• Kolom
  • BIOGRAFI ANDRIES DE WILDE #13: Adik-Kakak De Wilde dalam Catatan Harian Payen, 1818-1819

BIOGRAFI ANDRIES DE WILDE #13: Adik-Kakak De Wilde dalam Catatan Harian Payen, 1818-1819

Auguste Antoine Joseph Payen, pelukis Kerajaan Belanda, datang ke Priangan. Catatan rekan Raden Saleh ini mengungkap keluarga Andries de Wilde.

Atep Kurnia

Peminat literasi dan budaya Sunda

Lukisan Auguste Antoine Joseph Payen (1792-1853). (Sumber: Scalliet, 1995)

4 Juni 2022


BandungBergerak.id“Negeri-negeri hingga Bayabang dibudidayakan dengan baik, tapi terasa menjemukan. Pepohonan indah dan pemandangan air pada tempat terakhir layak dibuat gambar. Bayabang berjarak 30 mil dari Cianjur pada Sungai Citarum, yang sangat besar dan mulai dapat dilalui perahu. Kotanya sebagian ada di tepi sungai yang satu dan ada di tepi lainnya. Di bagian Cianjur disebut Bayabang Cikalong dan sisi lainnya Bayabang Bandung, distrik batasnya. Sungai Citarum bersumber pada rangkaian Gunung Papandayan yang kawahnya mengeluarkan demikian banyak belerang. Muaranya di Karawang.”

Demikian yang ditulis Auguste Antoine Joseph Payen Payen (1792-1853), dalam catatan hariannya, saat melewati Cianjur, Bayabang, Cikalong, Gunung Simpang, hingga Bandung pada 26 Oktober 1818. Setelah melanjutkan perjalanan, ia sempat berhenti di pos lalu turun hujan. Pukul 13.00, Payen tiba di puncak Simpang dan hujan masih mengucur deras. Katanya, “Profesor berujar ada lumbung yang bisa dijadikan tempat makan siang yang dibawanya ke sana;  pelipur bagi orang lapar”.

Payen tentu saja merujuk kepada pelukis raja Belanda di Hindia dan nantinya menjadi guru menggambar Raden Saleh. Ia diangkat menjadi pelukis resmi Kerajaan Belanda pada 19 Mei 1816 dan tiba di Batavia pada 7 September 1817. Tugasnya antara lain menemani perlawatan ilmiah “profesor” yang dimaksudkan dalam catatannya, yaitu C.G.C. Reinwardt (1773-1854).

Reinwardt yang sejak 9 Juli 1810 sebagai guru besar kimia, farmasi, dan ilmu alam di Athenaeum Illustre, diangkat menjadi Direktur Pertanian, Ilmu Pengetahuan dan Seni Hindia Belanda pada 23 Oktober 1816. Pengangkatannya bermula dari niat Raja Belanda Willem I untuk memperkenalkan peradaban barat ke Hindia. Oleh karena itu, sejak 1814, Willem melalui Menteri Dalam Negeri A.R. Falck menawari Reinwardt untuk pergi ke Hindia.

Tugas resmi Reinwardt yang ternyata berkaitan dengan perdagangan, pertanian, geologi dan mineralogi, pendidikan, kesehatan, etnografi, dan teknologi baru turun pada 15 Januari 1815. Demi keperluan itu, Reinwardt membentuk tim yang terdiri atas A.J. Bik (ilustrator), Willem Kent (ahli kebun raya Harderwijk), dan nantinya ditambah J.Th. Bik (adik A.J. Bik) dan Payen. Rombongan Reinwardt berangkat dari Belanda pada 29 Oktober 1815 dan tiba di Batavia pada 23 Oktober 1816.

Payen yang datang belakangan bertemu dengan tim Reinwardt setelah 7 September 1817. Mula-mula ia memenuhi undangan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen dan sementara menetap di Istana Bogor, seraya berkoordinasi dengan Reinwardt sebagai pimpinan program muhibah telaah raja Belanda di Hindia.

