• Kolom
  • CERITA GURU: Ibu dan Bapak Guru Sekalian, Ayo Menulis!

CERITA GURU: Ibu dan Bapak Guru Sekalian, Ayo Menulis!

Menulis dapat menjadi medium untuk menampung keresahan guru-guru yang tidak terwadahi, sekaligus mengukuhkan fondasi dasar perjuangan guru agar semakin menguat.

Hafidz Azhar

Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung

Guru bukan sekadar mengajar pelajaran di kelas, ia mengajarkan tentang kehidupan bagi murid-muridnya. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

16 September 2026


BandungBergerak – Kami mengobrol di pelataran Toko Buku Bandung. Di belakang toko, terdapat beberapa bangku yang biasa kami duduki. Tumpukan buku yang berserakan dalam keranjang seolah mengelilingi orang-orang yang duduk di tempat itu. Ada juga deretan buku terpajang pada rak biru yang dibungkus kain hitam. Tempat itu saya anggap semacam ruang tongkrongan yang menyempil untuk merenungi kegaduhan dan membicarakan banyak hal.

Sore itu, saya melihat Kang Deni Rachman hanya duduk seorang diri di toko buku miliknya. Yogi Esa kemudian beranjak mendatangi setelah Mang Iman Herdi tiba dengan sepeda motor andalannya menjelang azan isya. Dari jarak sekitar lima meter, tampak obrolan yang cukup asyik di antara mereka bertiga. Kebetulan saya tengah mengaji Muqaddimah bersama Kang Hawe dan Mas Andi. Selepas Ngaji saya menghampiri mereka tanpa basa-basi. Saya duduk bersebelahan dengan Yogi. Tak terasa obrolan sampai berlarut pada satu persoalan krusial yang mengerucut: soal tunjangan yang telat dan ikhtiar untuk memantik rasa percaya diri kepada guru-guru.

Obrolan ini kian terasa getir. Saya, Yogi dan Mang Iman dihadapkan pada ragam kasus seperti bola salju. Ada luapan emosi yang tidak terbendung saat mendengar kisah tentang kerja-kerja guru yang tidak dihargai. Sebagai sesama guru, saya tahu betul semua beban yang bertumpu. Setiap ada guru yang mengeluh serasa membayangkan diri sendiri karena terhubung oleh pengalaman yang hampir sama. Malam yang dingin tidak terasa. Di tengah obrolan itu saya bertanya kepada Yogi tentang tunjangan yang ia dapat. Sambil menggerutu, Yogi bilang dirinya merasa jengah dengan tunjangan yang belum diterima beberapa bulan ini. Saya ikut dibuat geram dan menceritakan beberapa guru yang merasakan nasib serupa.

Baca Juga: CERITA GURU: Guru Beban Negara, tapi Menanggung Beban Bangsa
CERITA GURU: Kesejahteraan Guru dalam Siklus Janji Politik
CERITA GURU: Seni Menyakiti Diri Sendiri, Menjadi Guru Sekaligus Aktivis Literasi

Ikhtiar Meringankan Beban Guru

Menjadi guru ibarat mendaki ke bukit yang curam seraya membawa tas berat di pundak. Gaji tak seberapa, namun banyak tuntutan yang tak habis-habisnya. Boro-boro selesai di sekolah, biasanya, ada urusan lain yang terpaksa dibawa oleh guru ke rumah. Bagi yang sudah berkeluarga, beban yang dipikul semakin bertambah. Pun bagi yang belum menikah, akan mengurangi jatah untuk beristirahat.

Itu baru satu perkara. Belum lagi perkara lain yang mengebiri kebutuhan mendasar para guru. Sialnya, guru dituntut untuk menjadi manusia ideal yang serbabisa. Bisa melakukan segala hal, seperti mengurus administrasi, mengajar, mendidik, mengikuti pelatihan, hingga menjaga nama baik sekolah.

