Bumi dalam Tekanan Covid-19 dan Sampah Paket

Terjadi perubahan perilaku konsumen selama pandemi Covid-19. Mereka semakin bergantung pada layanan berbasis aplikasi, misalnya untuk belanja online.

Sampah plastik di Sungai Citarum, Kabupaten Bandung, Selasa (25/5/2021). Sebagian besar sampah plastik bermuara ke laut. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Penulis Iman Herdiana18 Februari 2022


BandungBergerak.idOrang mungkin sudah lebih dari jenuh mendengar kata Covid-19. Tetapi inilah kenyataan hari ini sepanjang pagebluk belum berakhir dan jumlah kasus terus meningkat. Bahkan pandemi tak hanya menimbulkan kejenuhan massal, melainkan lebih dari itu berdampak besar pada lingkungan.

Penelitian yang dilakukan Maya Nabila Roxanne dari Universitas Indonesia mengungkap dampak besar pandemi pada lingkungan terutama terkait produksi sampah plastik. Dalam riset yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial berjudul “Bumi di Bawah Tekanan: Covid-19 dan Polusi Plastik”, Maya menyatakan bahwa risiko tertular Covid-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan yang kemudian mengubah perilaku menjadi lebih higienis.

Hal itu turut menggeser pola perilaku konsumen seperti penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), meningkatnya pembelian barang dan makanan melalui daring menggunakan kemasan plastik, dan penggunaan peralatan sekali pakai lainnya.

Maya mengungkap fenomena ini terjadi secara global. Berdasarkan dari laporan pengelolaan sampah di Amerika Utara pada Juli 2020 terjadi peningkatan volume sampah plastik sebesar 50 persen pada rumah tangga. Faktor pendorongnya: ketergantungan pada APD, peningkatan tajam dalam industri pedagang elektronik; konsumen merasa lebih aman tinggal di rumah dan barang/makanan dikirim kepada mereka; peningkatan layanan penjemputan konsumen di pinggir jalan oleh penyedia layanan.

“Penggunaan pembungkus dan kantong plastik sekali pakai juga mengalami peningkatan sehingga memperburuk masalah sampah plastik yang sudah ada di Indonesia sebelum pandemi terjadi,” ungkap Maya Nabila Roxanne, mengutip jurnal ilmiahnya yang diakses Jumat (18/2/2022).

Maya mengutip keterangan dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, bahwa layanan pesan antar makanan daring seperti Go-Food dan Grabfood menjadi sektor yang susah dikendalikan. Hal ini sesuai dengan riset terbaru dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola penggunaan layanan daring oleh konsumen selama pandemi Covid-19 berlangsung, yaitu konsumen semakin bergantung pada layanan berbasis aplikasi daring seperti Go-Jek.

Riset tersebut memaparkan, layanan yang paling sering digunakan secara berurutan adalah Go-Food (65 persen), Go-Pay (68 persen), Paylater (57 persen) dan Go-Sen (36 persen). Dalam penelitian di Kota Medan menyatakan bahwa penerapan work from home, social distancing, dan pembatasan jumlah pengunjung restoran selama pandemi Covid-19 berdampak signifikan secara parsial dan simultan terhadap peningkatan pembelian makanan secara daring melalui aplikasi Go-Food.

Sejalan dengan itu, hasil riset dari LD FEB UI juga menyatakan bahwa sebanyak 86 persen konsumen mengaku aplikasi daring tersebut membantu mereka untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dan tetap produktif selama pandemi. Peningkatan jumlah transaksi pada layanan pesan antar makanan dengan persentase yang sama juga terjadi pada perusahaan layanan jasa serupa, Grab.

Maya kemudian mengungkap bahwa penyedia layanan aplikasi daring mengakui sudah melakukan beberapa cara untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, namun hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyatakan bahwa 96 persen paket yang dibeli melalui daring mengandung materi plastik seperti selotip, pembungkus plastik dan bubble wrap.

Survei tersebut menunjukkan bahwa selama pandemi Covid-19, jumlah responden yang melakukan belanja online berbentuk paket meningkat menjadi 62 persen sementara layanan pesan antar makanan siap saji meningkat sebesar 47 persen.

Baca Juga: 5 Jenis Produksi Sampah Terbesar di Kota Bandung 2020
Kang Pisman vs Bom Waktu Sampah
Jutaan Lembar Sampah Plastik Cemari Laut Indonesia

Indonesia sebagai Pencemar Laut Terbesar kedua setelah Cina

Masih menurut jurnal ilmiah Maya Nabila Roxanne, sampah plastik merupakan tantangan yang memprihatinkan dan sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan, kemajuan, dan modernisasi. Berdasarkan data yang dirilis oleh Jambeck (2015) menyatakan Indonesia sebagai pencemar laut terbesar kedua di dunia setelah Cina.

“Pada tahun 2010 Indonesia diperkirakan menghasilkan 3.2 juta ton sampah plastik yang salah dikelola dan 1.29 juta ton di antaranya berakhir di laut,” sebutnya.

Secara keseluruhan diperkirakan hampir 15 persen sampah plastik dari total global yang bermuara di lautan berasal dari Indonesia dengan empat sungai di Jawa yang diidentifikasi sebagai penyumbang utama yakni Sungai Brantas, Solo, Serayu, dan Progo.

“Tidak hanya lautan dan kehidupan laut kita yang sangat terpengaruh oleh polusi plastik; tetapi penduduk lokal di Indonesia yang hidup berdampingan dengan polusi plastik,” katanya.

Selain sampah plastik, Maya juga menyinggung bahaya lainnya yang mengancam rantai makanan secara global. Menurutnya, para peneliti sudah meneliti masalah kesehatan dan lingkungan yang terkait dengan merebaknya sampah plastik. Terutama bagaimana sampah plastik saat ini telah berubah bentuk menjadi partikel nano yang disebut dengan microplastik dan memasuki rantai makanan global, bersama dengan bahan kimia pengganggu endokrin (EDC) yang digunakan sebagai aditif untuk membuat plastik lebih lentur.

Desain Prototipe Rumah Sampah

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berlomba untuk meredam sampah plastik. Berbagai ide dan inovasi terus dilakukan, seperti yang dilakukan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang menelurkan ide membuat prototipe rumah sampah akibat lonjakan sampah di masa pandemi.

Mereka adalah mahasiswa arsitektur Unpar yang terdiri dari Michael Steven Nugroho, Eistein Benedito, Ravi Kukuh Hendratno, dan Ganesha Adi Pratama. Ide mereka dilatarbelakangi dampak pandemi yang menimbulkan ‘sampah pandemi’ berupa masker sekali pakai, sampah-sampah plastik yang disebabkan oleh pengiriman makanan dan barang dari pembelian online, serta sampah-sampah lain yang susah atau lama untuk diurai. 

Maka dari itu, mereka mengubah sampah seperti masker sekali pakai menjadi batu bata, kotak makanan plastik menjadi instalasi nako dan pot tanaman, serta botol plastik diubah menjadi dinding translusen, dan lain-lain.

Pemikiran rumah sampah ini mengantarkan mahasiswa angkatan 2018 tersebut meraih juara dua dalam ajang Archinesia Student Design Competition 2022 pada Sabtu, (29/1/2022), yang diselenggarakan oleh salah satu media arsitektur terkemuka di Indonesia yaitu Architecture Network in Southeast Asia.

Sayembara desain ini diselenggarakan secara nasional yang dapat diikuti oleh mahasiswa D3, S1, S2, S3, maupun PPAr (Program Pendidikan Profesi Arsitek) sebagai tantangan mahasiswa untuk memikirkan apa saja yang telah berubah setelah pandemi ini yang berdampak dalam konteks arsitektur hunian dan diimplementasikan dengan menerapkan perubahan-perubahan pada lahan yang berukuran 100 meter persegi.

Michael, sebagai perwakilan kelompok tersebut menuturkan bahwa timnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk dapat mendapatkan juara pada ajang tersebut.

“Walau dengan waktu 11 hari desain, jujur kami cukup percaya diri dengan hasil rancangan kami, walau gagal menjadi juara 1, kami cukup puas dan bangga akan hasil kami karena kami sudah memberikan ide-ide dan gagasan terbaik dari kami. Untuk itu, menjadi ambisi kami untuk tidak menyerah dan terus memenangkan lomba-lomba yang lebih besar lagi,” tuturnya.

Lewat desain timnya tersebut, dia berharap dapat menyadarkan masyarakat luas akan sampah dan arsitektur sebagai pemecah suatu masalah.

“Saya berharap ide sampah ini benar-benar bisa diusahakan, mendengar bahwa di Indonesia juga sudah mulai membuat batu bata menggunakan bahan daur ulang, sehingga  membuat saya percaya bahwa arsitektur dapat dilihat menjadi solusi atas masalah yang lebih besar dan tidak terbatas oleh keinginan dan ego client atau arsitek itu sendiri,” katanya.

Editor: Redaksi

COMMENTS