Latar belakang perjalanan Cianjur-Bandung, pada kutipan di atas, adalah letusan Gunung Guntur pada 23 Oktober 1818. Reinwardt yang penasaran dan hendak mengetahui letusan gunung api itu pada jarak yang sangat dekat mengajak timnya melawat ke Garut. Mereka mulai berangkat pada 25 Oktober 1818 atau sehari sebelum Payen mencatatnya. Saya sendiri mengikuti perjalanan rombongan Reinwardt dari buku Antoine Payen: Peintre des Indes Orientales: Vies et Ecrits d'un Artiste du XIxe Siecle, 1792-1853 (1995), suntingan Marie-Odette Scalliet.

Baca Juga: BIOGRAFI ANDRIES DE WILDE #10: Menjadi Orang Sukabumi
BIOGRAFI ANDRIES DE WILDE #11: Pengawas Vaksinasi Cacar di Priangan
BIOGRAFI ANDRIES DE WILDE #12: Kunjungan Joseph Arnold ke Soca Boomee dan Bandong

Lukisan persawahan di kaki Gunung Salak karya Christoffel Steitz de Wilde sekitar 1818-1819. (Sumber: Scalliet, 2003)
Lukisan persawahan di kaki Gunung Salak karya Christoffel Steitz de Wilde sekitar 1818-1819. (Sumber: Scalliet, 2003)

Adik-Adik Andries de Wilde

“Saya bernafas, di sinilah kami tiba di Bandung, puji Tuhan, dan Tuan Steitz de Wilde sudah ada di hadapan meja yang sudah tertata dengan baik. Peti-peti dan barang-barang milik kami basah kuyup ...” (Scalliet, 1995: 267).

Demikian lanjutan catatan Payen pada 26 Oktober 1818. Dari kutipan itu nama Steitz de Wilde disebut-sebut. Tentu anggota keluarga De Wilde itu merujuk kepada Christoffel de Wilde atau Christoffel Steitz de Wilde (1784-1860), adik kandung satu-satunya Andries de Wilde. Dari rekaman The Java Annual Directory and Almanac for 1816 dan Koninklijke Almanak voor den jare 1820, saya tahu bahwa antara 1816-1820, C. Steitz de Wilde bekerja sebagai “Coffee Overseer in District of Bandong” atau “Opziener der Koffij Kulture te Bandong”.

Dengan demikian, saudara kandung Andries itu menjadi tuan rumah bagi rombongan Reinwardt yang hendak melawat ke Garut. Dari catatan harian Payen beberapa bulan sebelumnya, saya tahu ia bahkan menyediakan informasi geografis mengenai Bandung dan dari catatan harian berikutnya saya juga jadi tahu pentingnya perjalanan tim Reinwardt bagi Christoffel Steitz de Wilde.

Dalam catatan “13 juillet [domaine de Sadang-riviere Cianten]”, Payen antara lain menulis “Tjisondari [Cisondari], Le Tjiwiduy [Ciwidey] a Parong Sirap [Parung Serab], Vue de la vallee Tjisondari du cam. [kampung] Toekan Awer [Cukanghaur], Baguarang [Banjaran], Tjilaloetoet [Cilalulut] a l’est de Baguarang [Banjaran], Cascade Tjigoeroe [Cigeureu] dans le Malabar, Leles, Cascade dans le Mandalawangi” yang bersumber dari Christoffel (Scalliet, 1995: 259).

Kembali ke Payen yang hendak ke Garut. Dalam catatan 27 Oktober 1818, ia menulis pada pukul 06.00, Christoffel mengantarkan rombongan beserta muatan ke Pos Cinunuk, tempat tersedianya kuda yang membawa mereka melintasi pedataran perkebunan dari Bandung ke Cicalengka. Mereka tiba di Cicalengka pada pukul 11.00 dan memutuskan untuk menginap di sana (Scalliet, 1995: 267-268).

Esok harinya, 28 Oktober 1818, setelah tiba di Tarogong, Payen kembali terkait adik Andries de Wilde lainnya, yaitu Johan Frederik Lodewijk Steitz (1793-1866). Lodewijk atau Louis Steitz tiba di Pulau Jawa pada 1816. Sejak 1817, dia menjadi administratur lahan Ujungberung yang dimiliki oleh kakaknya, Andries.

Kata Payen, “Ketika sore kami berjalan-jalan menuju kaki gunung (Guntur). Di datarannya ada beberapa danau kecil; yaitu Cipanas yang terlintasi aliran yang sumbernya berasal dari nama Cipanas, yang memang sangat panas, di gunung itu. Panasnya air masih nyata di dekat Tarogong. Seluruh daerah, kecuali gundukan yang sudah saya bicarakan, sangat berawa-rawa ...” Setelah jalan-jalan, Payen “kembali ke rumah tempat Tuan Louis de Wilde telah tinggal dalam waktu yang lama” (Scalliet, 1995: 269).

Rupanya saat itu Andries de Wilde juga ada di Tarogong. Karena pada 30 Oktober 1818, Payen melaporkan kemarin pagi pukul 09.00 dia melihat Lodewijk Steitz lewat ke dekat tempatnya menginap. Dia akan pergi ke Garut, ditemani Andries de Wilde. Lalu 31 Oktober 1818, Payen mengatakan adik-kakak De Wilde telah kembali saat sore ditemani Pengawas Budidaya Kopi (inspecteur des plantations de cafe) Lunel, yang mendesak rombongan untuk mengunjungi Talaga Bodas (Lac Blanc) (Scalliet, 1995: 271).

Beberapa hari kemudian, Christoffel menyusul dari Bandung ke Garut. Dalam catatan 4 November 1818, Payen menyatakan Christoffel tiba dari Bandung dan sorenya mereka pergi ke Garut. Mereka tidur di rumah Pengawas Lunel. Payen juga membuat pernyataan menarik tentang kancing-kancing sangat indah dari gigi badak yang menurutnya sangat umum dibuat di daerah itu, demikian pula dengan harimau yang kerap menerkam manusia (Scalliet, 1995: 272).

“Profesor mengatur banyak tanaman dan benih yang dikumpulkannya. Selama itu, saya menulis catatan harian ini seraya minum sopi bersama Tuan Steits de Wilde dan bangkitnya selera menyebabkanku menutup buku dan menyiapkan makan malam. Kami baru saja merasakan gempa bumi sangat kuat; lebih lama dari gempa tanggal 2 Oktober, tetapi gerakannya tak begitu mencolok,” (Scalliet, 1995: 275) ujar Payen dalam catatan 8 November 1818, menjelang akhir kunjungannya di Garut.

Rombongan Reinwardt menuju Bandung pada 9 November 1818. Mereka melalui Leles, Cicalengka, Cinunuk, dan Bandung. Di dekat Gunung Kaledong, Payen mengambil bongkahan batu obsidian, lalu saat memasuki pedataran kecil, mereka harus waspada terhadap serangan seekor harimau yang sebelumnya menerkam seorang pribumi hingga bagian tubuhnya tercecer. Tahun lalu, konon, di kampung baru ada 15 orang yang diterkam harimau dalam sebulan.

Rombongan tiba di Bandung pada pukul 13.00 dan menginap di rumah Christoffel Steitz de Wilde. Setelah makan malam, kata Payen, Christoffel “menunjukkanku banyak gambar karya Schnebbely, pelukis yang meninggal belum lama di sini (Bandung). Ada beberapa yang sangat menarik, terutama seri pemandangan jalan Simplon. Mudah saja mengikuti kemajuan sang seniman dari pelbagai potongan gambarnya. Dia pasti bekerja sangat keras. Sayangnya koleksi gambar yang menceritakan kisah perjalanannya di Jerman, Italia, Inggris, Belanda dan Jawa tercecer di antara kawan-kawannya. Konon kematiannya akibat kelelahan. Dia juga meninggalkan koleksi serangga yang sangat bagus”.

Selain karya Schnebbely, Payen melihat-lihat koleksi gambar karya Christoffel. Katanya, “Sisa hari itu saya melihat-lihat koleksi gambar tuan rumah. Saya terkejut mendapati hal-hal luar biasa di sana, sejumlah gambar karya maestro dan di atas itu semua satu koleksi studi batang-batang pohon dengan menggunakan kapur hitam. Saya mengakui bahwa saya belum pernah melihat sesuatu yang lebih sempurna daripada beberapa studi gambar itu” (Scalliet, 1995: 275-276).