Kata Mang Iman, ungkapan "guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa" adalah suatu penghinaan. Dengan kata lain, ungkapan ini hanya penglipur lara di tengah kondisi guru yang tidak menentu. Nasib dan peran guru seolah dipermainkan oleh tunjangan yang tidak sebanding. Akhirnya banyak guru yang bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan harian bersamaan dengan kerja keras untuk membangkitkan gairah belajar siswa-siswi di sekolah. Sedih memang.

Tetapi, banyak guru yang tidak menyerah. Sekalipun kondisi memilukan ini kerap mengombang-ambing, mereka masih bertahan untuk memberikan akses keberlangsungan belajar di sekolah. Obrolan saya dengan Yogi, yang juga disaksikan oleh Mang Iman sebagai salah seorang penggawa Bandungbergerak.id, memunculkan satu gagasan yang diniatkan agar semua keluh-kesah para guru dapat dituangkan lewat tulisan. Bagaimana caranya?

Saya merenungi satu hal bahwa ruang Cerita Guru bisa menjadi titik berangkat perjuangan bersama. Secara teknis hal ini dapat diusahakan melalui roadshow ke berbagai sekolah, yang nantinya tidak hanya menekankan soal ajakan untuk menulis, tetapi juga dapat menjadi medium keresahan guru-guru yang tidak terwadahi. Dengan kata lain, upaya ini semacam langkah alternatif untuk menampung banyak unek-unek sekaligus mengukuhkan fondasi dasar perjuangan guru-guru agar semakin menguat.

Peluang menulis untuk guru bisa kita sodorkan dalam beberapa amatan. Misalnya, guru mencatat seluruh aktivitas mengajar di sekolah. Ini bisa menjadi informasi sekaligus juga dapat menjadi refleksi. Tergantung dari sudut mana sang guru menuliskan apa yang ada di benaknya. Atau mengenai cara mengajar yang kerap kali menjadi bagian terpenting untuk dibicarakan karena berhubungan dengan peserta didik.

Seturut pengalaman saya, menawarkan metode mengajar yang efektif bisa menarik perhatian para peminat dunia pendidikan untuk diteliti. Salah satu tulisan saya berjudul Cara Lain Mengajar Sejarah dan Geografi dalam kolom Cerita Guru, misalnya, memunculkan ketertarikan penelitian bagi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Najma Najida Zahra, mahasiswa Pendidikan Sejarah UPI angkatan 2021, tiba-tiba menghubungi saya lewat pesan langsung Instagram. Setelah itu Najma mendatangi sekolah tempat saya mengajar untuk menggarap penelitian skripsi mengenai suatu metode yang ia sebut sebagai outdoor learning. Semula Najma mencari bahan penelitian lewat mesin pencarian Google. Dari situ ia menemukan tulisan saya yang relevan dengan rencana penelitiannya mengenai metode pengajaran di Pesantren Persatuan Islam 24 Rancaekek.

Memerlukan Sokongan

Jujur saja, jika gagasan ini bergulir, tidak mudah untuk saya lakukan sendirian. Karena itulah upaya ini memerlukan bantuan dan sokongan dari beberapa guru yang terbiasa menulis pada kolom Cerita Guru. Ketika saya menawarkan rencana tersebut, Yogi dan Nurul setuju. Dua orang yang tulisannya kerap terpampang dalam Cerita Guru bersedia untuk menjadi fasilitator bila nanti ikhtiar ini betul-betul digulirkan.

Anggap saja, tulisan ini sebagai bentuk pengajuan kerja sama. Saat menyampaikan garis besar ihwal rencana ini, Mang Iman memberikan beberapa saran. Di antaranya, berkolaborasi dengan Bandungbergerak.id sebagai media yang menampung beragam tulisan mengenai guru lewat kolom Cerita Guru. Harapan lain, tentu saja ada. Mungkin kelak dari ikhtiar ini, bisa membentuk pergerakan yang lebih masif dan lebih konkret. Misalnya, membentuk ruang kolektif berupa koperasi. Atau membuka wadah dialog antarguru secara rutin. Yang jelas, saya berharap besar untuk kali ini, kalau semua guru bisa menulis dan menceritakan semua hal berkenaan dengan ingatan di sekolah. Ayo para guru, kita menulis!

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//