• Narasi
  • ESAI TERPILIH MARET 2026: dari Disarankan di Bandung hingga Gerakan Perempuan

ESAI TERPILIH MARET 2026: dari Disarankan di Bandung hingga Gerakan Perempuan

Esai Terpilih bulan Maret 2026 mengulas beragam tema, di antaranya tentang gerakan perempuan yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional.

Tim Redaksi

Awak Redaksi BandungBergerak.id

Buku Melawan dengan Gagasan berisi kumpulan esai terpilih Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara #28Hari28Kritik tahun 2025. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak.id)

16 April 2026


BandungBergerak – Sepanjang bulan Maret 2026, kanal Esai BandungBergerak menayangkan sidikitnya 67 esai dari para penulis di Indonesia. Mereka menandai semangat berkarya untuk mengisi ruang publik dengan gagasan dan ide yang beragam. Seperti bulan-bulan sebelumnya, kami umumkan Esai Terpilih Maret 2026, sebagai berikut:

Disarankan Di Bandung: Negara Kecil di Bibir Jurang

Esai ini ditulis Mang Aqli, penulis yang mendaku sebagai pengamat trotoar yang bosan melihat proyek gagal. Ia mengulas Lembur Katumbiri, kampung revitalisasi yang diresmikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada Mei 2025, menjadi sorotan setelah dijadikan latar video klip lagu "Disarankan Di Bandung" yang viral.

Kampung yang sebelumnya dikenal sebagai Kampung Pelangi 200 ini dihiasi dengan cat warna-warni yang melibatkan anggaran 190 juta rupiah untuk mewarnai 347 rumah. Kampung yang kini menjadi instagramable ini adalah hasil dari penggusuran warga Lebak Siliwangi untuk perluasan Kampus ITB, sebuah kampus yang sering disebut dalam lirik lagu tersebut, yang menggambarkan kenangan masa muda dan persahabatan di Bandung.

Namun, Mang Aqli melihat ada ironi yang mendalam dalam pemilihan Lembur Katumbiri sebagai latar video klip. Kampung yang kini menjadi simbol keindahan visual dan nostalgia bagi para musisi, sejatinya adalah tempat relokasi warga yang terdampak penggusuran demi memperluas kampus yang menjadi bagian dari kenangan indah dalam lagu.

Warga Lembur Katumbiri tinggal di bantaran sungai dengan lahan yang rawan bencana, sementara di seberang Sabuga ITB megah berdiri tegak. Pertanyaannya, apakah para musisi sadar bahwa mereka mengambil gambar di tempat yang memiliki sejarah penuh air mata penggusuran? Semoga mereka memahami konteks yang lebih dalam di balik keindahan visual tersebut.

Luka Teror Andrie Yunus di Jalan Demokrasi

Esai ini ditulis Taufik Hidayat, Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama Dinas Energi da Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat. Ia membuka esainya seperti ini:

Pada Kamis malam, 12 Maret 2026, lini masa media sosial ramai dengan kabar mengejutkan tentang serangan brutal yang menimpa Andrie Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS. Andrie, yang baru saja selesai menjadi narasumber di podcast Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dengan topik "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia", diserang dengan air keras saat ia menuju mess KontraS di Jalan Salemba I, Jakarta. Video CCTV yang beredar menunjukkan kepanikan warga sekitar yang berusaha menolong Andrie yang menderita luka bakar serius hingga 24 persen.

Menurutnya, respons pemerintah terhadap insiden ini menciptakan kesan miris. Sementara masyarakat sipil sibuk menggalang solidaritas dan dana bantuan, pernyataan dari aparat keamanan dan kementerian terkait terkesan lemah dan normatif, seperti "kami sedang menyelidiki" atau "belum mendapat laporan."

Ia menilai retorika semacam ini menunjukkan kesenjangan antara urgensi perlindungan terhadap nyawa aktivis dan lambannya respons pemerintah. Kasus ini, yang nampak sebagai tindakan teror terstruktur, disebut semakin menambah kekhawatiran terhadap keselamatan para pembela hak asasi manusia di Indonesia.

