• Kolom
  • SUARA SETARA: Standar Kecantikan, Usaha Kapitalisme Meraih Keuntungan dengan Merendahkan Perempuan

SUARA SETARA: Standar Kecantikan, Usaha Kapitalisme Meraih Keuntungan dengan Merendahkan Perempuan

Tidak akan ada habisnya jika membandingkan diri dengan kecantikan orang lain. Menjadi diri sendiri adalah cukup. Mencintai diri sendiri adalah solusi.

Syifa Hasna Tsabitah

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, aktif di Gender Research Student Center (Great) UPI

Poster petunjuk penggunaan NIK/KTP untuk mempermudah akses layanan kesehatan di Puskesmas Dago, Bandung, Senin (12/9/2022). Teknologi gawai maupun media sosial mempengaruhi pandangan penggunanya terhadap standar kecantikan. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

20 September 2022


BandungBergerak.id - "Thanks to capitalism, the importance placed on beauty has never been so manipulated. We are the guinea pigs force-fed ads that tell us how pathetic we are: that we will never be loved, happy or valuable, unless we have the body, the face, the hair, even the personality that will apparently be ours, if only we buy their products," kata Beth Ditto.

Berkat kapitalisme, pentingnya kecantikan tidak pernah dimanipulasi. Kami adalah kelinci percobaan yang diberi makan iklan yang memberi tahu kami betapa menyedihkannya kami: bahwa kami tidak akan pernah dicintai, bahagia atau berharga, kecuali jika kami memiliki tubuh, wajah, rambut, bahkan kepribadian yang tampaknya akan menjadi milik kami, jika hanya kita yang membeli produk mereka. -Beth Ditto

Semakin maju teknologi komunikasi, semakin beragam juga konten yang bisa dilihat. Bisa disepakati bahwa apa yang terlihat di media sosial kerap kali berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya. Setiap orang tentu ingin menunjukkan sisi terbaiknya di media sosial karena apa yang diunggah di media sosial bukan bersifat temporal. Terkait alasan ini, ada konstruk abstrak yang mulanya tidak memiliki nilai pasti, kemudian berubah menjadi seolah absolut. Hal itu salah satunya adalah standar kecantikan.

Alih-alih menaikkan tingkat kepercayaan diri, standar kecantikan kerap kali menghancurkan seseorang dari dalam. Standar kecantikan yang ditetapkan merupakan usaha kelompok kapitalis dalam mencuci pola pikir masyarakat agar terus menyiksa diri mencapai tujuan yang tidak ada kejelasannya. Lalu, apa sebenarnya yang disebut standar kecantikan dan hubungannya dengan kapitalisme juga patriarki? Apakah ini bagian dari cara kapitalisme untuk merendahkan perempuan?

Standar kecantikan adalah ukuran cantiknya seseorang yang dipakai sebagai patokan. Menurut Mahanani dkk (2020), standar kecantikan merupakan sebuah fenomena yang dibentuk oleh sosial masyarakat. Apa yang menjadi masalah di sini? Perlu kita pahami mengenai kecantikan yang tidak bisa dinilai mengingat bentuk cantik sangatlah beragam dengan caranya masing-masing. Ketika ada patokan dari kecantikan itu sendiri, tentu hal ini bertolak belakang dengan konsep kecantikan yang tidak bisa dinilai. Lantas, siapa yang menciptakan standar atau patokan ini? Benar adanya jika konstruk sosial berperan besar dalam mengakarnya standar kecantikan ini. Namun, sebelum merasuk ke dalam jiwa setiap individu, tentunya ada dalang di balik semua ini. Dalang dalam isu standar kecantikan adalah kapitalisme.

Kapitalisme selalu bertujuan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Kushendrawati (2010) menyebutkan bahwa kapitalisme global muncul karena globalisasi itu sendiri. Ketika kondisi di mana batas negara semakin abu-abu, samar, dan memudar akibat dari globalisasi, ada kendali yang tampaknya sulit diatur di sisi lain. Globalisasi memudahkan masyarakat di berbagai belahan dunia untuk menjangkau satu sama lain, hal ini menguntungkan kapitalisme. Bahkan ketika globalisasi ini menghasilkan dampak buruk karena sulit dikendalikan, kapitalisme tetap di pihak yang mendapat keuntungan.

Baca Juga: SUARA SETARA: Menanamkan Nilai Sensitivitas Gender pada Laki-Laki
SUARA SETARA: Makna Inklusif untuk Siapa? Bagaimana dengan Ragam Keagamaan?
SUARA SETARA: Sebelum Merayakan Hari Kemerdekaan, Refleksi terhadap Kasus Kekerasan Seksual di Zaman Jepang

Perbedaan Standar Kecantikan

Kaitkan dengan standar kecantikan. Globalisasi membantu kita membuka mata dan pikiran bahwa cantik itu bentuknya berbeda dan beragam. Myanmar memandang perempuan dengan leher panjang adalah standar kecantikan mereka (Lidzikri, 2016). Penduduk asli Selandia Baru mempunyai tradisi untuk menggambar tato di wajahnya sebagai standar kecantikan dan status sosial (Martí, 2010). Ethiopia menganggap perempuan dengan bibir lebar memenuhi standar kecantikan (Iskandar Salim, 2020). Bentuk dari kecantikan ini banyak wujudnya, tetapi yang dijadikan patokan selalu berkulit putih, berbadan langsing, berambut panjang, dan kulit yang sempurna (Triwijati dan Mazdafiah, 2020).

Melihat hal ini, beauty atau kecantikan itu sendiri bisa dikatakan sebagai hal yang jahat jika selalu berkiblat pada standar yang ditetapkan oleh masyarakat. Jahat karena orang berlomba-lomba mengejar standar yang tidak absolut hingga berani mengubah apa yang telah diberikan Sang Pencipta. Hasrat dan keinginan memang tidak ada habisnya. Kapitalisme melihat hal ini sebagai peluang untuk melanggengkan kehausan di setiap individu mencapai keinginannya masing masing untuk menjadi cantik sesuai standar yang ada. Jahat pula karena akibat dari standar kecantikan ini tidak hanya merusak kepercayaan diri seseorang, tetapi bisa berakibat jauh lebih bahaya dari itu.

Bisa dirasakan sejak adanya globalisasi, di mana didukung oleh transparansi dan ekspansi informasi ini, seorang individu dengan mudahnya membandingkan apa yang tidak ia miliki. Contohnya, tubuh ideal. Tidak bisa disamakan bentuk tubuh seseorang dengan individu lainnya karena asupan nutrisi dan kondisi tubuh yang berbeda menjadi faktor utama standar tubuh ideal menjadi berbeda bagi setiap orangnya.

Namun, media sosial marak memperlihatkan standar omong kosong yang seolah-olah menjadi absolut seperti tubuh langsing dan kulit putih sebagai standar yang harus dipenuhi jika seseorang ingin dikategorikan sebagai orang yang memenuhi standar kecantikan. Perbedaan fisik yang tidak sesuai dengan standar selalu diiringi stigma dan justifikasi negatif (Fitriyah dan Rokhmawan, 2019). Brausch dan Gutierrez (2009) menyebutkan bahwa akibat dari perasaan negatif ini dapat menyebabkan gangguan makan yang mana berkontribusi langsung pada kasus bunuh diri yang mengalami peningkatan.

Saat ini, sudah banyak orang yang sadar akan standar kecantikan yang bahaya jika dijadikan patokan absolut. Produk make-up sudah banyak yang mengeluarkan berbagai warna, tentunya yang bisa digunakan oleh kita sebagai orang Asia Tenggara. Standar cantik pun kini tidak melulu berkulit putih atau berambut panjang. Banyak yang sudah paham jika cantiknya seseorang tidak bisa ditentukan hanya oleh warna kulit. Orang-orang bebas berekspresi dengan penuh percaya diri, bukti telah mencintai diri sendiri apa adanya.

Namun, bagaimanapun bentuk cantiknya, ada pihak yang selalu diuntungkan. Ketika warna kulit putih lebih diunggulkan oleh kaum kapitalis, merekalah yang mendapat keuntungan. Kini dengan kondisi individu yang telah menerima kondisi fisiknya apa adanya, kapitalisme pula yang diuntungkan karena produk make-up atau pakaian sudah disesuaikan ada berbagai warna dan ukuran. Sulit memerangi kapitalisme jika kontrol dalam diri pun nihil.

Kapitalisme membentuk standar kecantikan yang kemudian mengakar di berbagai lapisan masyarakat. Dalam menghancurkan dalang dari konstruk sosial ini rasanya tidak cukup hanya jika mengandalkan kekuatan orang banyak dengan perasaan yang sama-sama tertindas. Waktu mengambil peran penting dalam hal ini. Ketika tidak bisa membasmi sebuah masalah sampai ke akarnya, ada baiknya jika membiarkan waktu yang menjawab.

Yang bisa dilakukan dalam menghadapi standar kecantikan yang menjadi racun di masyarakat adalah memahami diri sebaik-baiknya. Apa yang kita miliki dan tidak kita miliki adalah bagian dari kita. Tidak akan ada habisnya jika membandingkan diri dengan orang lain, terutama unggahan di sosial media di mana orang-orang sedang menjadi versi terbaiknya. Maka dari itu, kendalikan diri dalam memahami bahwa menjadi diri sendiri adalah cukup. Mencintai diri sendiri adalah solusi.

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS