ESAI TERPILIH JULI 2026: Membaca Bandung dari Ruang Kota hingga Beban Sehari-hari
Empat Esai Terpilih mengajak pembaca melihat kembali persoalan rasa aman, keterbukaan pemerintah, ketimpangan ekonomi, dan pengalaman perempuan.

Tim Redaksi
Awak Redaksi BandungBergerak.id
27 Agustus 2026
BandungBergerak - Sepanjang Juli 2026, kanal Esai BandungBergerak menayangkan sidikitnya 60 tulisan dari para penulis di Indonesia. Seperti bulan-bulan sebelumnya, kami umumkan Esai Terpilih bulan Juli 2026. Sejumlah tulisan yang terbit membawa pembaca melihat Bandung dan kehidupan warganya dari beragam sudut. Dari isu diskriminasi terhadap kelompok LGBT, perubahan ruang kota, hingga persoalan ekonomi kelas menengah dan period poverty, tulisan-tulisan ini menunjukkan bahwa persoalan sehari-hari selalu memiliki konteks sosial yang lebih luas.
Redaksi memilih empat tulisan dari kanal Opini dan Mahasiswa Bersuara yang tidak hanya mengangkat persoalan aktual, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali bagaimana kebijakan, ruang kota, dan kondisi sosial memengaruhi kehidupan warga.
Ketika Rasa Aman Dipertanyakan
Dalam “Ketika Warga Dijadikan Ancaman: Polarisasi Anti-LGBT dan Retaknya Rasa Aman di Bandung”, Joan Imanuel Edon, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, mengulas bagaimana wacana pengesahan Perda Anti-LGBT di Bandung pada 2023 memperlihatkan rapuhnya rasa aman kelompok minoritas gender dan seksual.
Joan tidak berhenti pada kebijakan. Ia menyoroti bagaimana kelompok LGBT kerap direduksi menjadi label seperti “ancaman moral” atau “bahaya sosial”, terutama dalam percakapan di media sosial. Tulisan ini mengajak pembaca melihat bahwa polarisasi tidak hanya menghasilkan perdebatan, tetapi juga dapat membentuk prasangka dan mendorong diskriminasi.
Gasibu dan Hak Warga Mengetahui Kotanya
Persoalan keterbukaan pemerintah menjadi perhatian Ridwan Hutagalung, pendiri Komunitas Aleut, dalam “Gasibu Bukan Sekadar Tambahan Halaman Gedung Sate”. Ia mempertanyakan proses di balik proyek integrasi Gedung Sate dan Lapangan Gasibu yang, menurutnya, baru diketahui warga setelah pekerjaan berjalan.
Ridwan membandingkan kondisi tersebut dengan masa kolonial, ketika rapat-rapat pemerintahan dan informasi mengenai rencana pembangunan dipublikasikan melalui media cetak. Baginya, keterbukaan semestinya menjadi bagian penting dalam pengelolaan kota.
“Saya kira, pemerintah di zaman merdeka ini mestinya bisa lebih terbuka mengabarkan seperti apa rencana-rencananya dan bagaimana rencana-rencana tersebut akan dilaksanakan, termasuk siapa yang akan mengerjakannya.”
Tulisan ini bukan semata soal Gasibu, melainkan tentang hak warga untuk mengetahui perubahan yang terjadi di ruang hidup mereka.
Ketika Kelas Menengah Bergerak ke Bawah
Melalui Mahasiswa Bersuara, Ananda Thariq Annazriel, mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Pasundan, membawa persoalan ekonomi ke tingkat yang lebih dekat dengan kehidupan kelas menengah. Dalam “Pengusiran Massal Kelas Menengah dari Panggung Kesejahteraan”, ia menggunakan konsep K-shaped recovery untuk menggambarkan pemulihan ekonomi yang berjalan tidak merata.
Menurut Ananda, sebagian kelompok masyarakat mengalami peningkatan kekayaan, sementara kelompok kelas menengah justru menghadapi tekanan ekonomi dan risiko jatuh miskin. Ia mempertanyakan narasi pertumbuhan ekonomi yang dianggap belum sepenuhnya menggambarkan kondisi masyarakat di tingkat bawah.
“Ekonomi Indonesia tidak sedang membaik secara merata, ia sedang terbelah dua.”
Dengan bahasa yang tajam, tulisan ini mengajak pembaca melihat pertumbuhan ekonomi bukan hanya dari angka, tetapi dari siapa yang menikmati pemulihan dan siapa yang justru tertinggal.
Baca Juga: ESAI TERPILIH JUNI 2026: Dari MBG hingga Bersepeda di Bandung
ESAI TERPILIH MEI 2026: Dari Gerbong Wanita hingga Feodalisme Cerdas Cermat
Harga yang Dibayar Setiap Bulan
Sementara itu, Alya Fitri Ramadhani, mahasiswa Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran, mengangkat persoalan yang dekat dengan keseharian perempuan melalui “Menstruasi dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Perempuan”.
Tulisan ini menggunakan pengalaman Erisa, seorang mahasiswa, untuk menunjukkan bagaimana harga produk menstruasi dapat menjadi beban ketika seseorang hidup dengan anggaran terbatas. Kebutuhan yang datang setiap bulan tersebut bahkan membuat Erisa mengurangi penggunaan pembalut demi menghemat pengeluaran.
“Kadang aku sengaja nahan ganti pembalut biar gak terlalu boros.”
Pengalaman tersebut kemudian ditempatkan dalam konteks period poverty, yakni keterbatasan akses terhadap produk sanitasi menstruasi akibat persoalan ekonomi. Alya memperlihatkan bahwa persoalan menstruasi bukan hanya perkara biologis, tetapi juga berkaitan dengan akses, kesehatan, dan kemampuan ekonomi.
Keempat tulisan tersebut datang dari pengalaman dan latar yang berbeda, tetapi bertemu pada satu hal: membaca persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari secara lebih kritis. Ada soal rasa aman di tengah polarisasi, hak warga atas informasi mengenai kotanya, tekanan ekonomi kelas menengah, hingga beban yang harus ditanggung perempuan setiap bulan.
Bagi BandungBergerak, tulisan-tulisan semacam ini penting karena kota tidak hanya dibentuk oleh kebijakan dan pembangunan, tetapi juga oleh pengalaman orang-orang yang hidup di dalamnya. Selamat kepada para penulis terpilih, dan terima kasih kepada seluruh kontributor yang terus merawat ruang berpikir melalui tulisan.
Berkali-kali kami tekankan bahwa pengumuman Esai Terpilih bulanan BandungBergerak bukan ajang pemilihan esai terbaik yang terkesan ingin menafikan esai-esai lainnya. Pemilihan tiga Esai Terpilih tentu melewati beberapa pertimbangan tim redaksi tanpa bermaksud mengecilkan tulisan-tulisan lainnya yang seluruhnya terbaik. Untuk itu kami haturkan terima kasih dan hormat setulus-tulusnya kepada semua penulis esai.
Selanjutnya, BandungBergerak akan menghubungi para penulis Esai Tearpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan. Seluruh biaya pengiriman ditanggung oleh bandungbergerak. Atau bisa juga para penulis esai terpilih berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310. Selamat untuk kawan-kawan penulis!
Kami menunggu kiriman esai-esai bermutu dari kawan-kawan semua. Esai bisa dikirim ke [email protected]. Mari terus menulis, terus berdampak! Sesekali, mari mengkritik!
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


