Tanggul Jebol Cisunggalah Merendam Majalaya, Ratusan Warga Terdampak
Sungai Cisunggalah meluap; 310 kepala keluarga terdampak, warga butuh bantuan mendesak di tengah ancaman cuaca ekstrem dan risiko banjir berulang di Bandung Selatan.
Penulis Tim Redaksi14 Februari 2026
BandungBergerak - Air datang menjelang tengah malam, nyaris tanpa peringatan. Luapan Sungai Cisunggalah menjebol tanggul dan menerjang permukiman warga di Kampung Bojong Keusik, Desa Bojong, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Kamis dini hari, 12 Februari 2026.
Air cokelat pekat bercampur lumpur, batang kayu, dan bal-bal plastik dari gudang rongsok yang ikut jebol menggenangi sedikitnya lima RT di RW 1, dengan ketinggian mencapai pinggang hingga dada orang dewasa. Warga yang terlelap terbangun dalam kepanikan, bergegas menyelamatkan diri di tengah gelap malam.
“Rusak semua, apa lagi coba yang tersisa, kulkas, dispenser, televisi, itu semua ngambang (terapung) waktu air masuk rumah. Cepat sekali naiknya sampai perut, apalagi waktu itu sudah pada tidur semua, yang penting selametin anak-anak dulu. Pokoknya semua rusak, seragam dan buku sekolah anak juga entah hanyut kemana,” kata Sela, 30 tahun, Kamis, 12 Februari 2026.
Pagi harinya, air mulai surut. Lumpur tebal menutup jalan desa dan gang-gang sempit. Perabot rumah tangga berserakan di jalan. Sebuah mobil terseret arus dan tersangkut di ujung kampung, tertahan tumpukan bal plastik.
Warga lainnya, Ajat, 60 tahun, menunjukkan tiga sepeda motor di teras rumahnya yang terbalut lumpur. Di halaman, kasur, mesin cuci, kursi, dan karpet tak lagi bisa digunakan.
“Semua barang rusak. Sepeda motor saya juga terendam banjir dan lumpur. Surat-surat berharga belum saya periksa, kemungkinan rusak juga. Ini masih beres-beres ngeluarin lumpur dan barang-barang yang tidak bisa lagi dipakai, banjir yang sekarang jauh lebih besar disbanding yang dulu-dulu,” kata Ajat.
Di lorong lain, Esih, 68 tahun, tak sempat menyelamatkan harta benda.
“Nggak kepikiran lagi buat nyelametin barang-barang, yang penting bisa selamat semua anggota keluarga. Di dalam rumah saya airnya selutut,” jelasnya.
Anita, murid SDN Bojong 1, terpaksa tak masuk sekolah. Ia sudah izin melalui grup WhatsApp kelas.
“Semua seragam dan peralatan sekolah rusak, nggak tau ini gimana mau sekolah juga,” kata murid SDN Bojong 1 tersebut.
Baca Juga: Longsor Cisarua Menyapu Kampung Pasir Kuning, Delapan Orang Dilaporkan Tewas, 82 Orang masih Dicari
Kesaksian Ai dan Ade, Ketika Hujan Deras dan Gerakan Tanah
Dampak dan Kebutuhan Mendesak
Data sementara mencatat 310 kepala keluarga atau sekitar 660 jiwa terdampak. Lima rumah rusak berat dan tujuh rusak sedang. Sebagian warga sempat mengungsi. Banyak permukiman berada lebih rendah dari jalan desa sehingga seluruh perabot terendam.
Warga membutuhkan makanan siap saji, perlengkapan tidur, kebutuhan balita, alat kebersihan, serta bantuan untuk membersihkan lumpur dan sampah berukuran besar. Sejumlah warga juga kehilangan alat kerja dan kendaraan yang menjadi penopang penghasilan.
Banjir akibat tanggul jebol di aliran Cisunggalah bukan kali pertama terjadi. Wilayah Desa Bojong, Majalaya, hingga Desa Panyadap, Kecamatan Solokanjeruk, kerap terdampak luapan sungai saat hujan deras.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, menyampaikan banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam pada Rabu malam, 11 Februari 2026.
Menurut Hadi, dampak terparah berada di Desa Panyadap dengan lima rumah rusak berat dan tujuh rusak sedang. Tidak ada laporan korban jiwa. Sebanyak 18 warga sempat mengungsi.
BPBD Jawa Barat berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bandung untuk asesmen dan penanganan. Akses jalan utama dilaporkan sudah bisa dilalui dan aliran listrik kembali menyala.
“Untuk sementara, belum ada update lagi,” ujar Hadi, Jumat, 13 Februari 2026.
Ramalan Cuaca
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat memprakirakan hujan sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi hingga pertengahan Februari.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia, menyebut kondisi atmosfer masih mendukung pertumbuhan awan konvektif di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bandung.
“Masyarakat di wilayah rawan bencana seperti longsor, banjir, dan angin kencang diminta meningkatkan kewaspadaan dengan selalu memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG serta menyiapkan langkah antisipatif sejak dini," ujarnya.
Dengan curah hujan yang masih tinggi, warga berharap perbaikan tanggul segera dilakukan untuk mencegah banjir serupa terulang kembali.
Bencana Longsor
Sebelum banjir melanda kawasan Majalaya, bencana besar terjadi awal tahun 2026 di Kabupaten Bandung Barat. Longsor melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.
Longsor disertai material lumpur dan batu dari lereng Gunung Burangrang ke pemukiman warga. Dampaknya, puluhan rumah rusak parah atau hilang tertimbun, kebun warga rusak, dan ternak banyak yang mati. Longsor ini memaksa ratusan warga mengungsi karena tempat tinggal mereka tidak lagi layak huni.
Sebanyak 80 warga meninggal dunia. Tim SAR gabungan menemukan 94 kantong jenazah. Dari jumlah itu, sekitar 80 warga dipastikan meninggal dunia, sementara 71 di antaranya sudah diidentifikasi, dan sisanya masih dalam proses identifikasi. Banyak keluarga masih menantikan kabar tentang anggota yang hilang.
Mengapa Banjir Bandung Selatan Berulang?
Kombinasi faktor geografis dan kerusakan lingkungan membuat banjir di Bandung terus berulang setiap musim hujan. Laman Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes merilis sedikitnya ada empat Faktor Penyebab Banjir di Bandung selatan.
Pertama, topografi rendah. Sejumlah wilayah seperti Baleendah berada lebih rendah dari permukaan anak Sungai Citarum, sehingga mudah tergenang saat sungai meluap.
Buruknya daerah resapan air. Minimnya kawasan resapan di Kota Bandung membuat air hujan tidak terserap optimal dan langsung mengalir ke sungai.
Kerusakan wilayah hulu. Rusaknya daerah resapan di Bandung Utara (Dago dan Lembang) mempercepat limpasan air ke Bandung Selatan.
Alih fungsi lahan. Pembangunan di kawasan yang seharusnya menjadi area resapan memperparah debit limpasan air saat hujan deras.
***
*Liputan ini dikerjakan fotografer BandungBergerak Prima Mulia dengan sokongan data dari reporter Muhammad Akmal Firmansyah. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