Baca Juga: ESAI TERPILIH JANUARI 2026: dari Warisan Dunia hingga Kurikulum Sekolah
ESAI TERPILIH DESEMBER 2025: dari Buruknya Mobilitas Kota Bandung hingga Bullying

MAHASISWA BERSUARA: Perempuan sebagai Kekuatan Revolusioner Melawan Ketidakadilan Gender

Esai ini ditulis oleh Dea Melrisa Agnesia, Pengurus Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (LMID). Ia membuka esainya seperti ini:

Setiap tanggal 8 Maret, perayaan International Women's Day digelar dengan berbagai kampanye kesetaraan dan pemberdayaan perempuan. Namun, di balik perayaan simbolis ini, realitas yang lebih pahit mengungkapkan bahwa ketidakadilan gender masih jauh dari selesai. Laporan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat lebih dari 445.000 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia sepanjang 2024, dengan hampir 330.000 di antaranya kekerasan berbasis gender. Angka ini meningkat hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan betapa perempuan masih menghadapi kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan ekonomi dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Ia menilai, paradoks ini semakin tajam ketika disandingkan dengan klaim kemajuan hak perempuan yang sering digaungkan. Meski sejumlah kebijakan perlindungan perempuan sudah ada, penegakan hukum yang lemah, kurangnya akses dukungan, dan ketidakmampuan menjamin perlindungan bagi korban menunjukkan bahwa ketidakadilan gender telah menjadi fenomena struktural yang terinstitusionalisasi.

Dalam konteks International Women’s Day, tulis Dea, penting untuk memandang perempuan tidak hanya sebagai korban, tetapi juga sebagai agen perubahan yang menentang ketidakadilan ini, dengan perjuangan yang memerlukan kritik terhadap sistem, solidaritas kolektif, dan komitmen politik yang berkelanjutan.

PELAJAR BERSUARA: Feminisme antara Pengistimewaan yang Disalahartikan dan Kesetaraan yang Belum Tercapai

Esai ini ditulis Adiya Rafa Nugraha, siswa kelas XII di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bandung. Ia menulis, meskipun diskursus tentang hak-hak perempuan semakin berkembang di Indonesia, gerakan feminisme masih kesulitan untuk tumbuh secara substansial. Salah satu penyebabnya adalah narasi yang menganggap "kebaikan" bagi perempuan melalui pengistimewaan, bukan kesetaraan.

Menurutnya, isu-isu yang ramai di media sosial seputar konsep "bare minimum" dan "queen/princess treatment" sering disalahpahami sebagai pemberdayaan perempuan, padahal keduanya justru memperkuat patriarki dengan mengemasnya dalam bentuk yang tampak lebih modern, namun tetap mempertahankan struktur ketidaksetaraan yang ada.

Konsep "bare minimum", lanjut Adiya, sering kali dipandang sebagai standar dasar perlakuan laki-laki terhadap perempuan, seperti ucapan selamat ulang tahun atau bantuan dalam pekerjaan rumah tangga, sementara "queen/princess treatment" mengangkat narasi perempuan yang layak diperlakukan istimewa.

Meski terlihat sebagai bentuk penghormatan, Adiya menjelaskan, kedua narasi ini justru memperkuat hubungan hierarkis dan membatasi kebebasan perempuan. Mereka tetap bergantung pada perlakuan laki-laki, bukan pada hak setara perempuan sebagai individu yang mandiri, sehingga memperpanjang ketidaksetaraan dalam masyarakat.

Demikian ulasan singkat Esai Terpilih bulan Maret 2026. Berkali-kali kami tekankan bahwa pengumuman Esai Terpilih bulanan BandungBergerak bukan ajang pemilihan esai terbaik yang terkesan ingin menafikan esai-esai lainnya. Pemilihan tiga Esai Terpilih tentu melewati beberapa pertimbangan tim redaksi tanpa bermaksud mengecilkan tulisan-tulisan lainnya yang seluruhnya terbaik. Untuk itu kami haturkan terima kasih dan hormat setulus-tulusnya kepada semua penulis esai.

Selanjutnya, BandungBergerak akan menghubungi para penulis Esai Tearpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan. Seluruh biaya pengiriman ditanggung oleh bandungbergerak. Atau bisa juga para penulis esai terpilih berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310. Selamat untuk kawan-kawan penulis!

Kami menunggu kiriman esai-esai bermutu dari kawan-kawan semua. Esai bisa dikirim ke [email protected]. Mari terus menulis, terus berdampak! Sesekali, mari mengkritik!


*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//