“Menghidupkan” Mata Hitam Jeihan Sukmantoro
Pameran Sematan menghidupkan kembali karya-karya maestro seni rupa Jeihan Sukmantoro. Selain lukisan mata hitam, dipamerkan juga puisi mbeling dan patung.
Penulis Salma Nur Fauziyah15 Desember 2023
BandungBergerak.id - “Melihat karya Jeihan seolah melihat sumur tua. Semakin dilihat seperti melihat diri sendiri,” kata Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kabinet Pembangunan V era Orde Baru).
Boom! Terjadi ledakan harga lukisan besar-besaran di Istana Ballroom Hotel Sari Pacific tahun 1985 silam. Sebagai peringatan HUT RI ke-40 dan HUT Citibanks ke-17, pameran bertajuk “Temunya 2 Ekpresionis Besar” itu mengundang dua maestro seni rupa tersohor, yaitu S. Sudjojono dan Jeihan Sukmantoro.
Nama Jeihan Sukmantoro, seniman yang pernah tinggal di kawasan Cicadas, Bandung, ini mengejutkan banyak pihak. Pada saat itu, Jeihan memang tidak tanggung-tanggung dalam mematok karya lukisnya seharga 50 juta rupiah. Harga yang terlampau tinggi, melebihi harga lukisan milik Affandi yang pada saat itu masih di angka 20 juta rupiah. Meski awalnya sempat diragukan karena mematok harga tinggi, di luar dugaan lukisan Jeihan senilai 50 juta rupiah itu laku keras.
Menurut pengakuan Jeihan dalam buku “Jeihan: Maestro Ambang Nyata dan Maya”, S Sudjojono pingsan menyaksikan hal itu. Jeihan menganggap hal ini sebagai kemenangannya dalam acara yang sebenarnya ia anggap sebagai arena pertarungan dengan sosok yang sudah dirinya anggap sebagai guru alih-alih sebuah pertemuan.
Jeihan Sukmantoro memang dikenal sebagai seniman penuh kejutan. Saat berumur empat tahun, dia mengalami sebuah kecelakaan dan divonis tidak akan dapat hidup lama. Tanpa disangka, ternyata Jeihan mampu mengejar ketertinggalannya dan berhasil masuk Institut Teknologi Bandung (ITB).
Meski tidak berkuliah sampai selesai, maestro seni rupa yang dikenal lewat lukisan mata hitam ini mampu menjadi pelopor lukisan mahal di Indonesia dan menggelar banyak sekali pameran tunggal dan kolaborasi.
Jeihan mengembuskan napas terakhirnya pada 29 November 2019 di kediamannya, Jalan Padasuka, Bandung. Kini, memori kolektif mengenai karya Jeihan dapat dinikmati kembali dalam pameran bertajuk Sematan [ditulis: Se(mata)n].
Pameran Sematan terwujud berkat kolaborasi oleh tiga belah pihak yaitu Grey Art Gallery, Studio Jeihan, dan G3N Project. Sematan akan hadir selama dua bulan dari tanggal 11 November 2023 - 11 Januari 2024. Pembukaan pameran dibuka oleh Jim Supangkat, seniman gaek sekaligus sahabat karib Jeihan, Sabtu sore, 11 Nobember 2023.

Bercengkerama dengan Kaya Jeihan
Pengunjung sejak dari pintu masuk ruang pameran sudah dikenalkan pada karya dan profil sang seniman. Papan pengantar besar yang memuat foto serta profil Jeihan Sukmantoro terpampang dekat pintu masuk. Kemudian terdapat pengantar lain berisi lini masa kehidupan dan karier Jeihan yang diawali dari lukisan potret dirinya.
Semakin dalam, pengunjung diajak menyelami karya-karya seni rupa Jeihan. Pengunjung berinteraksi dengan lukisan-lukisan pemandangan hingga mata bolong (hitam) yang didominasi figur perempuan. Tidak hanya lukisan figur, patung tembaga dan juga kutipan-kutipan puisi mbeling hingga wejangan Jeihan pun terlihat menghiasi tembok pameran.
Angga Atmadilaga selaku kurator Grey Art Gallery menyampaikan pameran karya Jeihan Sukmantoro membutuhkan persiapan hingga tujuh bulan lamanya, lima bulan di antaranya khusus dihabiskan untuk riset. Tim kurator juga mempersiapkan nuansa pameran yang akan dihadirkan selain menyiapkan karya apa saja yang akan ditampilkan. Hal itu dibuat agar nuansa yang dihadirkan di setiap ruangan dapat memancarkan aura karya Jeihan itu sendiri.