Pernyataan Payen tentang minat Christoffel terhadap dunia seni rupa itu dapat menjelaskan keberadaan 23 gambar dan tiga cat minyak koleksi Leiden University Library, dengan kode Or. 26.236. Koleksi tersebut adalah hibah dari H.G. de Cock of Voorburg pada 23 November 2002. Sebagaimana yang saya baca uraiannya dari collectionguides.universiteitleiden.nl, Christoffel menggambarnya antara 1818 hingga 1819.

Di antaranya pemandangan lembah di Distrik Cisondari (20 Agustus 1818), Sungai Cikapundung, Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu (20 September 1818), Gunung Burangrang dari Kampung Cicendo (25 Oktober 1818), air di Cipasawahan di kaki Gunung Guntur (5 Februari 1819), Gunung Papandayan (27 April 1819), Gunung Cikuray (5 Agustus 1819), Monteng di Distrik Majalaya (27 Agustus 1819), dan pos perhentian kuda di Gununghalu (11 Oktober 1819). Sementara ketiga lukisannya menggambarkan kawah gunung api, lanskap puncak bukit, dan Talagabodas dari sebelah selatan.

Lalu apa hubungannya dengan perjalanan Reinwardt dan Payen? Saya mendapatkan jawabannya dari tulisan Scalliet yang lain (“Javaanse taferelen, een aanwinst van de Oosterse Collecties” dalam Omslag 2003/2: Bulletin van de Universiteitsbibliotheek Leiden, 2003: 3). Kata Scalliet, “In juli 1818 logeerde prof. G.C.C. Reinwardt (1773-1854) bij hem” (Pada Juli 1818 Prof. G.C.C. Reinwardt [1773-1854] tinggal bersamanya [Christoffel di Bandung]). Dengan demikian, kunjungan Reinwardt ke Bandung pada Juli 1818 dapat dibilang pendahuluan untuk memuluskan perjalanan rombongannya ke Gunung Guntur tiga bulan kemudian, Oktober 1818. Saat itu, Payen mulai berkomunikasi, bahkan bisa jadi bertemu, dengan Christoffel.

Yang terang, dalam catatan Payen tanggal 10 November 1818, rombongan Reinwardt berpamitan dan berterima kasih kepada Christoffel, yang kemudian bersedia mengantar rombongan itu hingga ke Simpang (Scalliet, 1995: 276).

Gambar rumah bambu petani Sunda karya Christoffel Steitz de Wilde. (Sumber: Scalliet, 2003)
Gambar rumah bambu petani Sunda karya Christoffel Steitz de Wilde. (Sumber: Scalliet, 2003)

Menggambar Bersama

Maret 1819, Payen menulis surat kepada kekasihnya di Eropa tentang rencana Reinwardt untuk mengadakan perlawatan ke Priangan. Persiapan rombongan mulai dilakukan pada 19 Maret 1819. Selama delapan bulan mereka menelusuri Sukabumi, Bandung dan Tasikmalaya. Payen mencatat perjalanan itu dalam buku hariannya yang diberi tajuk Voyage dans le Priangan en 1819.

Perjalanan mereka ke Sukabumi hingga Garut ternyata tidak terlepas dari perhatian kakak-adik De Wilde. Saat tiba di Cihideung-Cicurug, pada 9 April 1819, Payen mencatat adanya undangan dari Andries de Wilde. Katanya, “Demikianlah sore berlalu. Sepucuk surat tiba dari Tuan De Wilde yang mengundang profesor untuk segera berkunjung ke Sukabumi. Kereta kudanya akan menunggu [profesor] di Ciheulang” (Scalliet, 1995: 285).

Pada praktiknya, Payen melaporkan kunjungan rombongannya ke rumah Andries pada 11 April 1819. Katanya, pada pukul 03.00 mereka berangkat dari Ciheulang dan tiba di rumah Andries pada pukul 09.00. Dalam perjalanan ke situ, di tempat yang menjadi batas Sungai Cibodas, dia melihat jejak-jejak segar seekor harimau yang tubuhnya sangat besar. Rombongan lalu mendaki perbukitan Pasir Ciheulang, melewati Cikelewih dan melintasi Sungai Ciheulang.

