika kita percaya pada setiap narasi yang disodorkan, tetapi ketika kita terlalu sibuk menikmati pertunjukannya sehingga lupa menoleh ke panggung tempat kekuasaan bekerja. Di saat kita terus menonton siapa yang sedang diburu hari ini, entah begal, entah “musuh moral”, entah kelompok minoritas lain, kita nyaris tak menyadari bahwa isu-isu yang semestinya meminta pertanggungjawaban dari para pemegang kuasa perlahan menghilang dari layar.
*Tulisan kolom PAYUNG HITAM merupakan bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak dan Aksi Kamisan Bandung