“Salah satu hal yang diinginkan oleh pihak keluarga Jeihan itu, jangan sampai auratik karyanya Jeihan itu lenyap ketika dia pindah dari museum ke galeri,” jelas Angga, 23 November 2023
Tidak hanya memancarkan nuansa Jeihan, sisi modernitas pun terlihat dari adanya video mapping dan instalasi seni yang tidak terlepas dari auratik karya Jeihan. Ada pula konsep interaktif, seperti cap stempel kata di ruangan bawah, yang dapat dicoba oleh pengunjung pameran.
Baca Juga: Pergolakan Seni dan Perubahan Sosial: Seni Rakyat dan Identitas Melawan Dominasi
Membangkitkan Gairah Seni Rupa pada Anak-anak Kota Bandung
Mengenal Toleransi dan Keberagaman di Griya Seni Popo Iskandar
Mengenalkan Seniman
Se(mata)n merupakan program pameran baru yang digagas oleh Grey Art Gallery dan akan menjadi pameran berkelanjutan. Latar belakang pameran ini berangkat dari upaya untuk mengangkat kembali nama maestro-maestro seni rupa Indonesia, khususnya yang berdomisili Bandung.
“Kata sematan itu, kan, bisa dimaknai sebagai menyematkan. Jadi bagaimana maestro-maestro tersebut, karyanya itu justru direspons oleh pihak-pihak di luar dari maestro itu sendiri,” jelas Angga Atmadilaga.
Dalam pameran kali ini, kata Sematan juga dikaitkan dengan kata mata. Makna mata ini bukan membahas mengenai karya mata bolong Jeihan yang fenomenal. Tetapi, bagaimana para apresiator yang datang dapat menafsirkan atau bahkan mengembangkan karya seni itu berdasarkan sudut pandang mata mereka sendiri. Terlihat juga dari konsep pameran yang interaktif terhadap apresiator.
Sewaktu gagasan untuk tetap mempertahankan ingatan koletif dan juga memperkenalkan tokoh-tokoh seni rupa terutama yang sudah wafat dipaparkan, hal ini pun langsung disambut baik oleh pihak keluarga Jeihan.
“Karena yang dibutuhkan keluarga Jeihan itu ialah bagaimana masyarakat awam yang baru itu dia tidak luput ingatannya terhadap Jeihan. Jadi jangan sampai Jeihan itu dia berhenti dari ingatan-ingatan orang-orang yang tahu seni rupa saja. Tetapi angkatan baru tidak mengenal itu,” ucap Angga, saat menceritakan proses bagaimana Grey dapat bekerja sama dengan Studio Jeihan.
Di mata Angga sendiri, Jeihan merupakan sosok yang inspiratif. Sifat keras kepalanya ini menjadikan Jeihan sebagai sosok yang teguh terhadap pendirian dan idealismenya. Ini tergambar jelas dari bagaimana beliau dapat mempertahankan gaya dan prinsip lewat karyanya.
Cangkupan karya yang luas juga menjadi salah satu alasan Jeihan Sukmantoro menjadi maestro seni rupa yang pertama kali diangkat oleh Grey. Selama ini publik hanya tahu Jeihan sebagai pelukis figur mata bolong saja. Padahal, Jeihan sendiri pun menulis puisi mbeling, menghasilkan karya keramik hingga patung.
Setelah kerja sama antara Grey dan Studio Jeihan terjalin, G3N Project pun datang dan berkata bahwa pihaknya memiliki beberapa koleksi Jeihan. Maka, pihak Grey menawarkan kerja sama kepada G3N Project yang ternyata memiliki gagasan yang sama untuk mengangkat kembali nama maestro seni rupa di Indonesia.
Seperti sempat disinggung di atas, pameran ini direncanakan hadir setiap dua tahun sekali ini akan mengangkat tokoh seni rupa yang berbeda. Angga sudah mengantongi beberapa nama tokoh seni rupa yang akan diangkat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Haryadi Suadi, seorang seniman yang terkenal dengan karya cetak grafisnya.
Angga berharap pameran ini bisa menjadikan sumbangsih kepada masyarakat untuk mengenalkan tokoh-tokoh seni rupa. Pun menjadi sebuah etalase bagi publik mengenal seni rupa dengan lebih baik lagi. Baik seni rupa saat ini maupun yang sudah dilalui di masa lampau.
“Dan mudah-mudahan, ini akan menjadi satu hal yang menarik bagi publik untuk bisa mencerap nilai-nilai dalam seni itu sendiri. Baik nilai estetikanya ataupun nilai kesadaran akan kebenaran dari tematiknya,” jelas Angga.
*Kawan-kawan yang baik bisa membaca tulisan lain dari Salma Nur Fauziyah, atau artikel-artikel menarik lain tentang Seni Rupa