Bagaimana kesan-kesan Payen mengenai kehidupan Andries de Wilde di Sukabumi? Dalam catatannya tanggal 12 April 1819 di Sukabumi, Payen menulis bahwa “Bagian dalam rumah bersih seperti di Belanda, tapi pemasangan furnitur yang ganjil dari berabad-abad menyatakan kurangnya cita rasa pemiliknya yang perhatiannya tersita untuk meningkatkan lahan besar milikinya. Jalanan terawat sangat sempurna, jembatan-jembatan dibangun seperti di Belanda ... Akhirnya, saya tidak dapat cukup memuji cara lahan-lahannya diatur. Saya makan roti dari gandum yang tumbuh di lahan itu. Mereka juga membuat minuman keras yang bagus ...” (Scalliet, 1995: 286). Lalu di Cipaku pada 21 April 1819, Andries menghadiahi rombongan Reinwardt dengan minuman keras dan lemon (Scalliet, 1995: 292).

Saat sudah memasuki wilayah Bandung, Payen menghubungi Christoffel Steitz de Wilde. Pada 1 Juni 1819, saat di Cipatik, Payen sedang sibuk melukis. Dia mulai melukis Curug Lanang dan membutuhkan cat minyak, sehingga menyuruh seseorang untuk memintanya kepada Christoffel di Bandung. Sayang saat itu Christoffel tidak ada di rumah. Akhirnya, Payen berencana memintanya kepada Jean Bik yang berada di Ciwidey (Scalliet, 1995: 308).

Bahkan mereka berdua, Payen dan Christoffel, menggambar bersama. Tanggal 19 Juni 1819, saat cuaca sangat mendung, dari Cipatat Payen menunggang kuda ke Bandung untuk menemui Christoffel. Dari Bandung mereka berdua kembali ke Cipatat untuk mengunjungi air terjun. Malamnya, Christoffel menginap di Leuwi Gajah, karena berencana menggambar bersama. Esoknya, mereka berdua menggambar hingga pukul 11.00. Lalu Christoffel kembali ke Bandung dan Payen menduganya akan menemaninya lagi saat pergi ke Ciwidey (Scalliet, 1995: 315).

Dalam kerangka mengikuti perjalanan Payen atau tidak, yang jelas, Christoffel tiba di Tarogong pada 27 Agustus 1819. Dalam catatan Payen antara Lompong-Situ Bagendit-Lompong tanggal 28 Agustus 1819, dia mengatakan lupa menulis bahwa Christoffel Steitz de Wilde sudah tiba di Tarogong sejak kemarin (Scalliet, 1995: 343). Esoknya, barulah Payen menemui Christoffel di Tarogong. Christoffel mengatakan badak kedua telah ditembak di sekitar Kampung Cisurupan dan sedang menunggu jawaban dari C.G.C. Reinwardt. Akhirnya, Payen dan Christoffel menggambar bersama. Payen menyelesaikan sketsa Danau Taman (Scalliet, 1995: 343).

Peristiwa kunjungan Christoffel itu, saya pikir, dapat menerangkan gambar yang dibuatnya dengan tajuk “District Madjalaya. Regentschap Bandong. Gezigt op weg van Madjalaya over de Monting. 27 Augustus 1819. Eyland Java. 1. Goenoeng Pamumpuk. 2. Singar. 3. Rakoetak” dalam koleksi berkode Or. 26.236. Gambar tersebut kemungkinan besar dibuat Christoffel dalam perjalanannya ke Tarogong melalui jalan selatan, yaitu Majalaya.

Satu lagi, titik temu Payen dengan adik-kakak De Wilde adalah catatannya tanggal 31 Agustus 1819. Dalam catatan yang diberi titimangsa Lompong-Tarogong-Lompong itu, Payen menyatakan telah mengunjungi Tumenggung yang pada gilirannya menunjukkan kepadanya sepucuk senapan bagus sebagai hadiah dari Andries de Wilde. Kata Payen, ia melihat senapan tersebut sebelumnya diterima Andries dari Mayor R. van der Capellen (Scalliet, 1995: 344).

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS